KEDIRI – Hamparan seragam Pramuka yang memenuhi Stadion Brawijaya, Kota Kediri, Jumat (17/7), menjadi pemandangan yang tak sekadar memukau mata. Di balik lautan manusia itu, tersimpan tekad besar untuk menanam harapan baru: membangun ketahanan pangan sejak dari bangku sekolah demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Ribuan anggota Pramuka mengikuti Apel Akbar Pramuka Penggerak Ketahanan Pangan bertema “Benteng Ketahanan Pangan Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kediri bersama Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Kediri.
Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai, Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Kediri Edy Herwiyanto, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kediri Adi Prayitno, serta jajaran kepala sekolah.
Semangat kepramukaan berpadu dengan nuansa budaya sejak awal acara. Penampilan jaranan dari SMKN 1 Kediri, atraksi drum band Taruna SMAN 5 Kediri, hingga parade kontingen Jambore Nasional 2025 mengawali rangkaian kegiatan sebelum dilanjutkan pembacaan ikrar dan penyerahan bibit tanaman sebagai simbol dimulainya Gerakan Pramuka Produktif Ketahanan Pangan.
Dalam amanatnya, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menegaskan bahwa Gerakan Pramuka harus mampu menjawab tantangan zaman. Menurutnya, ancaman perubahan iklim, menyusutnya lahan pertanian, hingga meningkatnya kebutuhan pangan menuntut generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku perubahan.
“Pramuka harus hadir menjawab tantangan zaman, salah satunya tantangan ketahanan pangan,” ujar Vinanda.
Ia mendorong setiap sekolah memanfaatkan lahan yang dimiliki menjadi kawasan produktif, mulai dari kebun sayur, tanaman buah, hingga budidaya ikan. Pemanfaatan teknologi pertanian seperti hidroponik, vertikultur, dan smart farming juga dinilai penting untuk dikenalkan kepada para pelajar.
Menurut Vinanda, gerakan tersebut tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial semata. Ia berharap budaya menanam dan merawat lingkungan tumbuh menjadi kebiasaan yang mengakar di setiap gugus depan Pramuka.
Selain itu, anggota Pramuka juga didorong menjadi teladan melalui sikap disiplin, mandiri, serta memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Komitmen tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai menilai pendidikan ketahanan pangan perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda tetap memahami identitas Indonesia sebagai negara agraris.
“Semua itu harus diawali dari generasi muda yang tangguh dan memahami pentingnya ketahanan pangan,” kata Aries.
Ia menjelaskan bahwa pembelajaran ketahanan pangan di sekolah bukan semata mengejar hasil panen. Proses belajar mulai dari menanam, merawat, hingga menyaksikan tanaman tumbuh justru menjadi pengalaman yang membangun karakter peserta didik melalui pendekatan deep learning.
“Yang lebih penting adalah prosesnya, mulai dari menanam, merawat, hingga tanaman tumbuh dan berkembang,” ujarnya.
Melalui pengalaman tersebut, siswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab, kemandirian, serta kecintaan terhadap dunia pertanian.
Apel Akbar Pramuka Penggerak Ketahanan Pangan 2026 ditutup dengan kunjungan ke stan-stan Saka yang menampilkan berbagai program kepramukaan. Suasana semakin semarak dengan penampilan penyanyi Niken Salindri yang menghibur ribuan peserta sekaligus menjadi penutup rangkaian kegiatan.
Di Stadion Brawijaya hari itu, yang ditanam bukan sekadar bibit di dalam tanah. Lebih dari itu, harapan sedang disemai di hati generasi muda—bahwa masa depan ketahanan pangan Indonesia dapat tumbuh dari langkah-langkah kecil yang dimulai hari ini.
jurnalis : Anisa Fadila



