KEDIRI – Di antara lantunan doa yang mengalun khidmat dan langkah-langkah yang mengarah ke Taman Makam Pahlawan, terselip pesan yang tak lekang oleh waktu: keberagaman akan tetap kokoh selama dirawat dengan rasa saling menghormati. Suasana itulah yang mewarnai Tasyakuran Wilujengan yang digelar Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Kota Kediri pada Rabu (15/7), bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Sekitar 50 peserta dari delapan paguyuban penghayat kepercayaan di Kota Kediri mengikuti kegiatan tersebut. Acara diawali dengan doa bersama dan selamatan sebagai ungkapan syukur, kemudian dilanjutkan tabur bunga atau nyekar di Taman Makam Pahlawan sebagai penghormatan kepada para pejuang yang telah mengabdikan hidupnya bagi bangsa.
Mewakili Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri, HM Bambang Priambodo, menegaskan bahwa penetapan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menjadi tonggak penting dalam perjalanan bangsa karena mencerminkan pengakuan negara terhadap keberadaan penghayat kepercayaan.
“Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa bukanlah agama baru ataupun agama ketujuh di Indonesia, melainkan sistem nilai dan ajaran leluhur yang telah hidup, tumbuh, dan berkembang di Nusantara jauh sebelum Indonesia merdeka,” ujar Bambang saat memberikan sambutan.
Menurutnya, kehadiran pemerintah dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen untuk terus membina sekaligus menjaga kerukunan di tengah keberagaman yang telah menjadi identitas masyarakat Kediri. Ia menyebut Kota Kediri selama ini dikenal sebagai daerah yang mampu merawat harmoni sosial, bahkan masuk dalam jajaran sepuluh kota paling toleran di Indonesia.
“Di Kota Kediri terdapat delapan paguyuban penghayat kepercayaan, sedangkan di Kabupaten Kediri ada 24 paguyuban yang aktif. Kita sudah terbiasa hidup berdampingan, saling menghormati, bergotong royong, dan itulah yang harus terus kita jaga,” katanya.
Sementara itu, Presidium MLKI Kota Kediri, Ratih Harinsari, menjelaskan bahwa tasyakuran tersebut merupakan wujud rasa syukur atas semakin kuatnya pengakuan negara terhadap hak-hak penghayat kepercayaan, mulai dari administrasi kependudukan, layanan pendidikan, hingga penetapan Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
“Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia hadir sebagai wadah yang menghimpun seluruh penghayat kepercayaan dengan tujuan memperkuat persatuan, mempererat kebersamaan, serta membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis,” tuturnya.
Ratih menambahkan, pelaksanaan tasyakuran pada 15 Juli dipilih karena masih berdekatan dengan peringatan Hari Kepercayaan setiap 13 Juli sekaligus bertepatan dengan penghujung Bulan Suro dalam penanggalan Jawa yang memiliki makna spiritual bagi sebagian masyarakat.
Senada, Presidium MLKI Kabupaten Kediri, Gunawan Ambar Adiroso, menilai kegiatan tersebut menjadi momentum mempererat persatuan antarpenghayat kepercayaan sekaligus memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa.
“Perkembangan komunitas penghayat di Kabupaten maupun Kota Kediri semakin merapatkan barisan. Kami terus memperkuat kebersamaan karena MLKI merupakan wadah bagi seluruh paguyuban penghayat kepercayaan,” ujarnya.
Melalui Tasyakuran Wilujengan, pemerintah bersama MLKI berharap nilai-nilai budi pekerti luhur, gotong royong, toleransi, dan persatuan tetap hidup di tengah masyarakat. Di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan kepercayaan, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa persatuan selalu tumbuh dari sikap saling menghargai dan semangat menjaga warisan leluhur sebagai bagian dari identitas bangsa.
Jurnalis: Navima Aulya Sava



