Dari Kisah Perjumpaan di Jembatan Brawijaya Lahir Tarian, Juara I Lomba Cipta Kreasi Khas Kota Kediri 2026

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Di antara derasnya waktu yang terus berlari, hanya 10 hari menjadi ruang bagi mimpi untuk bertumbuh. Waktu yang begitu singkat itu justru menjadi pijakan Sanggar Tari Gondho Arum II untuk menorehkan prestasi membanggakan. Lewat karya bertajuk “Jumpa Kediri”, sanggar yang belum genap berusia satu tahun tersebut sukses memikat perhatian dewan juri hingga meraih Juara I Lomba Cipta Tari Kreasi Khas Kota Kediri 2026.

Bukan sekadar rangkaian gerak yang indah, “Jumpa Kediri” menghadirkan cerita tentang denyut kehidupan masyarakat Kota Kediri. Jembatan Brawijaya dipilih sebagai simbol utama—ruang yang mempertemukan perjalanan, sapaan, dan kisah-kisah yang lahir di antara langkah manusia yang saling berpapasan.

Pelatih sekaligus pemilik Sanggar Tari Gondho Arum, Rastra Bagas Prakoso, menjelaskan bahwa karya tersebut berangkat dari keinginannya mengangkat identitas Kota Kediri melalui bahasa tari.

“Kami ingin menceritakan aktivitas masyarakat Kota Kediri sebagai kota wisata. Jembatan Brawijaya menjadi simbol perjumpaan, tempat orang bertemu, saling menyapa, dan menghadirkan kisah-kisah manis di Kota Kediri,” ujar Rastra.

Inspirasi tarian itu bermula dari pengalamannya berdiskusi dengan seorang penggiat tenun yang mengagumi kemegahan Jembatan Brawijaya. Kekaguman tersebut kemudian diterjemahkan menjadi komposisi gerak yang menggambarkan dinamika kehidupan di sekitar jembatan ikonik tersebut.

Sebanyak 10 penari berusia 15 hingga 19 tahun dipercaya membawakan karya itu. Salah satunya, Chika Aulia Pramesty (15), tampil bersama rekan-rekannya meski seluruh proses persiapan berlangsung dalam waktu yang sangat terbatas.

Menurut Rastra, latihan hanya dilakukan selama sekitar 10 hari. Para penari berlatih setiap malam selepas Magrib hingga pukul 20.00 WIB. Bahkan, seluruh anggota baru dapat berkumpul secara lengkap sehari sebelum penampilan. Tak hanya itu, proses mixing musik hingga penetapan judul tari pun rampung pada hari-hari terakhir menjelang perlombaan.

“Persiapannya memang sangat mepet. Semua berjalan hampir bersamaan, mulai dari latihan, penyelesaian musik, hingga penentuan judul. Namun kami berusaha memaksimalkan waktu yang ada,” katanya.

Di balik keterbatasan tersebut, tantangan terbesar bukan hanya menyelesaikan koreografi, melainkan memastikan pertunjukan tetap memiliki kualitas artistik yang layak dipentaskan. Kesibukan masing-masing penari juga menjadi kendala tersendiri dalam menyatukan jadwal latihan.

“Kami harus membagi waktu karena setiap penari memiliki aktivitas yang berbeda. Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan karya yang benar-benar matang meski waktu persiapan sangat singkat,” tutur Rastra.

Prestasi ini terasa semakin istimewa karena Sanggar Tari Gondho Arum masih tergolong pendatang baru di dunia seni tari. Meski usianya belum mencapai satu tahun, sanggar tersebut telah mengoleksi sejumlah penghargaan dari berbagai kompetisi. Namun, gelar Juara I pada Lomba Cipta Tari Kreasi Khas Kota Kediri 2026 menjadi pencapaian tertinggi yang berhasil mereka raih sejauh ini.

“Alhamdulillah kami sangat bersyukur. Sebelumnya kami memang sudah beberapa kali meraih prestasi, tetapi juara satu baru kali ini. Semoga ini menjadi motivasi untuk terus belajar dan menghasilkan karya-karya yang lebih baik,” ucapnya.

Ke depan, Rastra memastikan timnya akan mengevaluasi berbagai masukan dari dewan juri guna menyempurnakan koreografi “Jumpa Kediri”. Tarian tersebut juga dijadwalkan kembali tampil dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-1147 Kota Kediri, sebagai bentuk apresiasi sekaligus upaya memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Jurnalis: Navima Aulya Sava

✓ Link berhasil disalin