KEDIRI – Langkah besar menuju swasembada gula konsumsi nasional semakin nyata. Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kementerian Pertanian RI, dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) resmi memulai tanam perdana Program Bongkar Ratun Tebu di Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Sabtu (23/5/2026). Acara ini disaksikan langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang menegaskan pentingnya strategi terpadu dari hulu ke hilir.
Program bongkar ratun tebu ini menjadi salah satu kunci untuk mempercepat target swasembada gula konsumsi, yang awalnya ditargetkan 2028, kini optimis bisa tercapai pada 2026. Jawa Timur sendiri berperan strategis karena menyumbang 85 persen produksi gula nasional.
Khofifah menyoroti persoalan klasik yang menahan pertumbuhan gula lokal. Menurutnya, bukan sekadar harga rendah yang jadi masalah, melainkan ketiadaan pembeli saat lelang gula petani. Ditambah lagi, gula rafinasi yang membanjiri pasar konsumsi membuat gula petani tak kompetitif. “Kalau gula rafinasi masuk pasar konsumsi, gula petani tidak akan bisa bersaing. Target swasembada harus satu paket dengan penguatan ekosistem,” tegasnya.
Direktur PT SGN, Mahmudi, mengungkapkan lonjakan ambisius program bongkar ratun tahun ini: dari 11 ribu hektare pada 2025 menjadi 54 ribu hektare di 2026, lima kali lipat lebih besar. Ia menekankan, kualitas tanaman tebu menentukan 80 persen rendemen gula, sementara pabrik hanya berkontribusi 20 persen. “Pembaruan varietas dan bongkar ratun adalah kunci peningkatan produksi,” jelasnya.
Tak hanya itu, PT SGN juga menyiapkan langkah strategis melalui pembangunan pabrik etanol di Kediri, sebagai bagian dari program hilirisasi tebu nasional bersama Pertamina.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur, Heri Suseno, menegaskan percepatan ini krusial untuk memenuhi kapasitas giling pabrik dan meningkatkan produktivitas tebu. Target di Kabupaten Kediri sendiri mencapai 7 ribu hektare, dengan 2.192 hektare sudah resmi diterbitkan SK CPCL. Tahun lalu, Kediri bahkan masuk peringkat nasional sebagai daerah dengan bongkar ratun terluas, yakni 3.864 hektare.
Pemkab Kediri juga memperkuat dukungan bagi petani melalui bantuan alat dan mesin pertanian, serta pembangunan ratusan sumur submersible untuk menghadapi musim kemarau ekstrem. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perkebunan Kediri, Sukadi, menyebut ada 286 titik sumur submersible yang siap mendukung sektor pertanian tahun ini.
Di lapangan, tantangan terbesar tetap dari sisi petani. Serangan hama uret dan biaya panen tinggi menjadi momok. Ketua Kelompok Tani Astama Adijaya Radikatani, Teguh Budiono, berharap pemerintah memperkuat pengendalian hama secara menyeluruh dan menambah dukungan alat modern pertanian. “Kalau pengendalian hama tidak dilakukan serentak, uret akan berpindah-pindah. Selain itu, tenaga panen sekarang juga mahal dan sulit didapat,” jelasnya.
Dengan sinergi pemerintah, industri, dan petani, Jawa Timur optimistis bukan hanya memenuhi target produksi gula nasional, tapi juga mengawal stabilitas harga dan memperkuat ekosistem pertanian tebu. Swasembada gula konsumsi 2026 kini bukan lagi mimpi, tapi peluang nyata.



