KEDIRI – Sebuah rumah tua yang lebih dari satu dekade dibiarkan sunyi tanpa penghuni kini menjelma menjadi ruang yang penuh kehidupan. Dari halaman yang dahulu dipenuhi semak, tumbuh harapan baru dalam bentuk ribuan tanaman buah yang bukan hanya menghijaukan lahan, tetapi juga menghadirkan nilai ekonomi tinggi.
Mahkota Omah Manggis di Desa Purwodadi, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, kini dikenal sebagai destinasi wisata edukasi tanaman buah sekaligus sentra penjualan tabulampot (tanaman buah dalam pot). Dari usaha tersebut, omzet yang diraih mencapai sekitar Rp150 juta per bulan.
Pemilik Mahkota Omah Manggis, S. Daffa Addiba Cessario (25), mengatakan ide memanfaatkan rumah peninggalan sang eyang bermula dari keinginan menghidupkan kembali lahan kosong di belakang rumah yang selama bertahun-tahun tidak terawat.
“Rumah eyang saya ini tidak pernah ditempati lebih dari 10 tahun. Lahan di belakang juga belum termanfaatkan. Akhirnya kami jadikan kebun pribadi, lalu berkembang menjadi usaha penjualan tabulampot, bibit hingga buah,” ujar Daffa.
Gagasan tersebut mulai diwujudkan pada 2020, bertepatan dengan pandemi Covid-19 ketika tren berkebun meningkat. Awalnya, pemasaran hanya dilakukan secara daring dengan menawarkan berbagai jenis tabulampot.
Seiring bertambahnya koleksi tanaman dan penataan kawasan yang semakin menarik, kebun tersebut mulai dilirik sebagai lokasi pembelajaran luar kelas. Kesempatan pertama datang ketika SD Petra Kediri menggelar kegiatan outing class di lokasi tersebut.
Sejak saat itu, Mahkota Omah Manggis rutin menerima kunjungan pelajar mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP hingga SMK. Tidak hanya itu, sejumlah pemerintah desa dan instansi dari berbagai daerah seperti Madiun dan Surabaya juga datang untuk melakukan studi tiru mengenai pengelolaan wisata edukasi berbasis hortikultura.
Menurut Daffa, nama Omah Manggis dipilih karena di halaman depan rumah peninggalan keluarganya berdiri pohon manggis yang menjadi penanda sekaligus inspirasi penamaan tempat tersebut.
Berdiri di atas lahan sekitar 1,5 hektare, Mahkota Omah Manggis menghadirkan beragam koleksi tanaman buah lokal maupun mancanegara. Pengunjung dapat menemukan lebih dari 20 varietas alpukat, mangga asal Taiwan dan Thailand, kelengkeng, jambu air, jeruk pamelo Thailand hingga berbagai buah eksotis seperti mamey sapote, rose sapote, black sapote yang dikenal sebagai buah puding cokelat, abiu, alkesha, serta anggur Brasil.
“Tabulampot yang paling diminati adalah varietas sawo Mamey Sapote dari Amerika, Black Sapote dari Meksiko, dan alpukat dari Vietnam,” katanya.
Sebagian besar tanaman dikembangkan menggunakan teknik sambung pucuk (grafting), yakni menggabungkan batang bawah tanaman lokal dengan varietas unggul dari berbagai negara, seperti Vietnam maupun Amerika Serikat. Keahlian tersebut dipelajari Daffa secara otodidak, meski dirinya merupakan lulusan Program Studi Manajemen Universitas Brawijaya.
Selain koleksi tanaman buah, Mahkota Omah Manggis juga mengembangkan wisata petik melon yang dibuka setiap musim panen, sekitar dua hingga tiga bulan sekali. Meski demikian, penjualan tabulampot masih menjadi sumber pendapatan utama usaha tersebut.
“Harga bibit bervariasi. Untuk varietas sawo impor, misalnya, berkisar Rp750 ribu hingga Rp800 ribu,” jelasnya.
Saat ini, kunjungan wisata edukasi dilakukan melalui sistem reservasi dengan paket pengenalan tanaman. Sementara masyarakat yang ingin berwisata bersama keluarga, menikmati suasana kebun, atau berkonsultasi mengenai budidaya tanaman buah tetap dapat berkunjung tanpa dikenakan biaya.
Transformasi rumah warisan yang sempat terlupakan menjadi Mahkota Omah Manggis membuktikan bahwa lahan yang pernah terbengkalai dapat tumbuh menjadi ruang belajar, destinasi wisata, sekaligus usaha hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang menarik minat pengunjung dari berbagai daerah.
jurnalis : Sigit Cahya Setyawan



