KEDIRI – Tak ada yang menyangka, sekolah yang dahulu hanya menumpang di sebuah gedung Madrasah Ibtidaiyah dengan 18 siswa kini menjelma menjadi salah satu sekolah menengah kejuruan swasta terbesar di Kabupaten Kediri. Perjalanan panjang itu menjadi bukti bahwa sebuah mimpi besar dapat tumbuh dari langkah-langkah sederhana yang dijalani dengan ketekunan.
Di balik perubahan tersebut berdiri sosok Pujiono, S.Pd., seorang pendidik yang hampir empat dekade mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Ia bukan hanya Kepala SMK Kertanegara Wates, tetapi juga salah satu perintis yang ikut membangun sekolah sejak pertama kali berdiri pada 1988.
Karier Pujiono dimulai setelah lulus dari IKIP Negeri Malang, Jurusan Teknik Mesin. Pada 1988 ia mengajar di SMA Kalijogo Wates. Belum genap setahun menjadi guru, yayasan mempercayainya memimpin sekolah tersebut sebagai kepala sekolah.
Tiga tahun berselang, bersama kepala sekolah pertama SMK Kertanegara Wates, Lutfi Mahmudiono, Pujiono ikut merintis berdirinya sekolah vokasi tersebut. Saat itu ia tetap menjalankan tugas sebagai Kepala SMA Kalijogo Wates sekaligus Wakil Kepala SMK Kertanegara.
Perjuangan mereka jauh dari kata mudah. Aktivitas belajar mengajar dilakukan dengan meminjam gedung Madrasah Ibtidaiyah di Desa Pojok karena sekolah belum memiliki bangunan sendiri.
“Saat itu kami hanya memperoleh 18 siswa. Semua dimulai dari tempat yang sangat sederhana,” kenang Pujiono.
Setahun kemudian kegiatan belajar berpindah ke SMP Karya Wates. Baru sekitar 1994 sekolah memiliki bangunan sendiri dengan fasilitas yang masih sangat terbatas.
Namun waktu menjadi saksi bagaimana sekolah itu terus bertumbuh. Jumlah peserta didik meningkat dari tahun ke tahun. Lahan sekolah berkembang, ruang belajar bertambah, bengkel praktik diperluas, hingga kini SMK Kertanegara Wates memiliki dua kampus dengan 65 rombongan belajar dan 2.336 siswa, menjadikannya salah satu SMK swasta terbesar di Kabupaten Kediri.
Tonggak baru dimulai pada Juli 2023 ketika yayasan mempercayakan kepemimpinan sekolah kepada Pujiono.
“Saya ingin SMK Kertanegara tidak hanya berjalan di tempat, tetapi terus bergerak maju dan berkembang,” ujarnya.
Komitmen tersebut segera diwujudkan melalui berbagai terobosan. Pada tahun yang sama, SMK Kertanegara Wates berhasil lolos Program Bantuan Pemerintah Pengembangan SMK Berbasis Revolusi Industri 4.0.
Dari ratusan sekolah yang mengajukan proposal, hanya empat SMK di Jawa Timur yang berhasil memperoleh bantuan tersebut. SMK Kertanegara Wates menjadi salah satunya bersama SMK Pemkab Ponorogo, SMK Antartika 2 Sidoarjo, dan SMKN 3 Malang.
Sekolah menerima bantuan sekitar Rp1,9 miliar yang digunakan untuk membangun teaching factory, melengkapi peralatan praktik, serta mempercepat transformasi pembelajaran berbasis digital.
Kini hampir seluruh layanan sekolah telah terdigitalisasi. Absensi guru dan siswa dilakukan secara elektronik, ujian berlangsung tanpa kertas, pembayaran menggunakan sistem perbankan, sementara ruang kelas, laboratorium, dan bengkel praktik telah dilengkapi perangkat pembelajaran digital.
“Pemerintah mengakui sekolah kami sebagai SMK berbasis Revolusi Industri 4.0 sehingga seluruh sistem sekolah sudah berbasis digital,” kata Pujiono.
Transformasi tersebut berjalan seiring dengan penguatan kualitas pendidikan vokasi.
SMK Kertanegara Wates kini memiliki tujuh program keahlian, yakni Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Sepeda Motor, Desain Komunikasi Visual, Layanan Kesehatan, Teknik Komputer dan Jaringan, Teknik Pemesinan, serta Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam.
Beberapa jurusan juga dilengkapi fasilitas unggulan. Program Teknik Komputer dan Jaringan memiliki kelas industri Game Development yang bekerja sama dengan dunia usaha, Teknik Pemesinan diperkuat mesin Computer Numerical Control (CNC), sedangkan Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam menjadi salah satu kebanggaan sekolah setelah berhasil melahirkan juara nasional bidang welding selama dua tahun berturut-turut.
