Sepulang Sekolah Bukan Bermain, Bocah 11 Tahun di Kediri Masak dan Rawat Ibunya yang Terbaring Sakit

✓ Link berhasil disalin

Kisah tentang Marfel Dhuha Saputra, siswa kelas 5 SD asal Desa Ngancar, Kabupaten Kediri, yang sejak kelas 3 SD membantu merawat ibunya yang mengalami pengapuran tulang. Berita menyoroti keteguhan Marfel menjalani tanggung jawab di usia belia sekaligus perhatian Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana terhadap pendidikan dan kebutuhan anak tersebut.

KEDIRI — Sepulang sekolah seharusnya menjadi waktu bagi seorang anak untuk bermain, beristirahat, atau berkumpul bersama teman-teman. Namun, bagi Marfel Dhuha Saputra, 11 tahun, rutinitas setelah bel pulang sekolah memiliki cerita berbeda.

Siswa kelas 5 SD asal Desa Ngancar, Kabupaten Kediri, itu harus membagi waktunya antara belajar, mengaji, dan mengurus sang ibu yang sedang mengalami keterbatasan akibat kondisi kesehatan. Kisah tersebut menjadi perhatian Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana. Pada Kamis siang, 13 Agustus 2026, Bupati yang akrab disapa Mas Dhito itu mendatangi rumah Marfel untuk melihat langsung kehidupan bocah tersebut bersama ibunya.

Saat Bupati tiba, Marfel baru saja pulang sekolah. Seragam merah putih masih melekat di tubuhnya, begitu pula sepatu yang belum sempat dilepas. Tanpa banyak basa-basi, Marfel mempersilakan Mas Dhito duduk di kursi kayu di rumahnya.

Pertemuan itu kemudian berubah menjadi percakapan panjang. Mas Dhito duduk berdampingan dengan Marfel sembari menanyakan berbagai hal mengenai keseharian bocah tersebut. Salah satu pertanyaan sederhana justru memperlihatkan betapa besar tanggung jawab yang sudah dijalani Marfel di usianya yang masih belia.

Kamu bisa masak?” tanya Mas Dhito.

Dengan polos, Marfel menjawab bahwa dirinya bisa memasak berbagai jenis sayur, asalkan mengetahui cara memasaknya.

Bisa, masak jangan apa saja, asal diberitahu caranya,” jawab Marfel.

Bagi Marfel, memasak bukan sekadar keterampilan yang dipelajari di rumah. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Ia terbiasa menyiapkan makanan sendiri, termasuk untuk sang ibu. Selain memasak, Marfel juga mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, seperti mencuci dan membersihkan rumah.

Tanggung jawab itu telah dijalaninya selama beberapa tahun. Ketika Mas Dhito menanyakan sejak kapan dirinya mulai merawat ibunya, Marfel menyebut semuanya bermula ketika dirinya masih duduk di kelas 3 SD.

Sejak kelas 3 akhir-akhir,” jawabnya.

Jawaban singkat itu menggambarkan perjalanan panjang seorang anak yang harus beradaptasi dengan keadaan keluarganya.

Sejak Kelas 3 SD Mulai Merawat Ibu

Ibu Marfel, Kumala, 41 tahun, diketahui telah mengalami pengapuran tulang selama sekitar dua tahun. Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari Kumala menjadi terbatas. Saat Mas Dhito datang ke rumah, Kumala hanya dapat berbaring di tempat tidur yang berada di dekat pintu ruang tamu.

Dalam kondisi seperti itu, sejumlah kebutuhan sehari-hari harus dibantu oleh Marfel. Rutinitasnya dimulai sejak pagi. Begitu bangun tidur, ia menyiapkan makanan sederhana untuk sarapan dirinya dan sang ibu. Setelah urusan di rumah selesai, Marfel kemudian bersiap pergi ke sekolah.

Sepulang sekolah, rutinitas serupa kembali dijalaninya. Ia memasak untuk ibunya sebelum melanjutkan aktivitas lainnya. Di tengah tanggung jawab tersebut, Marfel tetap menjalani kehidupan sebagai seorang anak sekolah. Pada sore hari, ia pergi mengaji. Setelah itu barulah ia memiliki waktu untuk bermain.

“Main Setelah Habis Ngaji”

Keseharian Marfel membuat Mas Dhito terkesan. Menurut cerita Bupati Kediri itu, ia sempat menanyakan kepada Marfel kapan bocah tersebut memiliki waktu untuk bermain bersama teman-temannya.

Jawabannya sederhana. Marfel mengatakan dirinya bermain setelah selesai mengaji.

Ini anak yang luar biasa. Tadi saya tanya kapan mainnya, kata dia main setelah habis ngaji,” kata Mas Dhito.

Kisah tersebut menunjukkan bagaimana Marfel berusaha menjalani berbagai tanggung jawab tanpa meninggalkan aktivitas yang menjadi bagian dari kehidupan anak seusianya.

Dari Merasa Berat hingga Terbiasa

Mas Dhito menuturkan, pada awalnya tanggung jawab merawat sang ibu bukanlah sesuatu yang mudah bagi Marfel. Namun, seiring berjalannya waktu, bocah tersebut mulai terbiasa menjalani rutinitas itu.

Apa yang sebelumnya terasa berat perlahan menjadi bagian dari kesehariannya. Marfel menjalankan pekerjaan rumah, membantu ibunya, bersekolah, mengaji, dan tetap menyempatkan diri bermain. Di balik rutinitas tersebut, ada perjuangan seorang anak untuk tetap menjalani kehidupannya di tengah kondisi keluarga yang tidak mudah.

Bupati Kediri Pastikan Marfel Tetap Sekolah

Dalam pertemuan itu, Mas Dhito memberikan dukungan kepada Marfel. Ia berpesan agar tanggung jawab membantu merawat ibunya tidak membuat Marfel melupakan pendidikan. Bocah tersebut diminta untuk tetap bersekolah dan menjalankan ibadah.

Pesan itu menjadi penting karena pendidikan tetap menjadi bagian utama dari masa depan Marfel. Beban keluarga yang harus dipikulnya sejak kecil tidak boleh membuat kesempatan untuk belajar terhenti.

Tinggalkan Nomor Pribadi untuk Marfel

Sebelum meninggalkan rumah, Mas Dhito memberikan nomor ponsel pribadinya kepada Marfel. Bupati Kediri tersebut meminta Marfel tidak ragu menghubunginya apabila sewaktu-waktu membutuhkan bantuan. Dukungan itu mencakup kebutuhan yang berkaitan dengan sekolah maupun kebutuhan sehari-hari.

Kalau ada apa-apa dia sewaktu-waktu boleh hubungi saya. Kebutuhan sekolah, makan dan sebagainya kita yang akan cukupi,” ujar Mas Dhito.

Pertemuan tersebut pun meninggalkan pesan sederhana: di tengah tanggung jawab besar yang harus dijalaninya, Marfel tetap seorang anak yang berhak mendapatkan pendidikan, perhatian, dan kesempatan untuk tumbuh seperti anak-anak seusianya.