Bukan Turun ke Jalan, Mahasiswa Kediri Pilih Mimbar Bebas untuk Kritik Pemerintah

KEDIRIRevolusi! Pekik sejumlah elemen mahasiswa di Kediri saat menggelar mimbar bebas bertajuk “Ruang Publik” dengan tema “Anak Semua Bangsa – Ruang Selamat untuk Semua Warga.” Kegiatan ini menjadi ruang bersama bagi mahasiswa, komunitas, organisasi, dan masyarakat lintas kalangan untuk menyampaikan pandangan terkait situasi sosial politik terkini.

Dalam forum tersebut, para mahasiswa menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah, mulai dari kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, kondisi ekonomi masyarakat, hingga rencana pembangunan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) di Kabupaten Kediri yang disebut berpotensi disusul di wilayah kota.

Kehadiran unsur TNI dalam konteks pembangunan batalyon itu turut menjadi perhatian peserta mimbar. Mereka menilai, meski rencana tersebut disebut bertujuan memperkuat pertahanan wilayah dan mendukung program ketahanan pangan nasional, masyarakat tetap perlu mendapat penjelasan terbuka agar tidak muncul kekhawatiran terkait dampaknya.

Selain menyoroti pembangunan batalyon, peserta mimbar juga mempertanyakan sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta kebijakan kenaikan harga bahan bakar yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Koordinator acara, Muhammad Izzat Qurtubi, menjelaskan bahwa kegiatan ini digelar sebagai wadah silaturahmi sekaligus ruang berpikir bersama bagi berbagai kelompok masyarakat. Menurutnya, kondisi sosial politik saat ini perlu direspons dengan cara yang aman, terbuka, dan melibatkan banyak pihak.

“Kita merasa bahwa ruang publik itu menjadi ruang berpikir kita. Mengingat kondisi sosial politik hari ini sedang menuju krisis yang tidak bisa kita bayangkan dampaknya. Harapan saya pribadi sebagai penanggung jawab, acara ini akan dilakukan oleh lintas kelompok setiap triwulan,” ujar Izzat.

Izzat menegaskan bahwa mimbar bebas tersebut menjadi simbol bahwa warga Kediri tidak tinggal diam terhadap persoalan yang terjadi. Namun, pihaknya memilih tidak menggelar aksi turun ke jalan karena belajar dari pengalaman demonstrasi pada Agustus 2025 yang disebut sempat disusupi oleh pihak tidak bertanggung jawab.

“Kami belajar dari pengalaman demonstrasi pada Agustus 2025 yang sempat disusupi oleh ‘penumpang gelap’. Kini kami lebih berhati-hati agar kejadian serupa tidak terulang. Cara seperti ini lebih aman dan memastikan keselamatan bersama, agar tidak ada lagi yang harus berurusan dengan hukum,” jelasnya.

Melalui mimbar bebas ini, mahasiswa berharap ruang publik di Kediri tetap menjadi tempat yang aman bagi warga untuk menyampaikan pendapat, berdiskusi, dan mengawal kebijakan pemerintah secara kritis.

jurnalis : Nanang Priyo Basuki