KEDIRI – Di bawah rindangnya pepohonan dan langit malam kawasan Goa Selomangleng, seni menemukan rumahnya. Nada musik mengalun, bait-bait geguritan berbisik, sementara langkah para penari berpadu dengan semangat gotong royong yang menghidupkan ruang budaya. Malam itu, Pelataran Museum Airlangga berubah menjadi titik temu bagi mereka yang percaya bahwa perubahan dapat tumbuh dari kolaborasi.
Suasana tersebut hadir dalam penyelenggaraan Waringin Sasmita “Wit Kawitan” di kawasan Wisata Goa Selomangleng, Jumat (31/7). Kegiatan ini mempertemukan beragam komunitas dari Kediri maupun luar daerah dalam sebuah ruang kolaboratif yang memadukan seni, budaya, literasi, edukasi lingkungan, pariwisata, hingga pemberdayaan pelaku UMKM.
Rangkaian kegiatan berlangsung semarak dengan beragam pertunjukan, mulai dari pentas musik, tari budaya, pembacaan geguritan, teatrikal, edukasi lingkungan, hingga pameran karya seniman lokal. Lebih dari sekadar panggung hiburan, kegiatan ini menjadi wadah bertemunya komunitas lintas bidang untuk bertukar gagasan dan memperkuat jejaring.
Ketua Pelaksana Waringin Sasmita, Ipunk Rimba Raya, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari semangat kolektif berbagai komunitas yang ingin menghadirkan ruang berkesenian sekaligus belajar secara mandiri.
“Intinya kita membangun ruang bersama untuk berkolaborasi dalam karya dan berkesenian di Kota Kediri. Kita ingin bergerak secara mandiri, tidak harus selalu bergantung pada pemerintah,” ujarnya.
Menurut Ipunk, peserta yang terlibat berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari komunitas lingkungan hidup, seniman, musisi, pegiat literasi, hingga pemuda dari sejumlah desa. Tak hanya dari Kediri, sejumlah komunitas juga datang dari Solo, Nganjuk, Tulungagung, Magelang, dan Blitar.
Ia menjelaskan, nama Waringin Sasmita memiliki makna filosofis sebagai “petunjuk kehidupan”. Pohon beringin melambangkan kehidupan, sedangkan sasmita berarti petunjuk. Filosofi tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan budaya.
Semangat itu diwujudkan melalui keterlibatan berbagai komunitas, di antaranya Penari Sufi Nusantara, Masyarakat Ficus Indonesia, UKM Jadul Pertulo Kembang, UKM Kopi Mbah Darjo, Sanggar Dworowati, Sanggar Tari Samira Santika, serta sejumlah seniman, musisi, dan pegiat budaya lainnya.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu memperkuat potensi seni, budaya, lingkungan, pariwisata, sekaligus mendukung pertumbuhan UMKM dalam satu ekosistem kreatif yang saling menguatkan.
Antusiasme masyarakat pun melampaui ekspektasi panitia. Ipunk mengungkapkan jumlah komunitas yang ingin berpartisipasi melebihi kapasitas waktu penyelenggaraan, sehingga sebagian peserta dijadwalkan tampil pada agenda berikutnya.
Menurutnya, Waringin Sasmita bukan hanya ruang berekspresi bagi para seniman, melainkan juga wadah lahirnya berbagai gerakan sosial yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Seluruh kegiatan diselenggarakan secara gotong royong dan bersifat non-profit sebagai upaya membangun ekosistem seni dan budaya yang tumbuh dari inisiatif masyarakat.
“Kita ingin berubah secara mandiri untuk melakukan sesuatu, tidak harus selalu bergantung dengan pemerintah,” katanya.
Ipunk berharap semangat kolaborasi tersebut terus berkembang dan melahirkan lebih banyak ruang kreatif di Kota Kediri sehingga seni, budaya, lingkungan, pariwisata, serta UMKM dapat tumbuh bersama melalui kekuatan masyarakat.
Hal senada disampaikan Rendi AS, yang hadir mewakili Karang Taruna Kecamatan Kota. Ia menilai Waringin Sasmita menghadirkan suasana berbeda dibandingkan kegiatan hiburan pada umumnya.
“Saya merasa nyaman dan tenang bersama teman-teman seniman. Harapannya kegiatan ini terus berkembang dan suatu saat bisa menjadi event besar yang dikenal luas,” ujarnya.
Melalui perpaduan seni, budaya, literasi, kepedulian lingkungan, dan semangat gotong royong, Waringin Sasmita “Wit Kawitan” diharapkan menjadi ruang kreatif yang terus menghidupkan budaya lokal, memperkuat jejaring komunitas, mendukung pelaku usaha, sekaligus memperkenalkan Kawasan Wisata Goa Selomangleng sebagai pusat kebudayaan yang tumbuh dari inisiatif masyarakat.
jurnalis : Navima Aulya Sava



