KEDIRI – Di balik kerasnya dentuman pukulan dan tendangan di arena Combat Sport Tarung Juara Sejati (TJS) Sabuk Wali Kota Kediri 2026, tersimpan kisah tentang keberanian seorang perempuan muda yang memilih melawan keraguan daripada menyerah pada keadaan.
Srikandi lintas disiplin asal Blitar, Amalia Norma Liani (18), sukses merebut gelar juara nomor striking kelas 48 kilogram putri dalam kejuaraan yang digelar di GOR Jayabaya, Kota Kediri, Minggu (19/7). Ketika wasit mengangkat tangannya sebagai pemenang, senyum bangga terpancar di wajah atlet muda tersebut. Kemenangan itu bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan buah dari perjuangan panjang yang ditempa oleh latihan, kegagalan, dan keyakinan.
Perjalanan Amalia menuju podium juara tidak dimulai dengan jalan yang mudah. Saat pertama kali memilih menekuni dunia bela diri, ia sempat menghadapi penolakan dari sang ibu yang khawatir karena putrinya memilih olahraga yang identik dengan pertarungan fisik. Namun, dukungan ayah serta pelatih menjadi fondasi yang menguatkan langkahnya.
“Awalnya ibu tidak mengizinkan karena saya perempuan. Tetapi ayah mendukung karena melihat saya memiliki potensi di bela diri, ditambah dukungan dari pelatih,” ujar Amalia.
Kecintaannya terhadap olahraga tarung telah tumbuh sejak duduk di bangku kelas lima sekolah dasar melalui pencak silat. Seiring waktu, ia memperluas kemampuannya dengan mempelajari wushu sanda, gulat, kickboxing, hingga muaythai. Baginya, setiap cabang bela diri menghadirkan pengalaman berbeda yang memperkaya teknik sekaligus membentuk mental bertanding.
Karier kompetitifnya dimulai pada 2019 ketika berhasil meraih posisi runner-up Kejuaraan Nasional Pencak Silat di Nganjuk. Prestasi tersebut menjadi pijakan awal untuk terus berkompetisi di berbagai ajang.
Namun, perjalanan menuju puncak tidak selalu dihiasi kemenangan. Pada 2024, Amalia meraih peringkat ketiga Kejuaraan Provinsi Gulat di Lumajang, kemudian mengalami kekalahan saat berlaga pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) cabang wushu sanda di Madura. Kekalahan itu menjadi pengalaman pahit pertama dalam perjalanan kompetisinya.
Alih-alih mematahkan semangat, kegagalan justru menjadi titik balik yang mengubah cara pandangnya terhadap latihan.
“Itu menjadi kekalahan pertama saya. Setelah itu saya berlatih lebih keras dan alhamdulillah bisa sampai di titik ini,” tuturnya.
Kerja keras tersebut mulai membuahkan hasil pada 2025. Amalia menjuarai Kejuaraan Provinsi Jawa Timur cabang kickboxing di Mojokerto, meraih peringkat ketiga cabang IBCA MMA pada Pekan Olahraga Provinsi IX Jawa Timur di Malang, serta menjadi juara Kejuaraan Provinsi Muaythai di Blitar. Ia kemudian kembali menambah daftar prestasi dengan meraih juara tiga Kejuaraan Provinsi Kickboxing di Surabaya.
Bekal pengalaman dari berbagai disiplin bela diri itu menjadi modal penting saat tampil di TJS Sabuk Wali Kota Kediri 2026. Kepercayaan diri dan kematangan teknik mengantarkannya berdiri sebagai juara di hadapan publik Kediri.
Meski baru pertama kali bertanding di Kota Kediri, Amalia mengaku memperoleh kesan yang menyenangkan. Ia bahkan menyempatkan diri menikmati suasana kota sebelum pertandingan berlangsung.
“Saya sempat berkeliling Kota Kediri. Menurut saya Kota Kediri bagus dan asri,” katanya.
Prestasi yang diraih sejak usia dini juga membuka peluang di bidang pendidikan. Berkat rekam jejak sebagai atlet, Amalia diterima di SMK melalui jalur prestasi olahraga. Kini, gelar juara TJS menjadi tambahan motivasi baginya untuk terus berkembang.
Di usia yang masih 18 tahun, Amalia belum ingin berhenti mengukir prestasi. Mimpi besarnya kini tertuju pada satu panggung yang lebih tinggi: tampil membela daerah di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
“Saya menikmati dunia bela diri dan ingin terus menekuninya. Target saya bisa lolos ke PON 2028,” ujarnya penuh optimisme.
jurnalis : Anisa Fadila



