Suran Agung Kediri Tak Hanya Merawat Tradisi, UMKM Ikut Panen Rezeki di Tengah Lautan Pengunjung

KEDIRI – Suran Agung di Pendopo Ndalem Dewobroto, Kabupaten Kediri, Senin (29/6), kembali membuktikan bahwa budaya tak sekadar hidup dalam panggung tradisi. Di balik gemuruh jaranan, kirab tumpeng, dan sakralnya prosesi adat, denyut ekonomi masyarakat ikut bersemi. Ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merasakan berkah dari membludaknya pengunjung yang datang dari berbagai daerah.

Sejak pagi hingga malam, deretan stan kuliner dan produk lokal dipadati masyarakat. Keramaian yang tercipta bukan hanya menghadirkan suasana semarak, tetapi juga membuka peluang usaha yang lebih luas bagi para pedagang.

Salah satu pelaku UMKM, Luluk Nur Farida, mengaku merasakan lonjakan pendapatan setelah pertama kali membuka stan dalam gelaran Suran Agung. Pedagang es teh tersebut menyebut tingginya jumlah pengunjung berdampak langsung terhadap hasil penjualannya.

“Kegiatan seperti ini sangat berpengaruh terhadap usaha saya. Kalau pengunjung ramai, hasil penjualannya juga lumayan,” ujarnya.

Luluk mengungkapkan dirinya mengetahui informasi pembukaan stan melalui paguyuban UMKM di grup WhatsApp. Menurutnya, seluruh pelaku usaha juga diberi kesempatan berjualan tanpa dipungut biaya selama kegiatan berlangsung.

Baginya, acara budaya seperti Suran Agung menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat yang datang dari berbagai wilayah. Momentum tersebut dinilai mampu memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing UMKM lokal.

Ketua Pelaksana Suran Agung, Candra David, mengatakan pelibatan UMKM memang menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan agenda tahunan tersebut. Selain menjaga kelestarian budaya, pihak penyelenggara berharap kegiatan ini mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar.

Tahun ini, Suran Agung mengusung tema Banjaran Garudeya dan digelar rutin setiap 15 Suro. Beragam rangkaian kegiatan disuguhkan, mulai dari pertunjukan jaranan, kirab tumpeng, wilujengan, jamasan pusaka, hingga sendratari yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.

Sekitar 100 lembaga turut berpartisipasi dalam perhelatan tersebut. Antusiasme masyarakat, termasuk pengunjung dari luar daerah, menciptakan perputaran ekonomi yang turut dirasakan para pelaku UMKM di kawasan acara.

Suran Agung pun kembali menegaskan bahwa pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi dapat berjalan beriringan. Di setiap langkah kirab dan setiap denting kesenian tradisional, terselip harapan bagi pelaku UMKM untuk terus tumbuh, memperluas pasar, dan meningkatkan kesejahteraan melalui kekuatan budaya lokal.

Jurnalis: Navima Aulya Sava