Berawal dari Limbah Plastik, UMKM Kediri Raup Pelanggan Baru Berkat Sentuhan Bank Indonesia

KEDIRI – Pameran UMKM dalam rangka Karya Kreatif Mataraman 2026 yang digelar Bank Indonesia di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) pada 26–28 Juni 2026 tidak sekadar menjadi etalase produk lokal. Ajang tersebut juga membuka peluang pasar baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus memperkenalkan inovasi produk ramah lingkungan berbasis daur ulang limbah plastik.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak positif kegiatan tersebut adalah Desi Puji Lestari, pemilik UMKM Aslabar asal Bandar Lor, Kota Kediri. Sejak bergabung sebagai UMKM binaan Bank Indonesia pada akhir 2021, usahanya terus mengalami perkembangan melalui berbagai program pelatihan, pendampingan, hingga kesempatan mengikuti pameran di berbagai daerah.

Desi mengungkapkan, keikutsertaan dalam berbagai agenda yang difasilitasi Bank Indonesia memberikan manfaat nyata terhadap pengembangan usahanya. Selain memperluas jaringan pemasaran, berbagai pameran tersebut juga menghadirkan pelanggan baru yang berdampak pada peningkatan penjualan.

“Alhamdulillah selama menjadi binaan BI kami selalu diajak mengikuti event-event BI. Dari sana kami mendapat banyak pelanggan baru dan omzet juga semakin meningkat,” ujar Desi, Sabtu (27/6).

Pada pameran Karya Kreatif Mataraman, Aslabar menghadirkan beragam produk makanan olahan, mulai dari pisang topping keju cokelat, keripik telo keju, keripik talas, hingga aneka kue kering. Namun, perhatian pengunjung juga tertuju pada produk tas dan goody bag yang dibuat dari limbah plastik bekas kemasan minyak goreng.

Menurut Desi, inovasi tersebut lahir dari upaya memanfaatkan limbah produksi agar memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung konsep usaha berkelanjutan.

“Kami harus bisa mengolah limbah dari tempat produksi kami, termasuk limbah plastik agar memiliki nilai tambah,” katanya.

Dalam proses produksinya, kemasan plastik bekas dikumpulkan kemudian diolah bersama para penjahit menjadi berbagai produk yang layak pakai dan memiliki nilai jual. Selain menjadi sumber pendapatan tambahan, produk tersebut juga menjadi media edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah dan pemanfaatan limbah plastik.

Meski demikian, Desi mengakui pemasaran produk hasil daur ulang masih menghadapi tantangan. Minat konsumen terhadap produk berbahan limbah belum sebesar produk makanan olahan karena umumnya pembeli berasal dari kalangan yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan dan ekonomi sirkular.

Di sisi lain, produk makanan tetap menjadi andalan Aslabar. Pisang topping keju cokelat serta keripik telo keju tercatat sebagai produk yang paling banyak diminati pengunjung selama pameran berlangsung.

Bagi Desi, berbagai kegiatan promosi yang difasilitasi Bank Indonesia telah membantu pelaku UMKM memperluas pasar hingga menjangkau konsumen baru, baik dari Kota maupun Kabupaten Kediri. Ia berharap kegiatan serupa terus berlanjut agar semakin banyak produk lokal mampu bersaing di pasar sekaligus mendorong tumbuhnya UMKM yang berkelanjutan.

“Semoga dengan adanya event-event yang dilaksanakan BI, usaha kami semakin berkembang, semakin sukses, menjadi UKM yang berkelanjutan dan bisa bermanfaat bagi masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

jurnalis : Radisty Sadam Inzagi – Sigit Cahya Setyawan