KEDIRI – Hamparan jalan yang dulu menjadi urat nadi aktivitas warga kini berubah menjadi lintasan penuh risiko. Di Desa Wonorejo Trisulo, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, akses jalan yang berada di kawasan bekas galian C semakin menyempit, sementara jurang menganga di kedua sisinya terus mengintai keselamatan setiap pengguna jalan.
Kondisi tersebut mendorong Komisi III DPRD Kabupaten Kediri turun langsung ke lokasi pada Jumat untuk menindaklanjuti laporan Pemerintah Desa Wonorejo Trisulo. Kunjungan ini merupakan kelanjutan dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang telah digelar pada April lalu.
Turut mendampingi dalam peninjauan tersebut sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), di antaranya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), serta Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kediri.
Kepala Desa Wonorejo Trisulo, Muhammad Mustofa, mengungkapkan, jalan sepanjang lebih dari 500 meter itu kini hanya memiliki lebar sekitar tiga hingga empat meter. Di sisi kanan dan kiri jalan terbentang bekas tambang pasir dengan kedalaman antara lima hingga tujuh meter, bahkan di beberapa titik mencapai sekitar 10 meter. Lahan bekas galian tersebut kini dimanfaatkan untuk budidaya nanas.
“Alhamdulillah, hari ini Ketua Komisi III bersama anggota hadir langsung melihat kondisi di lapangan sekaligus rencana penurunan badan jalan. Jalan ini sudah sangat sempit dan beberapa kali terjadi kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa,” kata Mustofa.
Ia menegaskan, pemerintah desa tidak mengajukan permohonan bantuan anggaran kepada pemerintah daerah. Menurutnya, warga siap bergotong royong melakukan penurunan kontur jalan dengan mendatangkan alat berat secara swadaya, asalkan mendapat rekomendasi dan kepastian perizinan dari instansi terkait.
“Kami hanya berharap ada fasilitasi rekomendasi. Setelah itu masyarakat siap bekerja bersama agar jalan menjadi lebih aman. Material hasil pengerjaan juga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki jalan lain yang rusak akibat hujan,” ujarnya.
Mustofa menyebut kecelakaan di lokasi tersebut hampir terjadi setiap tahun dalam tiga hingga empat tahun terakhir. Sebagian besar melibatkan truk pengangkut pasir yang tergelincir hingga masuk ke bekas galian.
Risiko kecelakaan, lanjut dia, meningkat saat musim kemarau. Kondisi tanah berpasir menjadi lebih kering dan mudah longsor sehingga membahayakan kendaraan yang melintas. Karena itu, warga berharap proses penurunan badan jalan segera direalisasikan demi mencegah munculnya korban baru sekaligus memperlancar akses petani mengangkut hasil panen.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Kediri, Totok Minto Leksono, mengatakan peninjauan dilakukan sebagai tindak lanjut atas surat permohonan yang diajukan Pemerintah Desa Wonorejo Trisulo.
“Seluruh kondisi di lapangan sudah kami catat. Dalam waktu dekat kami akan mengundang seluruh pihak terkait untuk membahas tindak lanjutnya, mulai dari aspek regulasi, perizinan hingga langkah-langkah teknis yang harus dilakukan,” ujar Totok.
Menurutnya, penanganan jalan tersebut tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa karena menyangkut lahan yang berstatus Sertifikat Hak Milik (SHM). Persetujuan pemilik lahan menjadi syarat utama agar proses penurunan kontur jalan tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.
“Kami ingin penyelesaian masalah ini tetap berjalan sesuai aturan. Jangan sampai niat baik untuk meningkatkan keselamatan masyarakat justru memunculkan persoalan baru. Setelah ini Komisi III akan menggelar rapat bersama OPD dan pihak terkait agar solusi yang diambil benar-benar komprehensif,” pungkasnya.
jurnalis : Sigit Cahya Setyawan


