KEDIRI — Transformasi perpustakaan di SMPN 4 Kota Kediri menghadirkan wajah baru ruang literasi yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Tak lagi sekadar ruang baca, perpustakaan kini dikembangkan dengan mengintegrasikan konsep digital, konvensional, sekaligus museum edukatif berbasis budaya.
Inovasi ini tidak hanya memperluas akses pengetahuan, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang lebih variatif bagi siswa. Perpustakaan didesain sebagai ruang eksplorasi yang menghubungkan literasi modern dengan pengenalan nilai-nilai sejarah dan budaya.
Kepala SMPN 4 Kediri, Heri Setiawan, menegaskan bahwa perpustakaan memiliki peran strategis dalam menunjang proses pembelajaran. Menurutnya, penguatan fungsi perpustakaan menjadi penting seiring meningkatnya kebutuhan literasi yang kian kompleks.
“Perpustakaan bukan sekadar pelengkap fasilitas sekolah, tetapi menjadi bagian penting dalam mendukung pembelajaran. Di sini tersedia berbagai referensi, baik digital maupun buku fisik, dari berbagai bidang keilmuan,” ujarnya, Senin (6/4).
Untuk menghindari kesan monoton, sekolah menghadirkan pendekatan berbeda dengan menambahkan unsur edukasi berbasis budaya. Berbagai replika benda bersejarah, artefak, hingga permainan tradisional turut dihadirkan guna meningkatkan ketertarikan siswa.
Kepala Perpustakaan SMPN 4 Kediri, Arief Nurdhiana, menjelaskan bahwa pengembangan berbasis digital mulai dilakukan sejak tahun lalu. Fasilitas yang tersedia meliputi komputer, laptop, serta smart TV yang mendukung aktivitas literasi digital.
Seluruh perangkat tersebut telah terintegrasi dengan layanan Perpustakaan Nasional dan platform digital lainnya, sehingga memungkinkan siswa mengakses referensi secara lebih luas dan fleksibel.
Meski demikian, fungsi konvensional tetap dipertahankan melalui pembaruan koleksi buku fisik secara berkala. Bahkan, perpustakaan juga diarahkan menjadi ruang edukasi berbasis museum mini yang menyimpan berbagai replika peninggalan sejarah.
Di antaranya meliputi replika Ganesha, lumpang kuno, miniatur candi, topeng Panji, hingga senjata tradisional. Selain itu, ditampilkan pula figur tokoh-tokoh bersejarah seperti Raja Brawijaya, Gajah Mada, Bung Karno, dan Jenderal Sudirman, serta koleksi wayang bertema Srikandi Mustakaweni.
Ke depan, setiap koleksi akan dilengkapi kode batang (barcode) yang memungkinkan siswa mengakses informasi detail secara digital melalui perangkat gawai.
Inovasi ini mendapat respons positif dari siswa. Salah satunya disampaikan Syifana Ainur Islamiah Dewi Maryam, siswi kelas VIII, yang mengaku lebih sering memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang belajar maupun tempat berdiskusi.
Menurutnya, kemudahan akses informasi serta suasana yang nyaman membuat perpustakaan menjadi lokasi favorit untuk mengisi waktu istirahat.
Tak hanya itu, perpustakaan juga dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran alternatif melalui konsep moving class serta mendukung kolaborasi pembelajaran daring antar sekolah.
Dengan pendekatan yang lebih interaktif dan humanis, perpustakaan SMPN 4 Kediri kini berkembang menjadi pusat literasi terpadu yang tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga menanamkan kesadaran budaya kepada generasi muda.



