KEDIRI – Di tengah derasnya arus persaingan dunia kerja, keterampilan bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan jembatan menuju masa depan. Dari ruang-ruang pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) Bogo, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, harapan baru mulai dirajut melalui Program Pelatihan Kerja Berbasis Kompetensi (PBK) 2026 yang digelar secara gratis bagi masyarakat.
Program yang digagas Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) itu menjadi salah satu strategi meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus menekan angka pengangguran. Beragam pelatihan disusun berdasarkan kebutuhan industri sehingga peserta tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk memasuki dunia kerja.
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana atau Mas Dhito meninjau langsung pelaksanaan pelatihan di BLK Bogo pada Jumat (27/7). Dalam kunjungannya, ia menyambangi setiap ruang pelatihan, berdialog dengan peserta dan instruktur, serta memastikan proses pembelajaran berlangsung optimal.
Menurut Mas Dhito, pelatihan tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja, termasuk peluang bekerja di luar negeri yang terus terbuka, salah satunya di Jepang.
“Jepang membutuhkan tenaga kerja dari Indonesia. Karena itu kita mempersiapkan anak-anak Kabupaten Kediri agar memiliki keterampilan yang dibutuhkan melalui pelatihan seperti barista, barber, las, make up artist, administrasi perkantoran, hingga teknik lainnya,” ujar Mas Dhito.
Program PBK menyediakan beberapa pilihan durasi pelatihan, mulai dari 120 Jam Pelajaran (JP) atau sekitar 15 hari hingga 240 JP atau sekitar 30 hari yang dilanjutkan dengan magang selama dua bulan. Selain itu, terdapat sejumlah pelatihan lain dengan durasi yang disesuaikan dengan jenis kompetensi.
Bagi Mas Dhito, keberhasilan program tidak semata diukur dari jumlah peserta yang menyelesaikan pelatihan. Yang lebih penting adalah bagaimana keterampilan tersebut benar-benar menjadi bekal untuk memperoleh pekerjaan atau membangun usaha secara mandiri.
“Yang paling penting setelah pelatihan adalah apakah mereka melanjutkan dan menggunakan ilmunya. Di situlah kata kuncinya,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kediri, Ibnu Imad, menjelaskan seluruh peserta akan memperoleh Sertifikat Kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Saat ini tersedia enam bidang pelatihan, yakni Digital Marketing, Make Up Artist (MUA), Teknik Las, Barbershop, Barista, dan Otomatisasi Tata Kelola Perkantoran (OTKP).
Khusus peserta pelatihan Barista dan MUA yang mengikuti program 240 JP, mereka dipastikan menjalani magang di perusahaan mitra sebagai bagian dari proses pembelajaran sekaligus membuka peluang direkrut setelah masa magang berakhir.
“Harapannya saat magang mereka bisa menunjukkan kemampuan, soft skill, dan attitude sehingga setelah selesai dapat langsung diterima bekerja,” kata Ibnu.
Selain memperkuat kompetensi kerja di dalam negeri, Disnaker Kabupaten Kediri juga mempersiapkan calon tenaga kerja untuk pasar internasional melalui kelas bahasa Jepang. Program tersebut menjadi bagian dari rekrutmen magang ke Jepang melalui IM Japan. Saat ini satu kelas telah berjalan dengan 20 peserta, sementara proses seleksi pemagangan dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang.
Semangat mengikuti pelatihan juga dirasakan Mira, warga Kecamatan Banyakan, yang memilih kelas Barista. Baginya, program ini menjadi kesempatan untuk membuka lembaran baru di dunia kerja.
“Aku ingin menambah pengalaman karena memang tertarik di bidang barista. Semoga setelah pelatihan ini bisa bekerja di industri food and beverage,” ujarnya.
Meski baru menjalani hari pertama pelatihan dan belum pernah mengikuti kelas serupa sebelumnya, Mira optimistis keterampilan yang diperolehnya akan menjadi pijakan awal untuk meraih cita-cita.
Program PBK 2026 menjadi gambaran bahwa investasi terbesar sebuah daerah bukan hanya pembangunan fisik, melainkan membangun manusia. Sebab ketika keterampilan bertemu dengan kesempatan, harapan bukan lagi sekadar mimpi, melainkan masa depan yang perlahan menjadi kenyataan.
jurnalis : Yulita Dyah Kusumasari



