KEDIRI – Perubahan besar kerap berawal dari hal sederhana. Di SMKN 2 Kediri, titik tolak itu dimulai dari kebersihan. Perlahan namun pasti, wajah sekolah yang sebelumnya kurang tertata kini bertransformasi menjadi ruang belajar yang nyaman—seiring meningkatnya prestasi siswa.
Di balik perubahan tersebut, ada peran Kepala SMKN 2 Kediri, Nikmatus Sahadah, yang memilih turun langsung mengawal setiap proses pembenahan di lapangan.
Perempuan kelahiran 1974 asal Ngrogol, Kabupaten Kediri itu memulai kiprahnya sebagai guru pada 1998 di MAN 1 Kediri. Latar belakangnya sebagai pengajar kimia membentuk karakter kepemimpinan yang presisi dan sistematis.
Baginya, mengelola sekolah tak ubahnya meracik reaksi kimia: setiap unsur harus tepat agar menghasilkan perubahan yang diharapkan.
Kariernya berlanjut sebagai aparatur sipil negara pada 2003 di SMA Negeri 1 Gurah. Selain mengajar, ia dipercaya menangani bidang sarana dan prasarana sebagai wakil kepala sekolah. Pengalaman itu semakin matang setelah menempuh pendidikan magister di Universitas Negeri Surabaya melalui beasiswa Presiden pada 2012, serta mengikuti program magang di Thailand.
Jejak kepemimpinannya menguat saat ia bertugas di SMKN 1 Grogol sejak 2015, sebelum akhirnya lolos seleksi kepala sekolah pada 2021. Sejak Oktober 2024, ia mengemban amanah memimpin SMKN 2 Kediri.
Namun, jabatan tak mengubah pendekatannya. Ia tetap memposisikan diri sebagai pendidik yang dekat dengan siswa.
“Anak-anak itu seperti anak sendiri. Harus dimotivasi agar terus sekolah dan berkembang,” ujarnya.
Pendekatan tersebut bukan sekadar slogan. Ia aktif berinteraksi langsung dengan siswa, bahkan mendatangi rumah mereka ketika menghadapi persoalan serius, termasuk risiko putus sekolah.
Membangun Jejaring

Pembenahan dimulai dari aspek paling mendasar: lingkungan sekolah. Saat pertama menjabat, kondisi sekolah dinilai belum tertata dan kurang bersih. Perubahan dilakukan bertahap—mulai dari penataan taman, kebersihan, hingga estetika lingkungan.
Hasilnya mulai terasa. Lingkungan belajar menjadi lebih kondusif dan mendapat respons positif dari orang tua siswa.
Transformasi fisik itu berjalan beriringan dengan capaian akademik. Jumlah siswa yang lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) meningkat signifikan, dari 16 siswa menjadi 31 siswa, hingga kini mencapai 44 siswa. Selain itu, 21 siswa juga diterima melalui jalur SPAN PTKIN.
Ia menegaskan, meski SMK identik dengan dunia kerja, jalur pendidikan tinggi tetap penting.
“Dengan kuliah, siswa bisa meningkatkan kemampuan, memperluas wawasan, dan membangun jejaring,” katanya.
Di sisi lain, konektivitas dengan dunia industri tetap diperkuat. Seluruh delapan jurusan telah menjalin kerja sama dengan mitra industri. Siswa kelas 11 secara rutin mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL), bahkan sebagian telah direkrut sebelum lulus.
Tahun ini, sekitar 110 lulusan terserap langsung ke dunia kerja, sementara lainnya memilih berwirausaha. Sekolah juga mengoptimalkan Bursa Kerja Khusus (BKK) untuk memantau lulusan melalui tracer study.
Meski demikian, tantangan pendidikan vokasi masih menjadi perhatian, terutama dalam menjaga konsistensi siswa mengembangkan keterampilan di luar kelas.
Untuk menjawab itu, sekolah menghadirkan guru tamu dari industri serta memperkuat fasilitas praktik melalui laboratorium di tiap jurusan.
Upaya berkelanjutan ini turut berbuah prestasi. SMKN 2 Kediri mencatatkan sejumlah capaian, di antaranya Juara 1 LKS Provinsi Jawa Timur 2025 bidang Bilingual Secretary, Juara 2 dan 3 LKS bidang Tourism Industry, hingga penghargaan tingkat provinsi dan nasional bagi guru dan siswa.
Tak hanya akademik, prestasi juga diraih di bidang digitalisasi dan seni budaya, termasuk juara dalam program DIGICUAN, QRIS GESIT, serta kompetisi tari nasional di Surabaya.
Ke depan, sekolah menargetkan peningkatan jumlah siswa yang lolos SNBP dan meraih juara 1 LKS tingkat nasional.
“Pendidikan harus mampu melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.



