Goa Selomangkleng Jadi Panggung Lahirnya Tari Identitas Kota Kediri

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Di antara jejak sejarah yang tersimpan di kawasan Goa Selomangkleng, harapan baru bagi dunia seni Kota Kediri perlahan menari. Lewat setiap gerak yang berpadu dengan irama, Pemerintah Kota Kediri berupaya merajut identitas budaya yang kelak dapat dikenang lintas generasi.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Lomba Cipta Tari Kreasi Khas Kota Kediri yang digelar Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora), Minggu (19/7). Selain menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Kediri ke-1147 Tahun, ajang ini juga menjadi ruang bagi para penari muda untuk menunjukkan kreativitas sekaligus melahirkan karya yang berpotensi menjadi tari khas Kota Kediri.

Kompetisi tersebut diikuti peserta dari berbagai sanggar tari dan sekolah. Dari 14 karya yang mendaftar, panitia menetapkan 10 finalis untuk tampil di hadapan dewan juri tingkat nasional yang berasal dari Yogyakarta, Batu, dan Tulungagung.

Kepala Disbudparpora Kota Kediri, Bambang Priambodo, mengatakan kegiatan ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menggali kekayaan seni tari daerah.

“Melalui kegiatan ini, Disbudparpora Kota Kediri memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada adik-adik, khususnya sanggar tari yang ada di Kota Kediri, untuk tampil dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Saya berharap kesempatan ini dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai ruang berekspresi dan mengembangkan talenta yang dimiliki,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Abah BP itu menjelaskan, persiapan lomba telah dilakukan selama sekitar dua bulan. Menurutnya, komitmen pemerintah tidak berhenti pada pelaksanaan kompetisi semata, tetapi juga berlanjut melalui pembinaan terhadap peserta dan karya-karya terbaik yang dihasilkan.

“Pembinaan akan terus kami lakukan secara berkelanjutan. Karya-karya terbaik nantinya kami tampilkan pada berbagai event Kota Kediri, khususnya rangkaian Hari Jadi Kota Kediri,” katanya.

Sementara itu, Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kota Kediri, Endah Setyowati, menuturkan bahwa lomba tersebut dirancang untuk menemukan karya tari yang benar-benar merepresentasikan karakter dan kekhasan Kota Kediri.

Menurutnya, hingga kini Kota Kediri belum memiliki tari identitas sebagaimana sejumlah daerah lain di Indonesia.

“Hari ini kita mencari potensi generasi muda yang memiliki semangat menggali tari lokal. Kota Kediri hingga kini belum memiliki tari khas seperti daerah lain, sehingga melalui lomba ini kami berharap lahir karya yang benar-benar bisa menjadi identitas Kota Kediri,” jelas Endah.

Ia menambahkan, meski kompetisi serupa pernah digelar pada tahun-tahun sebelumnya, konsep kali ini berbeda karena peserta diwajibkan menciptakan tari kreasi yang secara khusus mengangkat ciri khas Kota Kediri.

Selain memperebutkan hadiah uang pembinaan, para pemenang juga akan memperoleh kesempatan tampil dalam sejumlah agenda resmi peringatan Hari Jadi Kota Kediri ke-1.147, termasuk prosesi Manusuk Sima.

Juara I akan menerima hadiah sebesar Rp3 juta, Juara II Rp2,5 juta, dan Juara III Rp2 juta. Sementara tiga nominasi terbaik lainnya masing-masing memperoleh uang pembinaan sebesar Rp1 juta.

Melalui ajang tersebut, Pemerintah Kota Kediri berharap lahir karya tari kreasi yang tidak hanya meraih prestasi di panggung kompetisi, tetapi juga tumbuh menjadi identitas budaya sekaligus kebanggaan masyarakat Kota Kediri.

jurnalis : Navima Aulya Sava

✓ Link berhasil disalin