KEDIRI – Suasana berbeda terlihat di halaman Mako Brimob Kediri, Selasa (2/6). Derap langkah tegap dan gerakan serempak menjadi pemandangan mencolok saat 100 anggota Satpol PP Kota Kediri mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas dalam pemberantasan Barang Kena Cukai (BKC) ilegal.
Di bawah arahan instruktur Brimob, para peserta tidak hanya dilatih baris-berbaris. Mereka juga mendapat pembekalan soal disiplin, kekompakan, tata cara pelaksanaan tugas lapangan, pergantian jaga, penindakan rokok ilegal, hingga penguatan mental saat menghadapi dinamika pelayanan masyarakat.
Kasatpol PP Kota Kediri, Paulus Luhur Budi, mengatakan tugas Satpol PP saat ini tidak lagi sederhana. Selain menjaga ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat, personel Satpol PP juga dituntut ikut mendukung pemberantasan peredaran rokok ilegal yang berdampak pada penerimaan negara maupun daerah.
Menurut Paulus, pelatihan dasar Peraturan Baris Berbaris atau PBB menjadi salah satu fondasi penting bagi anggota. Materi tersebut meliputi tata cara pemberian aba-aba, penghormatan kepada inspektur upacara, hingga penghormatan kepada Sang Merah Putih.
Ia menegaskan, kedisiplinan dan kekompakan menjadi modal utama bagi anggota Satpol PP sebelum menjalankan tugas di lapangan.
“Mereka harus bisa bekerja dengan baik. Meskipun tetap harus humanis, namun juga harus ada ketegasan,” ujar Paulus.
Selain materi kedisiplinan, peserta juga dibekali tata cara pergantian jaga, serah terima tugas, serta prosedur pelaksanaan kegiatan di lapangan. Pembekalan tersebut diberikan agar anggota lebih siap, sigap, dan memahami alur kerja saat bertugas di tengah masyarakat.
Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan materi dari Bea Cukai terkait pemberantasan rokok ilegal. Dalam sesi tersebut, para peserta mendapat pemahaman mengenai teknik pengumpulan informasi, pelaksanaan operasi pasar, hingga langkah-langkah penindakan terhadap peredaran rokok tanpa cukai.
Paulus menyebut pemberantasan rokok ilegal membutuhkan kemampuan teknis sekaligus kesiapan mental. Sebab, petugas kerap berhadapan langsung dengan masyarakat dan berbagai situasi yang tidak selalu mudah diprediksi.
Karena itu, peserta juga mendapat penguatan mental dan motivasi pelayanan. Hal ini dinilai penting karena personel Satpol PP dan Damkar Kota Kediri harus selalu siap merespons kebutuhan masyarakat melalui layanan darurat 112 yang beroperasi selama 24 jam.
“Jadi selama ini perlu kami sampaikan bahwa Dumas itu berjalan 24 jam. Kami selalu ada karena dibutuhkan masyarakat melalui layanan 112,” katanya.
Paulus menambahkan, tugas Satpol PP memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dengan petugas pemadam kebakaran yang kerap hadir dalam situasi penyelamatan dan mendapat apresiasi langsung dari masyarakat, Satpol PP lebih sering berada di garis depan penegakan aturan dan penertiban.
Kondisi tersebut membuat personel Satpol PP dituntut memiliki mental kuat, disiplin tinggi, serta kemampuan komunikasi yang baik. Dengan begitu, tugas penegakan aturan dapat dilakukan secara tegas, tetapi tetap persuasif dan humanis.
“Yang dituntut selalu hak untuk mendapatkan pengayoman dan pertolongan. Sementara kewajiban untuk mau diatur dan tertib justru sulit dijalankan,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu peserta pelatihan dari Bidang Trantib Satpol PP Kota Kediri, Cecep Sunarya, menilai pembekalan tersebut sangat bermanfaat. Menurutnya, materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan personel yang setiap hari bertugas di lapangan dan berhadapan langsung dengan masyarakat.
“Pelatihan seperti ini perlu bagi kami yang juga melaksanakan kegiatan di lapangan dan menghadapi masyarakat,” kata Cecep.
Ia menyebut, pelatihan tersebut tidak hanya berisi baris-berbaris, PPM dasar, dan tata upacara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut juga menanamkan kedisiplinan, kebersamaan, serta jiwa korsa antaranggota.
Melalui pelatihan ini, para anggota Satpol PP Kota Kediri diharapkan mampu bergerak dalam satu komando, memperkuat kekompakan, dan semakin siap menjalankan tugas penertiban maupun pemberantasan rokok ilegal di lapangan.



