KEDIRI — Sabtu (23/5) menjadi hari yang penuh warna di Kota Kediri. Ribuan warga tumpah ruah dari Rumah Budaya hingga Goa Selomangleng untuk menyaksikan Kirab Paripuja Eyang Dewi Kilisuci, sebuah tradisi budaya yang memadukan spiritualitas dan pertunjukan seni yang memukau. Dengan semboyan “Rahayu Budaya, Rahayu Leluhur, Rahayu Nusantara”, kirab ini menampilkan ratusan penampil Barongan, Pecut, dan Jaranan dari berbagai daerah.
Tidak hanya sekadar hiburan, acara ini juga menjadi panggung edukatif bagi generasi milenial dan Gen Z, mengenalkan sejarah dan kesenian tradisional Kediri melalui pertunjukan tari jaran kepang, tari pecut, dan tari gambyong sebelum rombongan diberangkatkan.
Ketua Tim Kerja Perlindungan dan Pengembangan Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Lesli Citra Pertiwi, menyebut kirab ini sebagai etalase hidup budaya Kediri. “Kegiatan semacam ini tidak hanya menjaga tradisi, tapi juga mengedukasi masyarakat luas tentang kekayaan kesenian kita,” ujarnya.
Sementara itu, Vera Veniwati dari Balai Pelestarian Kebudayaan menyoroti antusiasme lintas generasi: anak-anak, remaja, hingga orang tua terlibat aktif dalam menjaga dan merayakan budaya lokal. Hal senada diungkap Rindu Rikat, Ketua Yayasan Rumah Budaya Kediri, yang menyebut sekitar seribuan peserta terlibat dalam ritual ini sebagai penghormatan atas perjalanan spiritual Dewi Kilisuci.
Masyarakat lokal pun antusias menyaksikan prosesi sepanjang rute. Salah seorang warga Pulosari, Kecamatan Mojoroto, mengaku sengaja datang bersama anak dan cucunya. “Kirab ini tidak hanya menarik untuk ditonton, tapi juga menjadi sarana pengenalan budaya bagi anak-anak,” tuturnya.
Acara diakhiri dengan ritual di bawah Goa Selomangleng sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Kilisuci, sekaligus ungkapan syukur atas warisan budaya yang tetap terjaga hingga kini. Meski berlangsung secara mandiri, komitmen untuk menjaga tradisi budaya Kediri tetap kuat, menegaskan bahwa sejarah leluhur hidup melalui masyarakatnya.



