Dari Keroncong hingga Film Dokumenter, Stasiun Ngangeni Hidupkan Sejarah Kediri

Bagikan Berita :

KEDIRI — Kawasan Stasiun Kediri di Jalan Stasiun menyimpan jejak sejarah panjang sejak era kolonial dan menjadi saksi perkembangan Kota Kediri hingga hari ini. Memori kolektif tersebut akan dihidupkan kembali melalui gelaran budaya Stasiun Ngangeni, sebuah acara yang memadukan musik, seni, dan sejarah dalam satu ruang publik.

Kegiatan yang digagas Kediri Creative Hub ini akan menampilkan pertunjukan live music keroncong modern oleh The Amboradoel, pemutaran video dokumenter berjudul “Stasiun Jaman Kolonial”, serta penampilan sejumlah seniman dan komunitas kreatif. Gelaran ini diharapkan menjadi pengingat perjalanan panjang Kota Kediri sebagai kota tua yang tumbuh sejak masa kerajaan hingga kolonial.

Inisiator Stasiun Ngangeni, Ivan Brekele, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari semangat kolaborasi komunitas dengan persiapan sederhana dan dukungan yang terbatas. Salah satu dukungan utama datang dari pemerintah berupa pemanfaatan ruang publik di kawasan Jalan Stasiun.

“Konsep acara ini merangkul berbagai unsur kreatif, mulai dari musik, seni, hingga budaya. Ke depan, kami berharap kawasan ini tidak hanya dikenal secara lokal, tetapi juga di luar daerah sehingga dapat mendorong perputaran ekonomi,” ujar Ivan saat dikonfirmasi, Jumat (6/2).

Ia menambahkan, seluruh rangkaian kegiatan digerakkan secara swadaya oleh komunitas. Ke depan, Stasiun Ngangeni direncanakan hadir secara berkelanjutan dengan ragam genre musik, mulai dari keroncong dan campursari klasik hingga pop. Tak hanya musik, kegiatan ini juga akan melibatkan seni tari, koreografi, serta berbagai komunitas hobi.

Selain pertunjukan seni, agenda utama Stasiun Ngangeni adalah pemutaran visual dokumenter tentang Kediri tempo dulu dari koleksi Gus Barok. Dokumenter tersebut menampilkan perjalanan sejarah Kota Kediri, khususnya kawasan Jalan Stasiun, pada masa kolonial.

Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, Imam Mubarok atau Gus Barok, menjelaskan bahwa dokumenter tersebut disusun berdasarkan riset kondisi kawasan Jalan Stasiun pada masa lampau. Stasiun Kediri sendiri diresmikan pada 1882, sementara dokumentasi kawasan sekitarnya tercatat pada 1937, ketika Jalan Stasiun masih dipenuhi pepohonan rindang.

“Jalan Stasiun ini merupakan jalur lama sejak zaman kolonial dan memiliki nilai sejarah yang kuat. Kawasan ini sangat layak dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis sejarah dan budaya,” ungkap Gus Barok.

Ia menyebutkan, pembuatan film dokumenter ini bertujuan untuk mendorong konservasi bangunan bersejarah sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi generasi mendatang.

“Film ini dibuat agar generasi berikutnya tahu seperti apa Kediri yang kita miliki dan memahami pentingnya merawat warisan sejarah,” jelasnya.

Gus Barok menuturkan, wilayah sekitar Jalan Stasiun telah berkembang sejak abad ke-17 dan terus mengalami perubahan hingga masa kolonial. Pada abad ke-18, Kabupaten Kediri membangun pendopo pemerintahan di bawah kepemimpinan Bupati pertama, Pangeran Slamet Poerbonegoro, sebagai pusat administrasi. Sementara itu, Jalan Daha dikenal sebagai kawasan bersejarah yang berkaitan dengan Dahanapura, ibu kota kuno Kerajaan Kediri.

Menurutnya, pemahaman sejarah tersebut penting agar pembangunan kota tetap menjaga identitas lokal dan kekayaan budaya Kediri.

“Kondisi Kediri sekarang sangat padat. Jika melihat peta tahun 1913, dulu ruang terbuka masih sangat luas. Kini Kediri berkembang menjadi kota tujuan dengan berbagai infrastruktur, termasuk bandara,” ujarnya.

Ia juga menyinggung sejumlah bangunan bersejarah yang telah berubah fungsi, seperti Kantor Society Brantas yang kini menjadi Gedung Nasional Indonesia. Gus Barok berharap penerapan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dapat menjadi pemantik pelestarian warisan sejarah di Kota Kediri.

Selain pemutaran film dokumenter, Stasiun Ngangeni turut dimeriahkan penampilan The Amboradoel, Sela Amor dengan lagu “Kediri Kuto Ne”, serta kehadiran Jeng Nopil, Tarot Reader Kediri, yang menambah warna dalam gelaran budaya tersebut.

Panitia menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan diselenggarakan dengan tetap menghormati karakter dan estetika kawasan Jalan Stasiun agar nuansa sejarah dan budaya tetap terjaga. Karena itu, faktor cuaca menjadi salah satu tantangan utama, mengingat pembangunan tenda darurat dinilai dapat mengganggu keindahan kawasan. Panitia pun memilih menyesuaikan jadwal demi menjaga kenyamanan pengunjung dan keotentikan suasana.

Melalui Stasiun Ngangeni, komunitas kreatif berharap kawasan Jalan Stasiun tidak sekadar menjadi ruang lalu lintas, tetapi juga ruang interaksi budaya yang menghubungkan sejarah, kreativitas, dan masa depan Kota Kediri.

jurnalis : Anisa Fadila
Bagikan Berita :