Kemarau Panjang Menjaga Rimba dari Amukan Api, Perhutani Kediri Siagakan Semua Kekuatan

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Di tengah kemarau yang kian mengeringkan tanah dan dedaunan, ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali membayangi. Menyadari besarnya risiko tersebut, Perum Perhutani KPH Kediri memperkuat kesiapsiagaan dengan menggelar Apel Siaga Karhutla di Petak 128 A-1 RPH Pojok, Dusun Ngesong, Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan, Jumat (17/7).

Apel siaga itu mempertemukan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah desa, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), hingga tokoh masyarakat. Sinergi lintas sektor dinilai menjadi fondasi utama untuk mencegah kebakaran sejak dini sebelum berubah menjadi bencana yang lebih luas.

Wakil Administratur Kediri Utara Perhutani KPH Kediri, Bambang Ribudiono, mengatakan musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino meningkatkan potensi kebakaran di kawasan hutan. Karena itu, setiap laporan munculnya titik api harus segera ditindaklanjuti agar tidak berkembang menjadi kebakaran berskala besar.

“Pencegahan tentu jauh lebih mudah dibandingkan melakukan penanganan ketika kebakaran sudah meluas,” ujarnya.

Menurut Bambang, luas kawasan hutan yang dikelola Perhutani KPH Kediri mencapai sekitar 117 ribu hektare, membentang di Kabupaten Nganjuk, Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Tulungagung, hingga Trenggalek. Dengan cakupan wilayah yang sangat luas, pengawasan tidak mungkin dilakukan hanya oleh Perhutani tanpa dukungan berbagai pihak.

Ia menegaskan, karhutla bukan sekadar menghanguskan pepohonan. Kebakaran juga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem, mengurangi cadangan air, memicu kerusakan lingkungan, hingga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada keberlangsungan hutan.

“Dampak karhutla sangat besar terhadap lingkungan dan pada akhirnya juga berdampak terhadap kondisi ekonomi masyarakat,” katanya.

Karena itu, masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat menggunakan api untuk membersihkan lahan atau membakar serasah. Api harus dipastikan benar-benar padam sebelum ditinggalkan agar tidak merembet ke kawasan hutan.

Sebagai langkah antisipasi, Perhutani telah membentuk Pos Komando Pengendalian (Posko Dal) di setiap wilayah BKPH. Posko tersebut disiapkan untuk mempercepat respons apabila ditemukan titik api melalui koordinasi bersama BPBD, TNI, dan Polri.

Kesiapan itu telah terbukti ketika kebakaran yang terjadi di kawasan hutan lindung Tulungagung sekitar sepekan lalu berhasil dikendalikan melalui kerja sama lintas instansi sehingga api tidak meluas.

Bambang berharap Apel Siaga Karhutla mampu memperkuat kesadaran kolektif bahwa menjaga hutan merupakan tanggung jawab bersama. Sebab, hutan bukan hanya bentang alam yang dipenuhi pepohonan, melainkan sumber kehidupan yang menyimpan air, udara, dan harapan bagi generasi mendatang.

“Keberhasilan menjaga hutan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, Perhutani ataupun stakeholder terkait, melainkan menjadi tanggung jawab kita semua,” pungkasnya.

 

jurnalis : Anisa Fadila

✓ Link berhasil disalin