KEDIRI – Pelukan hangat keluarga menjadi penutup perjalanan panjang 450 prajurit Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI–Papua Nugini Kewilayahan Yonif Mekanis 521 / Dadaha Yudha. Setelah lebih dari satu tahun mengemban tugas di Papua, seluruh personel akhirnya kembali ke markas dalam formasi lengkap. Di balik kepulangan itu, tersimpan kisah tentang keberanian menghadapi ancaman kelompok bersenjata, perjuangan melawan malaria, hingga rindu yang lama dipendam demi menjaga kedaulatan negara.
Suasana haru menyelimuti upacara penyambutan di Markas Yonif Mekanis 521, Kota Kediri. Tangis bahagia pecah saat para prajurit kembali memeluk istri, anak, orang tua, dan keluarga yang selama lebih dari setahun hanya bisa menunggu dalam doa.
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, yang bertindak sebagai inspektur upacara, menyampaikan apresiasi atas dedikasi seluruh prajurit yang berhasil menuntaskan penugasan dan kembali dalam keadaan selamat.
“Di balik seragam yang dikenakan ada keberanian, ketulusan, dan pengorbanan yang tidak selalu dapat dilihat oleh masyarakat,” ujarnya.
Menurut Vinanda, 450 prajurit yang dikenal dengan sebutan Macan Kumbang itu telah menjalani penugasan sejak Juli 2025. Baginya, lebih dari setahun bertugas bukan sekadar rentang waktu, melainkan perjalanan panjang yang dipenuhi pengorbanan, mulai dari menahan rindu terhadap keluarga hingga menghadapi berbagai risiko demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia berharap pengalaman selama bertugas menjadi bekal berharga bagi seluruh prajurit dalam menjalankan tugas berikutnya.
“Kepulangan hari ini adalah awal untuk melanjutkan tugas dan tanggung jawab berikutnya dengan pengalaman, kematangan, dan semangat yang semakin kuat,” katanya.
Sementara itu, Komandan Macan Kumbang, Letkol Inf. Rahadyan Surya M., mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi pasukannya selama sekitar 13 bulan bertugas di wilayah Papua Pegunungan.
Salah satu momen paling berat terjadi ketika personelnya harus mengevakuasi pos TNI yang diserang pada sekitar Oktober 2025. Menurut Rahadyan, situasi saat itu dipicu oleh isu rasis yang kemudian dimanfaatkan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) melalui Komite Nasional Papua Barat (KNPB), sehingga berdampak pada keamanan warga pendatang maupun sejumlah pos TNI di wilayah penugasan.
Meski beberapa prajurit mengalami luka bakar dan cedera akibat ledakan, seluruh personel berhasil dievakuasi dan tidak ada korban jiwa.
Dari pengalaman tersebut, Rahadyan menegaskan bahwa ancaman terbesar bagi prajurit bukan hanya berasal dari kelompok bersenjata, tetapi juga dari kelengahan dalam menjalankan prosedur operasi.
“Kalau kita tidak disiplin, itu bisa mengancam keselamatan dan keamanan diri sendiri,” tegasnya.
Ia menjelaskan, rasa aman yang berlebihan dapat membuat prajurit mengabaikan prosedur yang telah ditetapkan. Kondisi tersebut berpotensi dimanfaatkan kelompok bersenjata untuk melancarkan serangan.
Selain ancaman keamanan, personel juga harus menghadapi risiko malaria yang cukup tinggi selama bertugas di wilayah endemis. Untuk mencegah penularan, seluruh prajurit diwajibkan mengonsumsi obat antimalaria setiap pekan sejak awal penugasan hingga menjelang kepulangan.
“Kami diberikan obat malaria yang wajib dikonsumsi setiap minggu sejak awal penugasan hingga menjelang kepulangan,” ujar Rahadyan.
Meski demikian, sekitar 50 prajurit sempat terpapar malaria. Seluruhnya berhasil pulih setelah menjalani perawatan rutin di bawah pengawasan tenaga medis yang mendampingi satuan selama bertugas. Setibanya di markas, seluruh personel kembali menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti program latihan sesuai kalender satuan.
Rahadyan menegaskan keberhasilan seluruh personel kembali dalam keadaan aman, sehat, dan lengkap tidak lepas dari doa serta dukungan keluarga yang terus mengiringi perjuangan mereka selama bertugas di perbatasan.
“Keluarga menjadi kekuatan yang menjaga semangat prajurit untuk menyelesaikan tugas negara,” ujarnya.
Pengorbanan itu juga dirasakan keluarga yang selama berbulan-bulan harus menjalani hari tanpa kehadiran suami. Ny. Lusi Adi, istri Kapten Inf. Adi Kurniawan, mengaku bangga meski harus menahan rindu selama suaminya menjalankan tugas di Papua.
“Rasanya tentu ada sedihnya, tapi juga ada bangganya,” tuturnya.
Menurut Lusi, sebagai anggota Persit, dirinya telah memahami konsekuensi mendampingi suami yang mengabdi sebagai prajurit TNI. Dukungan sesama anggota Persit dan komunikasi yang tetap terjalin menjadi penguat selama menjalani hubungan jarak jauh.
Seluruh penantian itu akhirnya terbayar ketika sang suami pulang dalam keadaan sehat bersama seluruh rekan satuannya.
Di penghujung upacara, pelukan dan tangis bahagia menjadi bahasa yang tak memerlukan kata-kata. Setelah lebih dari setahun menjaga batas negeri, para prajurit akhirnya kembali ke rumah, membawa pengalaman, pengorbanan, dan kehormatan yang akan selalu dikenang keluarga maupun bangsa.
jurnalis : Anisa Fadila



