lokasi kejadian - foto : Sigit Cahya Setyawan

Kasus Bocah Tewas di Kediri, Tubuh Dua Kakaknya Ditemukan Penuh Luka

Bagikan Berita :

KEDIRI — Kematian tragis seorang bocah berinisial NIZ di Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri, Rabu (15/4) sore, membuka fakta baru terkait dugaan kekerasan dalam lingkungan keluarga. Korban diduga tidak hanya mengalami peristiwa tunggal, melainkan bagian dari persoalan yang telah berlangsung sebelumnya.

Ketua RW 6, Baharudin Yusuf, mengungkapkan saat kejadian korban berada di rumah bersama neneknya. Sementara ibu kandung dan ayah tiri diketahui sedang bekerja.

“Ketika orang tuanya pulang, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia,” ujarnya.

Informasi yang dihimpun menyebutkan korban ditemukan sekitar pukul 17.45 WIB. Peristiwa tersebut segera dilaporkan ke aparat setempat, hingga akhirnya petugas dari Polres Kediri Kota tiba di lokasi. Sekitar pukul 20.00 WIB, jenazah korban dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk penanganan lebih lanjut.

Sejumlah temuan di lapangan memperkuat dugaan adanya kekerasan. Dua kakak korban dilaporkan memiliki bekas luka di tubuh, seperti memar. Meski demikian, penyebab pasti luka tersebut masih dalam penyelidikan, apakah berkaitan dengan penganiayaan atau faktor lain.

“Riwayat luka serupa sebelumnya juga pernah ditemukan,” kata Baharudin.

Fakta lain yang mencuat, orang tua korban diduga belum memiliki ikatan pernikahan resmi dan hanya menjalani pernikahan siri, berdasarkan keterangan warga sekitar.

Sementara itu, Pemerintah Kota Kediri melalui Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) sebenarnya telah lebih dulu mendeteksi adanya persoalan dalam keluarga tersebut. Pendampingan bahkan disebut telah dilakukan sejak beberapa bulan terakhir.

Camat Kota Kediri, Agus Suharyanto, yang turut hadir di rumah duka, menegaskan bahwa pihaknya masih menunggu hasil penyelidikan resmi dari kepolisian.

“Informasi lanjutan akan kami sampaikan setelah ada hasil dari aparat penegak hukum,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Lurah Ngronggo, Achmad Koharudin. Ia mengaku prihatin atas peristiwa tersebut dan menyebut upaya pendampingan oleh Satgas PPA telah dilakukan berulang kali.

“Satgas sudah beberapa kali melakukan pendampingan terhadap anak-anak tersebut, namun memang masih ada kendala di lapangan,” ungkapnya.

Keterangan dari Satgas PPA tingkat kelurahan memperkuat bahwa kasus ini bukan persoalan baru. Aduan warga telah diterima sejak beberapa bulan lalu, bahkan sejak akhir tahun sebelumnya. Petugas juga telah beberapa kali turun langsung ke lokasi.

Saat pendampingan awal dilakukan, ditemukan bahwa anak-anak tersebut belum memiliki dokumen kependudukan yang lengkap, seperti akta kelahiran maupun Kartu Keluarga (KK).

“Proses pendataan sudah kami upayakan bersama Dukcapil, namun belum sepenuhnya selesai,” ujar salah satu anggota Satgas.

Ketiadaan identitas administratif tersebut menjadi hambatan serius, terutama dalam mengakses layanan dasar seperti pendidikan dan bantuan sosial.

Di sisi lain, dugaan kekerasan terhadap anak juga telah lebih dulu dilaporkan warga sejak November tahun lalu. Salah seorang warga mengaku menemukan kondisi mencurigakan saat melihat salah satu anak dengan mata lebam.

“Keterangan dari keluarga disebut jatuh, tetapi menurut kami janggal,” ujarnya, meminta identitasnya dirahasiakan.

Warga juga sempat berupaya membantu, termasuk membawa anak untuk mendapatkan penanganan dan mendorong akses pendidikan. Namun, upaya tersebut tidak mendapat persetujuan dari pihak keluarga.

Pasca kejadian, dua kakak korban langsung diamankan dan ditangani oleh tim Satgas PPA. Keduanya kemudian dibawa ke Polres Kediri Kota sebelum akhirnya dititipkan kepada kerabat sambil menunggu keputusan lebih lanjut dari pihak berwenang.

Kasus ini kini dalam penanganan aparat kepolisian. Dugaan kekerasan serta faktor penyebab kematian korban masih terus didalami.

jurnalis : Anisa Fadila – Sigit Cahya Setyawan
Bagikan Berita :