‘Gunungan Meledak’ di Ngadirejo: Tradisi 60 Tahun Terbangun Lagi, Warga Rebut Berkah Bulan Muharram

KEDIRI – Setelah puluhan tahun seolah tenggelam dalam ingatan, sebuah tradisi lama di Kelurahan Ngadirejo akhirnya kembali menghidupkan denyut kebersamaan warga. Dalam suasana penuh haru dan semarak, dua gunungan berisi hasil bumi diarak keliling kampung sebelum akhirnya “pecah” menjadi rebutan berkah di depan Kantor Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Ngadirejo.

Momen itu menjadi puncak kemeriahan Pawai Ta’aruf menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Selasa (16/6), yang disambut antusias sekitar 500 warga dari berbagai kalangan.

Sejak pagi, Jalan Setono Barat di depan SD Ngadirejo telah dipadati masyarakat yang menjadi titik awal kirab budaya. Dua gunungan berisi sayuran, hasil pertanian, dan makanan ringan hasil swadaya warga, bersama 15 tumpeng, diarak melewati rute Ngadisimo Utara, Pasar Ngaglik, hingga berakhir di depan kantor KKMP Ngadirejo.

Namun suasana mencapai puncaknya ketika rombongan tiba di lokasi akhir. Dalam hitungan menit, gunungan yang sebelumnya sakral dan tertata rapi langsung dibagikan kepada warga. Tangan-tangan warga dari anak-anak hingga orang tua saling berebut berkah, menciptakan pemandangan penuh kegembiraan dan kebersamaan yang jarang terlihat.

Acara ini kemudian ditutup dengan doa bersama di Makam Ngadisimo, sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus permohonan keselamatan bagi masyarakat.

Anggota DPRD Kota Kediri sekaligus warga setempat, Afif Fachrudin Wijaya, menyebut peringatan 1 Muharram ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang untuk merawat tradisi dan memperkuat ikatan sosial masyarakat.

Ia berharap kegiatan yang kembali dihidupkan ini dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang mempererat persaudaraan warga Ngadirejo dari generasi ke generasi.

Sementara itu, Lurah Ngadirejo, Heru Sugiarto, mengungkapkan bahwa tradisi kirab gunungan ini pernah hidup dan rutin digelar sebelum tahun 1965, sebelum akhirnya terhenti selama puluhan tahun.

Berbekal cerita para sesepuh dan tokoh masyarakat, tradisi tersebut kini dirintis kembali sebagai upaya “nguri-uri budaya” sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai leluhur yang pernah tumbuh di tengah masyarakat.

“Ini bukan sekadar kirab, tetapi juga doa bersama untuk para leluhur dan harapan agar masyarakat selalu diberi kesejahteraan,” ujarnya.

Heru menambahkan, seluruh isi gunungan berasal dari swadaya masyarakat, terutama para pedagang yang dengan sukarela menyumbangkan hasil dagangannya untuk dirangkai dan kemudian dibagikan kembali kepada warga.

Menurutnya, gunungan tersebut menjadi simbol kuat bahwa tidak ada sekat sosial di tengah masyarakat.

“Tidak ada perbedaan kasta atau jabatan. Semua harus saling menghormati dan bersatu dalam kebersamaan,” tegasnya.

Usai kirab, warga berkumpul di Makam Ngadisimo untuk doa bersama, sebelum akhirnya menikmati kebersamaan dalam acara makan 15 tumpeng yang disiapkan oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari RW, LPMK, Karang Taruna, hingga pihak kelurahan.

Kegiatan yang juga dihadiri Camat Kota Kediri, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen warga ini menjadi penanda bahwa tradisi lama yang sempat terhenti kini kembali menemukan nyawanya.

Di tengah arus modernisasi, Ngadirejo seolah mengirim pesan sederhana namun kuat: kebersamaan, gotong royong, dan budaya leluhur tetap hidup selama masyarakat mau menjaganya.

jurnalis : Anisa Fadila