Menurut Pujiono, keberhasilan tersebut lahir dari investasi sekolah terhadap fasilitas praktik yang terus ditingkatkan.
“Lulusan yang berkualitas tidak cukup hanya ditentukan kompetensi guru. Harus didukung sarana dan prasarana praktik yang memadai,” tegasnya.
Tak hanya membangun fasilitas, sekolah juga memperkuat hubungan dengan dunia usaha dan dunia industri.
Kemitraan dijalin dengan berbagai perusahaan besar, seperti PT PAL Indonesia, PT Bambang Jaya, Barata Indonesia, INKA, PSI Persada Solid Indonesia, hingga sejumlah perusahaan di Kalimantan, Sumatera, Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Jerman.
Kolaborasi tersebut tidak berhenti pada program Praktik Kerja Lapangan (PKL). Siswa yang menunjukkan kinerja baik memiliki kesempatan mengikuti program magang bahkan direkrut sebagai karyawan sebelum menyelesaikan pendidikan.
Melalui Bursa Kerja Khusus (BKK), sekitar 150 siswa telah diterima bekerja sebelum lulus. Sekolah juga membuka peluang kerja internasional melalui program Ausbildung di Jerman.
“Komitmen kami bukan sekadar meluluskan siswa, tetapi membantu mereka memperoleh pekerjaan,” ujar Pujiono.
Di balik berbagai pencapaian itu, Pujiono meyakini bahwa prestasi tidak dibangun hanya melalui fasilitas modern ataupun kerja sama industri.
Baginya, fondasi utama sebuah sekolah adalah budaya disiplin yang harus dimulai dari para pendidik.
“Guru harus menjadi teladan. Kalau ingin siswa disiplin, maka guru harus lebih dulu menunjukkan kedisiplinan,” katanya.
Prinsip tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Upacara setiap Senin menjadi bagian dari pendidikan karakter, sementara guru dan tenaga kependidikan diwajibkan menaati aturan yang berlaku.
Pujiono pun memberi contoh secara langsung dengan selalu hadir sebelum pukul 06.00 untuk menyambut para siswa di gerbang sekolah.
Selain membangun karakter, sekolah juga menaruh perhatian pada isu lingkungan.
Dalam satu tahun terakhir, SMK Kertanegara Wates menjalankan program bebas sampah plastik. Siswa tidak lagi diperbolehkan membawa botol minuman sekali pakai maupun makanan berkemasan plastik ke lingkungan sekolah.
“Kami terus meningkatkan kualitas fasilitas, menjaga kebersihan, dan menerapkan budaya bebas sampah plastik,” ungkapnya.
Berbagai pembenahan tersebut turut mengantarkan SMK Kertanegara Wates dikenal sebagai salah satu “gudang prestasi” di Kabupaten Kediri.
Prestasi sekolah tidak hanya terlihat dari keberhasilan mempertahankan Juara I Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Nasional Bidang Welding selama dua tahun berturut-turut, tetapi juga dari sederet capaian siswa di tingkat kabupaten, provinsi, nasional hingga internasional sepanjang 2025–2026.
Di tingkat nasional, sekolah sukses mempertahankan medali emas LKS Nasional Bidang Welding pada 2025 dan 2026.
Sementara di level internasional, Agravino Nayotama berhasil meraih Juara I Motocross Champion MX2 Internasional 2026 di Kelantan, Malaysia.
Sebagai bentuk apresiasi, sekolah memberikan penghargaan kepada para siswa berprestasi sesuai jenjang kompetisi yang mereka ikuti.
“Setiap siswa yang mengharumkan nama sekolah akan mendapatkan penghargaan sesuai tingkat prestasi yang diraih,” kata Pujiono.
Meski telah mencatat banyak pencapaian, Pujiono menegaskan perjalanan sekolah belum berhenti.
Ia menargetkan seluruh tujuh program keahlian berkembang menjadi jurusan unggulan melalui persaingan sehat yang berorientasi pada peningkatan mutu.
“Target jangka panjang kami adalah menjadikan seluruh jurusan sebagai jurusan favorit dengan terus meningkatkan kualitas masing-masing program keahlian,” pungkasnya.
Hampir empat dekade mengabdi membuat Pujiono memahami satu hal sederhana: sekolah tidak tumbuh karena bangunannya semata, tetapi karena orang-orang di dalamnya tidak pernah berhenti belajar, berdisiplin, dan berani berinovasi.
Dari sekolah kecil yang pernah memulai perjalanan dengan 18 siswa, SMK Kertanegara Wates kini berdiri sebagai salah satu ikon pendidikan vokasi di Kabupaten Kediri—membuktikan bahwa mimpi besar selalu berawal dari langkah pertama yang berani diambil.
jurnalis : Anisa Fadila



