Bukan Sekadar Adu Jotos, Tarung Juara Sejati Jadi Ikhtiar Kota Kediri Cegah Tawuran

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Di bawah sorot lampu GOR Jayabaya, dentuman sarung tinju dan riuh tepuk tangan menyatu menjadi irama yang menggugah. Namun, di balik setiap pukulan yang mendarat dan setiap ronde yang bergulir, tersimpan pesan yang jauh lebih bermakna: keberanian sejati bukanlah mencari musuh di jalanan, melainkan menaklukkan diri sendiri di atas ring.

Itulah semangat yang diusung Combat Sport Tarung Juara Sejati (TJS) Sabuk Wali Kota Kediri 2026 yang digelar Minggu (19/7). Kompetisi ini bukan sekadar panggung adu kemampuan para atlet, tetapi menjadi ruang pembinaan karakter sekaligus ikhtiar menekan potensi tawuran di kalangan generasi muda.

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menegaskan olahraga memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang sehat, tangguh, disiplin, dan berdaya saing. Menurutnya, di tengah derasnya tantangan yang dihadapi anak muda, mulai dari pengaruh lingkungan negatif hingga penyalahgunaan narkoba, olahraga menjadi jalan yang mampu mengarahkan energi mereka ke arah yang lebih positif.

“Pertandingan ini mengajarkan kegigihan, kedisiplinan, serta pengendalian diri,” ujar Vinanda.

Ia mengingatkan bahwa lawan di atas ring bukanlah musuh yang harus dibenci, melainkan rekan yang mendorong setiap atlet untuk terus berkembang. Karena itu, sportivitas, rasa hormat, dan semangat berkompetisi secara sehat harus menjadi nilai utama dalam setiap pertandingan.

Lebih jauh, Vinanda berharap ajang ini mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi yang kelak membawa nama Kota Kediri hingga ke level nasional bahkan internasional.

Semangat tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan TJS yang untuk pertama kalinya digelar di Jawa Timur. Tingginya animo peserta menjadi bukti bahwa olahraga combat sport memiliki daya tarik besar sekaligus potensi pembinaan yang menjanjikan.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Kediri Bambang Priyambodo mengatakan ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur ambil bagian dalam kejuaraan tersebut.

Namun, menurutnya, tujuan utama TJS melampaui sekadar perebutan gelar juara. Ajang ini menjadi ruang yang mempertemukan berbagai perguruan pencak silat dan elemen masyarakat dalam suasana persaudaraan.

“Yang bertarung biarlah mereka yang berada di atas ring, sedangkan kita di bawah menjadi penonton yang bersama-sama menjaga persaudaraan,” kata Bambang.

Selain memperkuat pembinaan atlet, penyelenggaraan TJS juga memberikan dampak ekonomi melalui sektor sport tourism. Kehadiran atlet beserta keluarga, pelatih, dan suporter dari berbagai daerah turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat selama kejuaraan berlangsung.

“Banyak rombongan datang dari Batu, Tulungagung, Blitar, dan daerah lainnya bersama para suporternya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Tarung Juara Sejati Imam Muhaimin menegaskan bahwa TJS lahir dari keinginan memberikan wadah positif bagi tingginya minat generasi muda terhadap olahraga tarung.

Menurutnya, ketika energi kompetitif disalurkan melalui arena yang benar, potensi konflik di luar lapangan dapat ditekan.

“Kegiatan ini juga menjadi salah satu upaya untuk menekan angka tawuran di jalanan,” katanya.

Tahun ini, TJS mempertandingkan hampir 60 partai dengan 118 peserta yang terbagi dalam kategori pemula, amatir, profesional hingga influencer. Pembinaan juga dilakukan sejak usia dini sebagai bagian dari regenerasi atlet yang berkelanjutan.

Mengusung tema “Sinergi Lintas Generasi, Mengalir dengan Inovasi, Teguh dalam Tradisi”, TJS ingin menegaskan bahwa kemenangan bukan hanya tentang siapa yang berdiri terakhir di atas ring. Lebih dari itu, kemenangan sejati adalah ketika olahraga mampu melahirkan pribadi yang disiplin, mampu mengendalikan emosi, menjunjung tinggi sportivitas, dan menjadikan persaudaraan sebagai sabuk kehormatan yang tak pernah lepas dari setiap petarung.

 

jurnalis : Anisa Fadila

✓ Link berhasil disalin