Kediri – Lantunan doa dan istighotsah menggema di pusat Kota Kediri pada Senin (15/6) petang. Ribuan jamaah memadati kawasan Balai Kota hingga meluber ke sejumlah ruas jalan utama untuk mengikuti istighotsah akbar dalam rangka menyambut pergantian tahun 1447 Hijriah menuju 1448 Hijriah.
Kegiatan yang mengusung tema “Bermunajat untuk Menyongsong Masa Depan yang Gemilang” tersebut diikuti oleh masyarakat, ulama, serta jajaran pemerintah daerah yang bersama-sama memanjatkan doa untuk keselamatan, keberkahan, dan kemajuan bangsa.
Sejak sore hari, suasana religius telah terasa di pusat kota. Antusiasme masyarakat membuat sejumlah ruas jalan protokol seperti Jalan Basuki Rahmat, Brawijaya, Hayam Wuruk, Dhoho, kawasan sekitar Stasiun, hingga Titik Nol Kota Kediri dipadati jamaah.
Rangkaian acara diawali dengan penampilan rebana, dilanjutkan istighotsah, doa akhir tahun 1447 Hijriah, salat Magrib berjamaah, doa awal tahun 1448 Hijriah, serta ditutup dengan mauidhoh hasanah oleh Ketua Umum MUI KH M. Anwar Iskandar.
Hadir dalam kesempatan tersebut Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, Wakil Wali Kota Qowimuddin Thoha, jajaran Forkopimda, para ulama, pengasuh pondok pesantren, tokoh lintas agama, serta ribuan masyarakat.
Dalam sambutannya, Wali Kota Kediri menekankan pentingnya menjadikan pergantian tahun Hijriah sebagai momentum refleksi diri. Ia menyebut bahwa pergantian tahun tidak hanya sekadar perubahan angka, tetapi juga pengingat bertambahnya pengalaman dan amanah kehidupan.
“Karena yang berganti bukan hanya angka tahun, tetapi juga bertambahnya pengalaman, berkurangnya usia, dan semakin besarnya amanah yang harus kita pertanggungjawabkan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pembentukan karakter generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, di mana kecerdasan harus diimbangi dengan akhlak, adab, serta kepedulian sosial.
Sementara itu, Ketua PCNU Kota Kediri KH Abu Bakar Abdul Jalil (Gus Ab) mengajak masyarakat menjadikan momentum tahun baru Hijriah sebagai sarana memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas amal.
“Mari berhijrah dari akhlakul mazmumah menuju akhlakul mahmudah,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kebersamaan antara ulama, pemerintah, santri, masyarakat, dan tokoh lintas agama mencerminkan kuatnya nilai toleransi di Kota Kediri. Hal tersebut menjadi fondasi penting dalam mewujudkan kota yang harmonis, religius, dan terus berkembang.
Kegiatan kemudian ditutup dengan mauidhoh hasanah KH M. Anwar Iskandar yang memperkuat pesan spiritual dan kebersamaan dalam menyambut tahun baru Hijriah.



