KEDIRI — Aktivitas Gunung Kelud masih berada pada level 1 atau normal. Meski belum menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik, kesiapsiagaan di kawasan lereng gunung api aktif tersebut terus diperkuat, terutama di tengah musim kemarau yang meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Polres Kediri bersama TNI-Polri, relawan, dan stakeholder terkait menggelar Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana dan Pencegahan Karhutla di wilayah hukum Polres Kediri, Sabtu (19/9).
Kegiatan tersebut tidak berhenti pada apel. Rombongan yang dipimpin Kapolres Kediri AKBP Dr. M. Wahyudin Latif, S.H., S.I.K., M.Si., melanjutkan kegiatan dengan riding menuju sejumlah titik rawan di kawasan Gunung Kelud.
Di lokasi tersebut, petugas memasang banner berisi imbauan kepada masyarakat sekaligus memberikan edukasi mengenai pencegahan bencana.
Rombongan juga mendatangi Pos Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Gunung Kelud untuk melihat kondisi terkini aktivitas gunung api tersebut.
Gunung Kelud Normal, Karhutla Jadi Perhatian
Kapolres Kediri AKBP M. Wahyudin Latif mengatakan apel kesiapsiagaan menjadi bagian dari upaya membangun kesiapan bersama menghadapi berbagai potensi bencana.
Ia menekankan pentingnya deteksi dini dan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya karena saat ini memasuki musim kemarau.
“Karena lagi musim kemarau, saya meminta rekan-rekan semuanya untuk diingatkan, lakukan potensi kesiapsiagaan deteksi dininya dan sosialisasikan kepada seluruh masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar,” ujar Wahyudin.
Menurutnya, karakter geografis Kabupaten Kediri yang beragam membuat potensi bencana di masing-masing wilayah juga berbeda.
Di kawasan pegunungan, karhutla menjadi salah satu ancaman yang perlu diantisipasi. Sementara itu, potensi longsor dan banjir juga tetap menjadi perhatian.
Karena itu, kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan relawan.
Desa-desa yang telah membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) juga dipersiapkan menghadapi berbagai kemungkinan. Kesiapan tersebut mencakup sumber daya manusia, sarana dan prasarana, hingga prosedur operasional standar (SOP) evakuasi.
“Respons cepat adalah kunci utama apabila ada bencana,” tegas Wahyudin.
Ia menambahkan, respons cepat harus ditopang koordinasi dan sinergitas seluruh unsur.
Warga Diingatkan Tak Bakar Lahan
Selain karhutla, masyarakat di sekitar kawasan Gunung Kelud juga diingatkan terhadap potensi bencana lainnya, termasuk banjir lahar dingin.
Wahyudin meminta masyarakat ikut menjaga kondisi kawasan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak membuka lahan menggunakan metode pembakaran.
Edukasi juga dilakukan melalui pemasangan banner di sejumlah titik yang dinilai rawan. Titik-titik tersebut selanjutnya akan dikoordinasikan bersama BPBD dan relawan desa di sekitar lereng Gunung Kelud.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan sehingga penanganan bencana tidak hanya dilakukan setelah kejadian berlangsung.
Destana Sugihwaras Siapkan Penanganan Karhutla
Kesiapsiagaan menghadapi karhutla juga dilakukan Destana Desa Sugihwaras.
Ketua Destana Desa Sugihwaras, Anang Wiyanto, mengatakan pihaknya siap membantu apabila terjadi kebakaran. Namun, kondisi medan dan keterbatasan sumber air menjadi tantangan dalam penanganan kebakaran di kawasan tersebut.
“Kalau alternatif ketika tidak ada air, kita pakai seadanya, seperti kita siram pakai pasir,” kata Anang.
Menurutnya, pasir dapat digunakan apabila api belum terlalu besar. Sementara jika kebakaran terjadi di kawasan hutan, medan yang sulit dijangkau membuat akses terhadap sumber air menjadi persoalan tersendiri.
Destana Sugihwaras memiliki sekitar 20 anggota dan selama ini berkoordinasi dengan BPBD serta dinas terkait.
Meski belum pernah terjadi karhutla di kawasan Gunung Kelud, upaya antisipasi terus dilakukan. Salah satunya dengan mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan menggunakan cara membakar.
Anang mengatakan fungsi Destana tidak hanya berkaitan dengan karhutla. Kelompok tersebut dibentuk agar masyarakat memiliki kemampuan menghadapi berbagai kondisi kebencanaan secara mandiri.
“Ketika ada bencana itu tidak selalu mengandalkan dari instansi lain. Kita bisa mandiri. Jadi, biar masyarakat itu tanggap ketika ada bencana,” ujarnya.
Selain Sugihwaras, Destana juga terdapat di Desa Sempu dan Babadan yang berada di kawasan sekitar lereng Gunung Kelud.
Aktivitas Kelud Belum Menunjukkan Peningkatan
Di tengah penguatan kesiapsiagaan tersebut, aktivitas Gunung Kelud sendiri masih berada pada level 1 atau normal.
Pengamat Gunung Api Kelud, Ahmad Urid Kausar, mengatakan belum terdapat peningkatan aktivitas gunung api yang terpantau.
“Untuk saat ini, aktivitas Gunung Api Kelud itu berada di level 1, yaitu normal,” katanya.
Ahmad menjelaskan, status level 1 menunjukkan aktivitas Gunung Kelud masih dalam kondisi normal meskipun gunung tersebut merupakan gunung api aktif.
Peralatan pemantauan di kawasan Gunung Kelud juga dapat merekam aktivitas gempa tektonik yang terjadi cukup jauh dari gunung.
Gempa tektonik berkaitan dengan aktivitas lempeng bumi, sedangkan gempa vulkanik berkaitan dengan aktivitas gunung api. Gempa tektonik berkekuatan besar bahkan dapat terekam meski terjadi jauh dari kawasan Gunung Kelud, termasuk di luar negeri.
Namun, untuk kondisi Gunung Kelud saat ini, aktivitas gempa tektonik yang terjadi jauh dari kawasan tersebut belum menunjukkan pengaruh terhadap aktivitas gunung.
Pemantauan aktivitas Gunung Kelud menjadi bagian dari rangkaian kesiapsiagaan yang dilakukan bersama aparat, relawan, dan stakeholder terkait.
Dengan kondisi aktivitas gunung yang masih normal, perhatian juga diarahkan pada potensi bencana lain yang lebih berkaitan dengan kondisi musim dan lingkungan, terutama karhutla, longsor, banjir, serta banjir lahar dingin.
Edukasi dan pencegahan pun terus dilakukan agar masyarakat tidak hanya siap ketika bencana terjadi, tetapi juga mampu mengambil langkah antisipasi sejak dini.
Jurnalis: Anisa Fadila



