KEDIRI – Persik Kediri memasuki kompetisi I-League 2026/27 dengan ambisi yang lebih besar. Macan Putih tak hanya memburu prestasi di atas lapangan, tetapi juga ingin kembali memperkuat ikatan emosional dengan masyarakat Kediri Raya sekaligus membawa nama klub semakin dikenal di tingkat internasional.
Ambisi tersebut dikemas Persik melalui program bertajuk “Purplewave” atau Gelombang Ungu. Program ini dirancang untuk membangkitkan kembali kecintaan masyarakat terhadap Persik melalui berbagai kegiatan sosial, pengembangan komunitas, hingga penguatan sektor komersial klub.
Direktur Utama Persik Kediri, Souraiya Farina, mengatakan salah satu langkah yang ditempuh pada musim ini adalah menjalin kerja sama dengan apparel olahraga internasional, Adidas.
Menurut Farina, penggunaan Adidas diharapkan dapat memperluas eksistensi Persik, tidak hanya di pasar Indonesia tetapi juga hingga mancanegara. Persik juga mulai memperkuat pengembangan bisnis melalui kanal e-commerce.
“Menggunakan Adidas agar lebih dikenal hingga mancanegara. Kita juga menambahkan e-commerce sebagai pengembangan bisnis,” ujar Farina dalam jumpa pers di Mess Persik, Senin (31/8).
Sasar Sekolah hingga Pesantren
Upaya mendekatkan Persik dengan masyarakat juga dilakukan melalui program sosial dan komunitas.
Persik kembali menghidupkan program yang sebelumnya pernah dijalankan dua musim lalu dengan menyasar lingkungan sekolah. Jika sebelumnya program tersebut lebih banyak menyentuh jenjang SMA, kali ini cakupannya diperluas hingga sekolah dasar dan pesantren.
Tak berhenti di sana, Persik juga menyiapkan Liga Persik di Kediri sebagai wadah pembinaan sekaligus sarana mendekatkan klub dengan masyarakat.
Apabila program tersebut berjalan dan berkembang sesuai harapan, Persik berencana memperluas pelaksanaannya ke daerah lain.
Head of Commercial Persik Kediri, Razzan Maharani, menegaskan bahwa klub ingin memiliki peran yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat.
“Musim ini kita ingin membuat Persik bukan hanya sepakbola, namun bagian kehidupan dari Kediri Raya,” kata Razzan.
Ia menambahkan, Persik ingin menghidupkan kembali atmosfer kecintaan masyarakat seperti yang pernah dirasakan klub pada era 2003 hingga 2006.
Pada periode tersebut, dukungan terhadap Persik disebut tidak hanya muncul di stadion, tetapi juga menjalar hingga lingkungan permukiman dan gang-gang kecil di berbagai wilayah Kediri.
“Akan ada generasi selanjutnya untuk cinta Persik Kediri,” ujarnya.
Jersey Adidas Jadi Bagian dari Strategi Bisnis
Kembalinya Adidas sebagai apparel Persik juga mendapatkan respons positif dari masyarakat.
Bagi manajemen, jersey Adidas bukan semata-mata perlengkapan pertandingan. Jersey tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas Persik sekaligus mengembangkan bisnis merchandise klub.
Kerja sama pada musim 2026/27 ini merupakan kali kedua Persik menggunakan Adidas. Sebelumnya, apparel asal Jerman tersebut juga pernah menjadi bagian dari perjalanan Persik ketika Macan Putih meraih gelar juara pada 2003.
Razzan menyebut tingginya animo masyarakat menjadi modal bagi Persik untuk mengembangkan sektor merchandise.
“Jersey Adidas merupakan jersey internasional. Animo masyarakat positif. Kami mempersiapkan sisi bisnis yang lebih baik. Kita berharap banyak merchandise yang bisa dijangkau,” jelasnya.
Melalui konsep Purplewave, Persik berharap dukungan terhadap klub dapat kembali membesar dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Gelombang tersebut diharapkan menjadi identitas baru yang menyatukan klub dengan warga Kediri Raya.
Stadion Brawijaya Tetap Jadi Kandang Persik
Di tengah berbagai persiapan menghadapi musim baru, Persik memastikan tidak memiliki rencana untuk meninggalkan Stadion Brawijaya sebagai kandang.
Farina menyampaikan bahwa berbagai persyaratan kelayakan stadion telah dipenuhi bersama Pemerintah Kota Kediri. Persik juga telah menjalani assessment keamanan dari kepolisian.
Menurutnya, terdapat peningkatan dalam penilaian risiko keamanan dibandingkan musim sebelumnya.
Jika pada musim lalu hasil risk assessment Polda Jawa Timur berada di bawah 50 persen, musim ini angkanya disebut telah meningkat menjadi lebih dari 60 persen.
“Assessment dari kepolisian ada peningkatan 20 persen. Tahun lalu risk assessment di bawah 50, sekarang sampai 60 persen lebih,” jelas Farina.
Aturan Media Musim Baru Ikut Berubah
Sementara itu, Media Officer Persik Kediri, Yobby Lonard Antama Putra, menjelaskan adanya sejumlah perubahan regulasi media pada kompetisi I-League 2026/27.
Salah satunya menyangkut official training. Pada musim ini, sesi tersebut tidak lagi digunakan pemain untuk menjajal kondisi lapangan secara bebas.
Official training kini lebih diarahkan untuk pengenalan lapangan. Pemain juga tidak diperbolehkan menggunakan sepatu bola dalam sesi tersebut.
“Peraturan baru, official training tidak ada menjajal lapangan, namun hanya pengenalan lapangan. Tidak boleh memakai sepatu bola. Hanya jalan-jalan di stadion,” kata Yobby.
Perubahan lainnya berkaitan dengan konferensi pers tim tamu. Pada musim ini, press conference dapat dilakukan secara daring. Pada musim sebelumnya, mekanisme tersebut hanya diperbolehkan dalam situasi tertentu.
Dari aspek keamanan, kartu identitas media juga mengalami perubahan. ID card media kini menggunakan sistem dua sisi untuk memperkuat keamanan sekaligus mempermudah proses identifikasi.
I-League juga membuka ruang bagi content creator untuk melakukan aktivitas peliputan di area pinggir lapangan bersama fotografer. Namun, akses tersebut tetap harus melalui prosedur yang ditetapkan.
Content creator diwajibkan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Media Officer Persik. Data serta permohonan akses kemudian akan dikoordinasikan dengan pihak I-League untuk menjalani proses verifikasi.
Dengan berbagai persiapan tersebut, Persik Kediri ingin menjadikan musim 2026/27 sebagai lebih dari sekadar perjalanan kompetitif.
Macan Putih membidik prestasi di lapangan sekaligus berupaya membangun kembali hubungan emosional dengan masyarakat Kediri.
jurnalis : Sigit Cahya Setyawan



