foto : Anisa Fadila / istimewa

Dari Baja Ringan ke Genteng, Proyek Sekolah Rakyat Dikebut Meski Alami Deviasi

KEDIRI – Penerapan program gentengisasi yang merupakan bagian dari instruksi Presiden Prabowo Subianto mulai berdampak langsung pada pembangunan Sekolah Rakyat di Kota Kediri. Penyesuaian desain atap tersebut memicu perubahan teknis sekaligus memengaruhi progres pekerjaan dan nilai anggaran proyek.

Berlokasi di Kelurahan Lirboyo dengan luas lahan mencapai 5,2 hektare, proyek ini dirancang sebagai kawasan pendidikan terpadu. Total terdapat 29 bangunan yang akan dibangun, meliputi 22 gedung utama serta sejumlah fasilitas pendukung seperti lapangan mini soccer dan voli.

Project Manager Sekolah Rakyat Kota Kediri, Yolanda Faricha melalui Set Engineering Manager Muhammad Syawal menjelaskan, kompleks pendidikan ini mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA dengan total 36 rombongan belajar dan kapasitas sekitar 1.080 siswa.

Namun hingga 30 April 2026, progres pembangunan mengalami deviasi sebesar 11,156 persen. Dari target pekerjaan sebesar 51,564 persen, realisasi baru mencapai 40,408 persen. Secara keseluruhan, progres proyek berada di angka 47,53 persen, dengan sekitar 7 persen pekerjaan belum dapat diakui akibat penyesuaian desain atap.

“Progres fisik yang terakui saat ini sekitar 40,41 persen. Ada pekerjaan yang belum bisa diakui karena mengikuti instruksi gentengisasi,” ujar Syawal.

Ia menambahkan, proyek Sekolah Rakyat wilayah Jawa Timur 3 mencakup empat daerah, yakni Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kabupaten Pasuruan, dan Kota Pasuruan. Penerapan gentengisasi dilakukan di Kota Kediri dan Kabupaten Pasuruan, mempertimbangkan potensi gempa dengan kategori menengah.

Perubahan material penutup atap dari metal berpasir menjadi genteng turut berdampak pada struktur rangka bangunan. Rangka yang semula menggunakan baja ringan kini harus diganti menjadi baja canai atau baja profil.

“Perubahan penutup atap otomatis mengubah struktur rangka yang digunakan,” jelasnya.

Penyesuaian ini sempat memperlambat pekerjaan karena harus melalui proses adendum kontrak. Meski demikian, aktivitas konstruksi tetap berjalan secara paralel di lapangan.

Dari sisi pembiayaan, perubahan desain menyebabkan peningkatan nilai proyek. Anggaran yang semula sekitar Rp217 miliar (di luar PPN) diperkirakan naik menjadi Rp225 miliar. Kenaikan tersebut dipicu tambahan biaya sekitar 4 persen untuk rangka dan 1,5 persen untuk penutup atap genteng.

Selain itu, kendala juga muncul pada ketersediaan material dengan spesifikasi seragam di beberapa lokasi proyek. Saat ini, sebagian material masih dalam tahap pemesanan.

Untuk mengejar ketertinggalan, kontraktor melakukan percepatan dengan menambah tenaga kerja, menerapkan dua shift, serta mengerjakan beberapa bagian proyek secara paralel.

Pekerjaan kini berlangsung hampir tanpa henti, dimulai pukul 07.00 hingga 22.00, dilanjutkan pekerjaan struktur hingga dini hari. Jumlah tenaga kerja mencapai 825 orang dan direncanakan bertambah sekitar 100 pekerja.

Sejumlah bangunan bahkan telah memasuki tahap akhir penutupan atap, di antaranya masjid, gedung serbaguna, serta kantin SMA yang kini dalam proses pemasangan genteng.

Meski menghadapi kendala teknis dan logistik, proyek ini dipastikan masih dalam jalur penyelesaian dan ditargetkan rampung pada 20 Juni 2026.

Sekolah Rakyat tersebut diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu, sekaligus menghadirkan fasilitas pendidikan terpadu yang lebih inklusif di Kota Kediri.