KEDIRI – Proyek pembangunan Tol Kediri-Tulungagung kembali mendapat sorotan. Aliansi Penambang Tradisional Kediri Raya berencana menggelar aksi besar-besaran dengan melibatkan sekitar 1.000 orang di lokasi proyek.
Aksi tersebut ditujukan kepada PT Hastari Jaya Sentosa, yang disebut menjadi salah satu pihak yang menggarap proyek strategis tersebut. Massa menuntut penyelesaian pembayaran pekerjaan yang dilakukan oleh sejumlah rekanan lokal asal Kediri.
Koordinator Aliansi Penambang Tradisional Kediri Raya, Tubagus Fitrawijaya, mengatakan tuntutan utama dalam aksi tersebut adalah pelunasan pembayaran pekerjaan rekanan lokal Kediri.
“Besok tuntutannya sesuai surat, yakni pelunasan pembayaran pekerjaan untuk rekan-rekan lokal Kediri. Kami juga menuntut hadirnya pemerintah daerah untuk memperjuangkan warga Kediri dalam proyek ini dan mengawal agar sesuai aturan,” kata Bagus.
Menurut Bagus, aksi serupa sebelumnya sempat dibatalkan setelah PT Hastari Jaya Sentosa disebut berjanji menyelesaikan kewajiban pembayaran. Namun, hingga kini pembayaran yang dijanjikan tersebut diklaim belum terealisasi.
Kondisi itu membuat pihak aliansi mengaku kecewa. Nilai pekerjaan yang disebut belum dibayarkan bahkan mencapai sekitar Rp2 miliar.
“Sebelumnya kami aksi tidak jadi karena pihak Hastari berjanji membayar. Namun sampai hari ini belum dibayarkan. Kami merasa dibohongi terus,” ujarnya.
Untuk aksi yang direncanakan digelar besok, massa disebut akan membawa sejumlah truk ke lokasi proyek. Sekitar 1.000 orang diperkirakan turut ambil bagian dalam aksi tersebut.
Selain menuntut pelunasan pembayaran, aliansi juga meminta pemerintah daerah turun tangan. Mereka berharap Pemkab/Pemkot terkait dapat mengawal kepentingan pelaku usaha lokal agar keterlibatan warga Kediri dalam proyek strategis tersebut berjalan sesuai ketentuan.
Hingga berita ini ditulis, PT Hastari Jaya Sentosa belum memberikan tanggapan terkait tudingan adanya pembayaran pekerjaan yang belum diselesaikan maupun rencana aksi tersebut.
Bima selaku Humas PT Hastari Jaya Sentosa masih belum dapat dikonfirmasi.
jurnalis : Sigit Cahya Setyawan



