KEDIRI – Kondisi Suprihatin, warga Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, mengundang perhatian pemerintah. Perempuan tersebut tengah menderita sakit setelah kakinya tertusuk kawat hingga mengalami tetanus. Di tengah kebutuhan pengobatan, bantuan sosial yang sebelumnya diterima keluarganya justru terhenti setelah status keluarga berubah dari desil 1 menjadi desil 6.
Kondisi Suprihatin diketahui saat Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengunjungi kediamannya di Tempurejo RT 12/RW 4, Senin (31/8).
Suprihatin tinggal bersama suaminya, Muryadi, di sebuah rumah yang merupakan aset pasar. Pasangan tersebut tidak memiliki rumah sendiri sehingga selama ini menempati bangunan tersebut. Kondisi hunian yang dinilai kurang layak turut menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut.
Vinanda mengatakan, berdasarkan laporan masyarakat, Suprihatin telah mengalami sakit selama sekitar dua bulan setelah kakinya tertusuk besi. Ia sempat menjalani operasi dan mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Gambiran.
Setelah menjalani perawatan, Suprihatin sempat dibawa oleh anaknya ke Krian. Namun, kondisi kesehatannya belum menunjukkan perbaikan.
Melihat kondisi tersebut, Vinanda kemudian berkoordinasi dengan Puskesmas dan Rumah Sakit Gambiran untuk memastikan Suprihatin mendapatkan penanganan medis lanjutan.
“Saya langsung segera berkomunikasi dengan Puskesmas maupun Gambiran agar supaya nanti beliau bisa segera dibawa ke Rumah Sakit Gambiran,” ujar Vinanda.
Meski demikian, saat kunjungan berlangsung, Suprihatin belum bersedia dibawa ke rumah sakit. Tim medis tetap melakukan pendampingan dan akan membawa Suprihatin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ketika dirinya sudah bersedia.
Selain persoalan kesehatan, Vinanda juga menemukan dugaan ketidaksesuaian antara kondisi keluarga Suprihatin dengan data kesejahteraan yang tercatat dalam sistem.
Sebelumnya, keluarga Suprihatin tercatat dalam desil 1. Namun, status tersebut kemudian berubah menjadi desil 6. Perubahan itu berdampak pada bantuan sosial yang selama ini diterima keluarga tersebut.
Vinanda mengatakan, berdasarkan kondisi yang ditemui langsung di lapangan, keluarga Suprihatin dinilai lebih sesuai masuk dalam desil 1. Pemerintah pun akan melakukan pencocokan dan penyesuaian data berdasarkan kondisi faktual.
“Jadi, kalau menurut kondisi lapangan seharusnya beliau masuk desil 1. Ini kita komunikasikan agar supaya nanti disesuaikan dengan fakta yang ada di lapangan,” katanya.
Muryadi membenarkan bahwa keluarganya tidak lagi menerima bantuan sosial pada bulan ini setelah status desil berubah menjadi 6. Bantuan yang sebelumnya diterima, termasuk beras dan bantuan uang, kini tidak lagi didapatkan.
“Jadi, bantuan ini enggak dapat, beras enggak dapat,” ujar Muryadi.
Perubahan tersebut membuat Muryadi kebingungan. Terlebih, kondisi istrinya membutuhkan pengobatan sementara kemampuan ekonomi keluarga sangat terbatas.
Sehari-hari, Muryadi hanya berjualan kopi di sekitar Pasar Tempurejo untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama istrinya.
Keterbatasan ekonomi juga membuat pasangan tersebut belum mampu memperbaiki rumah yang mereka tempati. Selain bukan milik pribadi, bangunan yang merupakan aset pasar itu dinilai kurang layak untuk dihuni.
Muryadi mengaku kondisi tersebut semakin berat karena kebutuhan untuk pengobatan istrinya harus berjalan beriringan dengan kebutuhan sehari-hari.
Persoalan hunian itu pun menjadi perhatian pemerintah. Vinanda menyampaikan rencana renovasi rumah yang ditempati Suprihatin dan Muryadi agar keduanya dapat tinggal di tempat yang lebih layak.
Bagi Muryadi, perhatian langsung dari pemerintah memberikan sedikit kelegaan. Ia berharap kondisi kesehatan istrinya segera mendapatkan penanganan dan persoalan yang dihadapi keluarganya dapat ditindaklanjuti.
“Alhamdulillah langsung respon penyakitnya ibunya langsung ditangani. Saya senang sekali saya,” tuturnya.
Pemerintah Kota Kediri selanjutnya akan menindaklanjuti tiga persoalan yang dihadapi keluarga Suprihatin, yakni penanganan kesehatan, perbaikan tempat tinggal, serta pencocokan kembali data kesejahteraan.
Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan kondisi keluarga Suprihatin tercermin secara tepat dalam data administrasi, sehingga akses terhadap bantuan sosial maupun layanan pemerintah dapat disesuaikan dengan kondisi mereka di lapangan.
Jurnalis: Anisa Fadila



