KEDIRI — Suasana malam di Kota Kediri tampak berbeda pada Jumat (29/5). Derap langkah pelari dan laju ratusan sepeda memenuhi kawasan depan Stadion Brawijaya dalam acara bertajuk Kayuh Malam Kota Cerita yang mengusung tema Dari Jalan Menuju Peradaban.
Sekitar 800 peserta dari berbagai komunitas olahraga dan kreatif memadati Lapangan Parkir Pagora untuk merayakan satu tahun berdirinya Kopag Space, sebuah ruang komunitas yang kini menjadi tempat berkumpul anak-anak muda Kediri.
Gemerlap lampu sepeda berpadu dengan antusiasme para pelari yang menyusuri jalanan kota menciptakan atmosfer meriah di malam akhir pekan. Kegiatan ini didukung tiga komunitas sepeda dan dua komunitas lari yang ikut memeriahkan acara.
Usai menyelesaikan rute, para peserta kembali berkumpul di Kopag Space untuk menikmati hiburan live music bersama DJ Frano, fun game, hingga pembagian doorprize.
Tak sekadar menjadi ajang olahraga malam, kegiatan ini juga menyimpan cerita perjalanan panjang Kopag Space yang tumbuh dari usaha sederhana di pinggir jalan hingga menjadi pusat aktivitas komunitas kreatif di Kediri.
Owner Kopag Space, Abu Nur Arifin, mengenang awal mula berdirinya tempat tersebut yang berawal dari sebuah rombong kopi kecil di kawasan Pakelan.
“Dulu Kopag itu awalnya hanya rombong kecil dan kami ngopi di trotoar,” ujarnya.
Dari tempat sederhana itu, Kopag perlahan berkembang melalui berbagai inovasi hingga akhirnya memiliki lokasi tetap di kawasan Pagora. Kini, tempat tersebut bukan hanya sekadar kedai kopi, melainkan ruang bertemunya komunitas, kreator muda, hingga tempat lahirnya berbagai gagasan untuk Kota Kediri.
“Di sini tempat berkumpul para kreator Kota Kediri. Mereka duduk, ngopi, lalu bertukar ide bagaimana membangun kota,” katanya.
Abu menilai tren positif anak muda yang kini lebih aktif berolahraga dan berkegiatan komunitas patut diapresiasi. Menurutnya, budaya berkumpul setelah berlari atau bersepeda membuka ruang diskusi yang lebih sehat dibanding hanya menghabiskan waktu bermain gadget.
“Anak muda sekarang lebih banyak olahraga. Setelah itu mereka ngopi dan ngobrol. Ini jauh lebih positif dibanding aktivitas yang kurang produktif,” tambahnya.
Ia juga berharap budaya bersepeda dan tertib berlalu lintas semakin berkembang di tengah masyarakat. Selain menyehatkan, kebiasaan tersebut dinilai mampu membentuk identitas positif Kota Kediri sekaligus menarik wisatawan datang.
“Kami ingin membiasakan budaya bersepeda dan tertib lalu lintas agar Kota Kediri punya ciri khas. Harapannya nanti semakin banyak wisatawan datang ke sini,” tuturnya.
Seluruh rangkaian kegiatan digelar secara gratis dengan dukungan berbagai pihak dan komunitas yang selama ini tumbuh bersama Kopag Space.
Dari sebuah rombong kopi di trotoar, Kopag Space kini menjelma menjadi rumah bagi komunitas dan kreativitas anak muda Kediri. Tempat yang bukan hanya menghadirkan kopi, tetapi juga semangat untuk terus bergerak, bertumbuh, dan saling menginspirasi.



