Tak Sekadar Ritual, Suran Agung Kediri Disulap Jadi Pertunjukan Budaya Modern

KEDIRI – Tradisi Suran Agung kembali digelar di Pendopo Ndalem Dewobroto, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Senin (29/6). Memasuki penyelenggaraan tahun ke-10, agenda budaya yang rutin dilaksanakan setiap 15 Suro ini menjadi momentum untuk memanjatkan doa kepada Tuhan sekaligus menghormati para leluhur serta menjaga kelestarian budaya Jawa di tengah arus modernisasi.

Ketua Pelaksana Suran Agung, Chandra David, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur sekaligus komitmen untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan para pendahulu.

“Yang pasti kami berdoa kepada Tuhan sebagai ungkapan rasa syukur. Di sisi lain, kegiatan ini menjadi upaya melestarikan kebudayaan agar budaya Indonesia, khususnya di Kediri, tetap hidup dan berkembang,” ujar Chandra.

Rangkaian acara diawali dengan pertunjukan seni jaranan, dilanjutkan arak-arakan Tumpeng Sajodo, prosesi wilujengan, hingga sendratari yang dibawakan para penari muda. Seluruh kegiatan dipusatkan di kawasan Pendopo Ndalem Dewobroto.

Tak hanya menjadi ruang spiritual dan pelestarian budaya, Suran Agung juga menjadi ajang mempererat hubungan antarkomunitas. Sekitar 100 undangan dari berbagai organisasi, komunitas, dan lembaga turut hadir memeriahkan kegiatan tersebut.

Untuk menarik minat generasi muda, panitia menghadirkan konsep pertunjukan yang lebih modern melalui tata cahaya, iringan gamelan yang dikolaborasikan dengan penyajian artistik, serta kemasan acara yang lebih atraktif tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisi.

Selain itu, sekitar 50 pelaku seni dan sanggar budaya dilibatkan dalam penyelenggaraan acara. Panitia juga menggelar berbagai pelatihan seni secara gratis bagi masyarakat sekitar sebagai bagian dari upaya regenerasi pelaku budaya.

Melalui Suran Agung, panitia berharap generasi muda tidak hanya mengenal budaya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga mampu menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Kami berharap pelestarian budaya terus berkembang. Tantangannya adalah bagaimana budaya bisa disampaikan kepada generasi muda dengan cara yang mereka sukai tanpa meninggalkan nilai dan pakem yang telah diwariskan,” pungkas Chandra.

Jurnalis: Sigit Cahya Setyawan