Tradisi Syuran Jadi Magnet Wisata, Desa Dukuh Kediri Luncurkan Kampung Katresnan

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Malam di Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, berubah menjadi panggung kebersamaan yang sarat makna. Di bawah langit bulan Suro, puluhan tumpeng berbaris rapi diarak menyusuri jalan desa, menjadi simbol rasa syukur sekaligus harapan akan masa depan yang semakin sejahtera.

Sebanyak 45 tumpeng diarak dalam Festival Budaya Syuran yang digelar pada Kamis malam (16/7). Tradisi tahunan tersebut tidak hanya menjadi ungkapan syukur masyarakat atas limpahan rezeki, tetapi juga dimanfaatkan sebagai momentum memperkenalkan destinasi wisata baru bertajuk Kampung Katresnan.

Kirab dimulai dari Balai Desa Dukuh menuju Lapangan Mandala Jaya Sakti. Ratusan warga memadati sepanjang rute arak-arakan, mengiringi tumpeng hingga mengikuti doa bersama yang kemudian dilanjutkan dengan tradisi makan bersama dalam Festival Takir Plontang. Kegiatan itu melibatkan perwakilan RT, Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Kepala Desa Dukuh, Junaidi Setiawan, mengatakan Festival Budaya Syuran telah menjadi agenda rutin selama tiga tahun terakhir sebagai bagian dari tradisi bersih desa.

“Alhamdulillah kegiatan ini rutin kami laksanakan selama tiga tahun sebagai bentuk bersih desa. Semoga mampu mempererat kerukunan masyarakat Desa Dukuh dalam bersama-sama membangun desa,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Festival Budaya Syuran, Manon Kusiroto, menjelaskan rangkaian Grebeg Suro sebenarnya telah dimulai sepekan sebelumnya melalui tradisi nyadran. Momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk menetapkan makam para lurah dan tokoh desa terdahulu sebagai cagar budaya.

Menurutnya, situs-situs tersebut nantinya akan dilengkapi prasasti dan dipetakan melalui Google Maps agar lebih mudah dikenali, terutama oleh generasi muda.

“Desa Dukuh kini telah ditetapkan sebagai desa wisata. Karena itu puncak perayaan Syuran kami kemas dalam bentuk festival budaya yang menghadirkan kirab tumpeng, Festival Takir Plontang, pertunjukan seni, hingga pagelaran wayang kulit,” kata Manon.

Festival tahun ini juga menjadi tonggak peluncuran Kampung Katresnan, destinasi wisata yang sedang dikembangkan di Dusun Ngadirejo. Kawasan tersebut dirancang sebagai kawasan wisata tematik yang akan dilengkapi monumen, museum, sentra kuliner, pusat oleh-oleh, serta area parkir.

Nama Kampung Katresnan dipilih karena terinspirasi dari keunikan sosial masyarakat setempat. Berdasarkan pendataan kependudukan desa, lebih dari separuh kepala keluarga di kawasan itu menikah dengan pasangan yang berasal dari lingkungan sekitar, mulai dari satu RT, dua RT, hingga satu dusun.

“Keunikan tersebut kami jadikan identitas wisata desa. Setelah melalui diskusi bersama Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan, serta tokoh masyarakat, tahun ini Kampung Katresnan mulai kami perkenalkan kepada publik,” jelasnya.

Selain kirab budaya, Festival Budaya Syuran juga dimeriahkan penampilan tari dari berbagai sanggar seni desa serta pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Agus “Gaplek” Santoso, yang juga merupakan perangkat Desa Dukuh.

Melalui festival ini, Pemerintah Desa Dukuh berharap tradisi bersih desa tetap lestari sebagai warisan budaya yang mampu mempererat kebersamaan masyarakat. Di saat yang sama, pengembangan Kampung Katresnan diharapkan menjadi magnet baru bagi sektor pariwisata Kabupaten Kediri sekaligus membuka peluang tumbuhnya ekonomi masyarakat setempat.

 

jurnalis : Sigit Cahya Setyawan

✓ Link berhasil disalin