Menembus Laut, Menjemput Pengabdian: Kisah Kader HMI Kendari Mengikuti Training Raya Nasional di Kediri

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Lautan yang terbentang, ribuan kilometer perjalanan, hingga hari-hari yang dihabiskan di atas kapal bukanlah penghalang bagi para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk menjemput ilmu. Dari Kendari, Bombana, Ambon, Makassar, Kalimantan hingga Sumatra, mereka datang ke Kota Kediri dengan satu tujuan: memperkuat kapasitas diri agar kelak mampu kembali mengabdi di daerah masing-masing.

Sebanyak 40 peserta dinyatakan lolos mengikuti Training Raya Nasional Intermediate Training (LK II) dan Senior Course (SC) Tahun 2026. Mereka terdiri atas 32 peserta Intermediate Training dan delapan peserta Senior Course yang akan menjalani proses kaderisasi pada 1–6 Agustus 2026 di Wisma Yohanes, Jalan Raya Puhsarang, Desa Kedak, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Di antara puluhan peserta tersebut, perhatian tertuju kepada Ervin, yang akrab disapa Rimba, kader HMI Cabang Kendari sekaligus mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO). Demi mengikuti Senior Course di Kediri, ia rela menempuh perjalanan panjang melintasi laut dan daratan selama beberapa hari.

Bagi Rimba, Kediri bukan sekadar lokasi penyelenggaraan pelatihan. Kota ini memiliki nilai historis yang membuatnya mantap datang dari Sulawesi Tenggara.

“Saya ingin belajar di Kediri, yang mana salah satu pencetus Nilai Dasar Perjuangan (NDP) juga berasal dari Kediri,” ujarnya.

Tekad itu membawanya memulai perjalanan sejak 23 Juli dari Kendari menuju Baubau. Sehari kemudian, ia menaiki kapal Pelni menuju Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan darat hingga akhirnya tiba di Kediri pada 26 Juli.

Perjalanan panjang yang menguras waktu dan tenaga itu justru menjadi bagian dari ikhtiar yang diyakininya. Sebab, baginya, setiap kilometer yang ditempuh adalah langkah menuju tanggung jawab yang lebih besar sebagai kader.

Sesampainya di Kediri, Rimba mengaku terkesan dengan suasana kota yang menurutnya nyaman dan tertata. Ia juga cukup terkejut dengan biaya hidup yang dinilai lebih terjangkau dibandingkan daerah asalnya.

“Saya masih bisa mendapatkan makanan dengan harga hanya Rp6.000, Rp7.000, sampai Rp8.000,” katanya.

Tak hanya itu, penataan kota yang rapi, jalanan yang relatif lengang, serta rindangnya pepohonan di sepanjang jalan turut meninggalkan kesan mendalam.

“Kota Kediri sangat rapi. Jalannya tidak macet, dan penataan pohon di setiap jalan membuat kesan kota ini rimbun,” ungkapnya.

Perjalanan ke Kediri menjadi mata rantai lanjutan dalam proses kaderisasi yang telah ia jalani. Sebelumnya, Rimba telah menyelesaikan Latihan Kader I (LK I) di HMI Cabang Kendari dan Intermediate Training (LK II) di HMI Cabang Bandung, Koordinator Komisariat Universitas Islam Bandung (Unisba).

Kini, melalui Senior Course, ia berharap dapat meningkatkan kapasitasnya agar mampu menjadi instruktur dalam proses kaderisasi HMI di daerah asal.

Menurutnya, lulusan Senior Course memiliki legalitas sebagai pendidik atau instruktur kaderisasi. Sementara itu, kebutuhan instruktur di HMI Cabang Kendari masih cukup besar karena banyak kader senior telah disibukkan oleh aktivitas pekerjaan.

“Saya ingin melanjutkan SC agar, insyaallah jika lulus, saya bisa mengabdi di cabang sendiri dan membantu proses pengaderan,” tegasnya.

Training Raya Nasional tahun ini mempertemukan kader-kader HMI dari berbagai penjuru Indonesia dalam satu ruang pembelajaran. Bagi sebagian peserta, perjalanan menuju Kediri bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan perjalanan batin untuk memperkuat komitmen sebagai kader.

Kisah Rimba menjadi gambaran bahwa semangat berorganisasi tidak pernah diukur dari seberapa jauh jarak yang ditempuh, melainkan dari keberanian untuk terus belajar, menempa diri, lalu kembali pulang membawa manfaat. Dari Timur Indonesia menuju Kediri, ia datang bukan hanya untuk mengikuti pelatihan, tetapi untuk mempersiapkan diri menjadi penggerak kaderisasi di tanah kelahirannya.

 

jurnalis : Anisa Fadila