KEDIRI – Di antara deru mesin klasik dan deretan Volkswagen (VW) Kombi yang berbaris rapi di Jalan Stasiun, Kota Kediri, Jumat (24/7), puluhan kisah cinta menemukan pelabuhan yang sah. Sebanyak 53 pasangan mengikrarkan janji suci dalam prosesi nikah massal yang memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori “Nikah Massal di Dalam VW Kombi Terbanyak”.
Namun, gemerlap rekor itu sejatinya hanyalah pembuka cerita. Di balik keunikan akad nikah yang berlangsung di dalam kendaraan legendaris tersebut, tersimpan makna yang jauh lebih dalam: lahirnya kepastian hukum bagi 53 keluarga yang selama ini mendambakan pengakuan negara atas ikatan pernikahan mereka.
Kegiatan yang menjadi bagian dari Jambore Nasional Volkswagen Indonesia Association (VIA) ke-53 sekaligus rangkaian Hari Jadi ke-1.447 Kota Kediri itu memadukan pelayanan publik dengan atraksi wisata yang mampu menyedot perhatian masyarakat, bahkan wisatawan mancanegara.
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, menegaskan bahwa esensi utama acara tersebut bukanlah sekadar memecahkan rekor nasional.
“Rekor yang jauh lebih bermakna adalah lahirnya 53 keluarga baru yang memulai kehidupan dengan penuh cinta, harapan, dan kebahagiaan,” ujarnya.
Menurut Vinanda, masih terdapat pasangan yang telah menikah secara agama, namun belum tercatat secara resmi oleh negara. Melalui program nikah massal tersebut, mereka memperoleh legalitas pernikahan sekaligus perlindungan hukum sebagai suami istri.
“Melalui kegiatan ini, hak dan kewajiban suami istri dapat terlindungi secara hukum, sekaligus mereka memperoleh legalitas pernikahan secara resmi,” katanya.
Manfaat program itu dirasakan langsung oleh Yuliani, warga Rejomulyo. Bersama sang suami, Hadi Utomo, ia telah menjalani pernikahan siri sejak Maret 2023. Saat tengah mengandung buah hati pertama, keduanya memutuskan mengikuti program isbat nikah yang difasilitasi Pemerintah Kota Kediri.
Bagi Yuliani, legalitas pernikahan bukan sekadar dokumen administrasi, melainkan jaminan masa depan bagi anak yang segera lahir.
“Saya mengikuti isbat nikah ini untuk memperjelas status kami. Apalagi sebentar lagi anak kami akan lahir, sehingga nanti status anak jelas, akta kelahirannya mencantumkan nama ayah dan ibu,” tuturnya.
Ia mengaku bersyukur karena seluruh proses isbat nikah, mulai dari persidangan, pengurusan administrasi hingga berbagai fasilitas pendukung, diberikan secara gratis melalui program tersebut.
Di sisi lain, konsep akad nikah di dalam puluhan VW Kombi juga berhasil mencuri perhatian wisatawan asing. Salah satunya Dedy Sam, yang datang bersama istrinya asal Amsterdam, Belanda. Mereka sengaja menghadiri acara tersebut untuk mengenang momen pernikahan mereka yang juga menggunakan Volkswagen di Kediri tiga tahun lalu.
“Saya sangat menyukai acara ini. Penyelenggaraannya sangat baik dan menarik,” ujarnya.
Kolaborasi antara Pemerintah Kota Kediri, komunitas Volkswagen Indonesia, dan berbagai pihak itu membuktikan bahwa sebuah agenda kreatif tidak hanya mampu menciptakan rekor baru, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial yang nyata.
Di bawah atap VW Kombi yang sarat sejarah, bukan hanya janji suci yang terucap. Harapan menemukan rumahnya, cinta memperoleh pengakuan negara, dan Kediri memperkenalkan wajahnya kepada dunia—bahwa sebuah peristiwa sederhana dapat menjadi jembatan antara pelayanan publik, pelestarian budaya otomotif, dan promosi pariwisata dalam satu tarikan napas.
jurnalis : Anisa Fadila


