KEDIRI – Deru mesin yang menggema dari Simpang Lima Gumul (SLG) menuju lereng Gunung Kelud, Sabtu (18/7), bukanlah pertanda aksi kebut-kebutan di jalan raya. Sebaliknya, iring-iringan sekitar 130 pengendara Kawasaki Ninja justru membawa pesan yang berbeda: kecepatan harus memiliki ruang yang tepat, sementara keselamatan harus menjadi budaya di setiap perjalanan.
Melalui kegiatan Kelud Breeeng, komunitas Ninja Ag City Kelas Malam berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap komunitas motor sport yang selama ini kerap dilekatkan dengan citra negatif.
Ketua Panitia Koordinasi Acara, Ogik Ariwibowo, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai sarana edukasi bagi para pecinta roda dua agar menyalurkan hobi berkendara di tempat yang aman dan sesuai aturan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa komunitas motor, khususnya pengguna Ninja, tidak identik dengan perilaku ugal-ugalan di jalan. Hobi tetap bisa disalurkan dengan tertib dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Seluruh peserta memulai perjalanan dari kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) menuju Sirkuit Kelud di kawasan wisata Gunung Kelud. Selama konvoi berlangsung, rombongan mendapat pengawalan petugas sehingga perjalanan berlangsung tertib dengan tetap mematuhi seluruh peraturan lalu lintas.
Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari wilayah Karesidenan Kediri. Sejumlah komunitas dari Kota Batu hingga Bali turut ambil bagian, menambah semarak kegiatan yang juga menjadi ajang silaturahmi antarpecinta otomotif.
Sebelum diberangkatkan, panitia mewajibkan seluruh rider menggunakan perlengkapan safety riding, mulai dari helm hingga kelengkapan berkendara lainnya. Edukasi keselamatan tersebut juga disosialisasikan melalui berbagai platform media sosial sebagai bagian dari kampanye berkendara yang bertanggung jawab.
Bagi panitia, perjalanan menuju Kelud bukan sekadar touring. Setiap kilometer yang dilalui menjadi simbol bahwa komunitas motor dapat menjadi teladan dalam berlalu lintas, bukan sumber keresahan di jalan.
Sesampainya di lokasi, sekitar 100 rider memperoleh kesempatan menjajal lintasan Sirkuit Kelud. Pengalaman tersebut sekaligus memperkenalkan fasilitas drag resmi yang tersedia di kawasan wisata tersebut sebagai tempat menyalurkan hobi otomotif secara legal, aman, dan sesuai regulasi.
Ogik berharap Kelud Breeeng dapat berkembang menjadi agenda rutin setiap tahun. Evaluasi terhadap jumlah peserta, konsep kegiatan, hingga masukan dari berbagai komunitas akan menjadi bekal untuk menghadirkan penyelenggaraan yang lebih baik pada masa mendatang.
“Di jalan raya, keselamatan adalah kehormatan. Di sirkuit, kecepatan menemukan panggungnya. Kelud Breeeng mencoba mengingatkan bahwa keduanya tidak pernah seharusnya dipertukarkan.”
Jurnalis: Navima Aulya Sava



