KEDIRI – Denting gamelan mengalun pelan, menyatu dengan semilir angin yang berembus di bawah rindangnya pepohonan Taman Tirtoyoso, Senin (27/7). Di ruang yang dipercaya menjadi bagian dari wilayah Kuwak sebagaimana termaktub dalam Prasasti Kuwak, jejak sejarah lebih dari sebelas abad kembali dihidupkan melalui Upacara Tradisi Manusuk Sima, puncak peringatan Hari Jadi ke-1.147 Kota Kediri.
Setelah tiga tahun terakhir diselenggarakan di halaman Balai Kota, prosesi Manusuk Sima tahun ini kembali digelar di Tirtoyoso. Perpindahan lokasi itu bukan sekadar perubahan tempat, melainkan upaya mengembalikan tradisi ke ruang sejarah yang diyakini menjadi saksi lahirnya Kota Kediri.
Prosesi diawali dengan sajian karawitan dan Tari Semburat Kediri Raya sebelum memasuki rangkaian ritual yang merepresentasikan isi Prasasti Kuwak. Suasana sakral berpadu dengan semangat masyarakat yang memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, kembalinya Manusuk Sima ke Tirtoyoso merupakan bagian dari ikhtiar mendekatkan masyarakat, terutama generasi muda, dengan akar sejarah Kota Kediri.
Menurutnya, kawasan Tirtoyoso memiliki keterkaitan erat dengan wilayah Kuwak yang tercatat dalam Prasasti Kuwak, prasasti yang menjadi dasar penetapan Hari Jadi Kota Kediri pada 27 Juli 879 Masehi.
“Agar generasi hari ini menyadari bahwa sejarah tidak cukup hanya dikenang, tetapi juga harus dipelajari, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Vinanda.
Ia menjelaskan, wilayah Kuwak pada masa lampau ditetapkan sebagai tanah sima atau tanah perdikan yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat karena berada di kawasan subur dan dialiri Patirtan Tirtoyoso.
Karena itu, Tradisi Manusuk Sima terus dilestarikan sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah meletakkan fondasi tumbuh dan berkembangnya Kota Kediri.
Menurut Vinanda, tradisi tersebut juga menyimpan pesan bahwa kemajuan sebuah kota tidak lahir dalam sekejap, melainkan dibangun melalui kerja keras, gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta komitmen menjaga nilai-nilai yang diwariskan leluhur.
Peringatan Hari Jadi ke-1.147 Kota Kediri tahun ini mengusung tema “Sinergi Lintas Generasi, Mengalir dengan Inovasi, Teguh dalam Tradisi.” Tema tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan dan inovasi harus berjalan beriringan dengan pelestarian sejarah serta kebudayaan.
Komitmen itu mendapat apresiasi dari Direktur Warisan Budaya Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Dr. Agus Widiatmoko, S.S., M.M.
Ia menilai Kediri menjadi salah satu daerah yang berhasil menghidupkan kembali sejarah melalui tradisi yang tetap tumbuh dan hidup di tengah masyarakat.
Menurut Agus, Manusuk Sima merupakan contoh penerapan konsep living museum, yakni ketika sebuah prasasti tidak hanya menjadi benda sejarah yang tersimpan, tetapi juga diinterpretasikan kembali menjadi pengalaman budaya yang dapat dipahami sekaligus dinikmati masyarakat.
“Kementerian Kebudayaan tentu akan terus hadir mendampingi Pemerintah Kota Kediri dalam upaya memajukan kebudayaan,” katanya.
Ia juga mengungkapkan rencana Kementerian Kebudayaan untuk merevitalisasi museum di Kota Kediri serta mendorong tenun ikat Kediri menjadi Warisan Budaya Takbenda tingkat nasional agar memiliki nilai budaya sekaligus manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Makna setiap tahapan Manusuk Sima kemudian dijelaskan oleh pemerhati budaya sekaligus pranatacara, Subagyo. Ia menyebut seluruh prosesi merupakan visualisasi isi Prasasti Kuwak, mulai dari penyerahan tanah sima, pembacaan prasasti, hingga simbol penyembelihan ayam cemani dan pemecahan telur sebagai penegasan ketetapan raja terhadap tanah perdikan serta peringatan bagi siapa pun yang melanggarnya.
“Harapannya Kediri tetap menjadi daerah yang memiliki kedaulatan dengan pemerintahan yang berwawasan kerakyatan,” ujarnya.
Dalam prosesi tersebut, Wali Kota Kediri memerankan Bekapu Catura, yakni pemimpin wilayah yang menerima penyerahan tanah sima dari utusan Kerajaan Mataram.
Subagyo menjelaskan, seluruh rangkaian yang ditampilkan tahun ini kembali mengacu pada hasil penelitian sejarah sehingga pakem dan nilai spiritual tradisi tetap terjaga.
Ia berharap Manusuk Sima terus dilaksanakan di kawasan Tirtoyoso agar menjadi ruang edukasi sejarah bagi masyarakat, terutama generasi muda.
“Sejarah masa lalu menjadi pedoman bagi kehidupan masa kini dan masa yang akan datang,” tuturnya.
Pada kesempatan itu, Pemerintah Kota Kediri juga menerima Surat Keputusan Cagar Budaya Nasional untuk Jembatan Brawijaya Over Brantas atau Jembatan Lama Kota Kediri yang diserahkan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI.
Selain itu, diserahkan pula SK Cagar Budaya Tingkat Kota kepada Gedung Kantor BRI Cabang Kediri, Gedung Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Kantor Kelurahan Pakelan, serta Rumah Duka Giki Kongsu (Pan Rukti Layon) sebagai langkah memperkuat pelestarian bangunan bersejarah di Kota Kediri.
Nuansa peringatan Hari Jadi Kota Kediri tidak hanya menghadirkan penghormatan terhadap sejarah, tetapi juga kepedulian sosial. Sebanyak 1.405 anak yatim menerima santunan dalam rangkaian acara tersebut.
Perayaan kemudian ditutup dengan Tari Suko-Suko yang berpadu dengan alunan gending Jawa Kota Kediri Mapan dan Kediri Ngangeni, menghadirkan penutup yang hangat sekaligus menegaskan bahwa sejarah, budaya, dan nilai kemanusiaan dapat berpadu dalam satu harmoni yang terus mengalir melintasi zaman.
jurnalis : Anisa Fadila


