KEDIRI – Sebuah cara unik untuk meningkatkan budaya literasi dilakukan Pemerintah Kota Kediri bersama komunitas barber. Lewat program bertajuk “Tukar Bukumu, Ubah Gayamu!”, masyarakat cukup membawa satu buku sebagai syarat untuk mendapatkan layanan potong rambut gratis.
Program yang digelar dalam Festival Literasi Kota Kediri di GOR Jayabaya, Sabtu (27/6), itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Namun, di balik layanan pangkas rambut tanpa biaya tersebut, tersimpan misi sosial untuk memperluas akses bacaan bagi anak-anak di berbagai kampung.
Ketua Syndicate Barber Indonesia sekaligus pemilik Dostco Barber Shop Kediri, Ranggi Samudra, mengatakan gerakan tersebut berangkat dari keresahan para barber yang masih menjumpai pelanggan usia sekolah dasar belum memiliki kemampuan membaca dengan baik.
“Kami membuat program potong rambut gratis untuk meningkatkan minat baca anak-anak,” kata Ranggi.
Menurutnya, setiap buku yang disumbangkan masyarakat akan dikumpulkan dan didistribusikan ke sejumlah kampung yang selama ini menjadi lokasi kegiatan literasi komunitas tersebut.
“Buku yang kami dapat hari ini nanti akan dibawa ke kampung-kampung untuk dibaca anak-anak,” ujarnya.
Program barter buku ini menjadi langkah awal komunitas dalam membangun koleksi buku secara mandiri. Selama ini, kegiatan literasi yang mereka jalankan masih mengandalkan pinjaman buku dari perpustakaan desa.
Gerakan sosial yang dimulai sejak 2025 tersebut kini telah menjangkau empat wilayah, yakni Pakelan, Dandangan, Kaliombo, dan Bobang. Komunitas yang berdiri pada Agustus 2025 itu juga telah memiliki sekitar 80 anggota dari berbagai daerah yang aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial.
Konsep sederhana namun sarat makna itu mendapat sambutan positif dari pengunjung festival. Salah satunya Agus Dimantara yang mengaku tertarik mengikuti program karena menawarkan cara berbeda untuk berdonasi.
“Hasil potongannya bagus. Semoga buku yang saya sumbangkan tadi bisa bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya.
Agus menilai kualitas layanan yang diberikan tidak berbeda dengan barbershop pada umumnya. Pengunjung tetap dapat memilih model potongan rambut sesuai keinginan, sementara jumlah buku yang disumbangkan pun tidak dibatasi.
Melalui gerakan tersebut, komunitas barber berharap semakin banyak masyarakat terdorong untuk berbagi buku sekaligus membantu menumbuhkan budaya membaca di kalangan anak-anak. Kombinasi antara layanan potong rambut dan donasi buku ini diharapkan menjadi cara kreatif untuk memperkuat gerakan literasi di tengah masyarakat.



