KEDIRI – Di bawah langit malam Kota Kediri, riuh tawa anak-anak berpadu dengan rasa penasaran para pengunjung yang berkerumun di Halaman Balai Kota. Di antara deretan satwa yang dipamerkan, ketakutan perlahan berubah menjadi kekaguman. Parade dan Pameran Fauna bukan sekadar tontonan, tetapi ruang belajar terbuka yang mengajak masyarakat mengenal lebih dekat kehidupan satwa.
Kegiatan yang menjadi bagian dari pembukaan Dhoho Night Carnival (DNC) itu menghadirkan sekitar tujuh komunitas binaan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri. Beragam satwa dipamerkan, mulai dari reptil, kucing, merpati hias, domba, anjing peliharaan, hingga anjing pelacak K9.
Komunitas yang berpartisipasi meliputi Komunitas Reptil, Komunitas Kucing, Indonesian Fancy Pigeon Club, Domba Al Amien, Komunitas Anjing, Komunitas Tantular, serta Komunitas Anjing K9. Tiga di antaranya, yakni Komunitas Reptil, Domba Al Amien, dan Komunitas Anjing K9, turut memeriahkan parade dalam rangkaian DNC.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Kota Kediri, Retno Harini, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mendekatkan masyarakat dengan berbagai jenis satwa melalui pendekatan edukatif.
“Tujuannya mengedukasi masyarakat untuk mengenal lebih dekat berbagai jenis hewan. Harapannya setelah mengenal, masyarakat semakin mencintai hewan-hewan yang ada di sekitar kita,” ujarnya.
Menurut Retno, Parade dan Pameran Fauna juga menjadi wadah bagi komunitas binaan DKPP untuk memperkenalkan koleksi satwa sekaligus menunjukkan berbagai prestasi yang telah diraih hingga tingkat nasional. Tahun ini menjadi kali pertama sejumlah komunitas satwa tampil bersama dalam satu lokasi pameran.
Salah satu stan yang paling banyak menyedot perhatian pengunjung adalah Komunitas Tantular, komunitas pecinta ular di bawah LPBI NU. Mereka membawa enam jenis ular, yakni Python reticulatus, sanca bodo, ular cincin emas, ular jali, king koros, dan Python molurus.
Anggota Komunitas Tantular, Ahmad Sabiq Fahmi, mengatakan kehadiran komunitasnya bertujuan mengubah stigma masyarakat terhadap ular yang selama ini identik dengan bahaya.
“Kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa tidak semua ular berbahaya. Kalau bertemu ular, jangan langsung dibunuh, terutama yang tidak berbisa, karena ular memiliki peran penting sebagai pengendali hama tikus,” katanya.
Ia menjelaskan, seluruh ular yang dibawa telah terbiasa berinteraksi dengan manusia sehingga aman ditampilkan dalam parade maupun pameran. Selain mengikuti berbagai kegiatan publik, komunitas tersebut juga rutin memberikan edukasi ke sekolah-sekolah agar anak-anak dapat mengenal reptil secara benar dan tidak mudah termakan stigma.
Antusiasme pengunjung terlihat dari banyaknya keluarga yang datang bersama anak-anak mereka. Salah satunya Tri Winarni (56), warga Kelurahan Pocanan, yang mengaku sengaja mengajak cucunya menghadiri pameran karena memiliki ketertarikan terhadap satwa, terutama ular.
“Cucu saya sangat suka hewan, terutama ular. Saya sebenarnya takut, tapi demi cucu saya mengajaknya ke sini supaya bisa melihat langsung dan belajar mengenal berbagai jenis hewan,” tuturnya.
Menurut perempuan yang akrab disapa Narni itu, kegiatan semacam ini memiliki nilai edukasi yang tinggi karena mampu menumbuhkan kepedulian terhadap satwa sejak usia dini. Ia berharap Parade dan Pameran Fauna dapat terus digelar dengan koleksi hewan yang semakin beragam sehingga menjadi destinasi edukasi sekaligus rekreasi bagi masyarakat.
Melalui Parade dan Pameran Fauna, Pemerintah Kota Kediri menghadirkan ruang interaksi yang mempertemukan masyarakat dengan komunitas pecinta satwa dalam suasana yang hangat dan edukatif. Lebih dari sekadar hiburan dalam rangkaian Doho Night Carnival, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kesejahteraan hewan, pelestarian lingkungan, serta memperkuat eksistensi komunitas fauna di Kota Kediri.
jurnalis : Navima Aulya Sava


