KEDIRI – Malam di Kota Kediri seolah berubah menjadi panggung kebahagiaan. Di bawah gemerlap lampu dan riuh tawa masyarakat, ribuan orang memadati kawasan Jalan Stasiun dan Jalan Dhoho untuk merayakan pesta rakyat yang menjadi penutup rangkaian pemecahan Rekor MURI kategori “Nikah Massal dalam VW Kombi Terbanyak”, Jumat (24/7) malam.
Antusiasme warga begitu tinggi. Sebanyak 2.000 voucher makan gratis yang disiapkan panitia habis dalam waktu singkat setelah diserbu pengunjung. Pesta rakyat tersebut sekaligus menjadi momen berbagi kebahagiaan bagi 53 pasangan pengantin yang telah melangsungkan akad nikah sejak pagi.
Panitia membagikan tiga kupon kepada setiap pengunjung yang dapat ditukarkan dengan beragam sajian kuliner di 17 stan UMKM yang berada di kawasan Stasiun Kediri. Aneka menu seperti nasi bakar, nasi goreng, soto, jajanan tradisional, minuman, hingga makanan khas lainnya menjadi daya tarik utama yang memanjakan ribuan warga.
Tak hanya kuliner, suasana semakin semarak dengan pertunjukan seni dan hiburan musik. Penampilan tari Gambyong membuka rangkaian acara malam itu, disusul alunan musik keroncong hingga aksi panggung grup ODGJ yang sukses menghibur sekaligus mengundang antusiasme para pengunjung.
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, mengatakan pesta rakyat tersebut merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan nikah massal yang digelar bersama komunitas Volkswagen (VW) Indonesia. Setelah prosesi akad nikah dan penyerahan Rekor MURI pada pagi hari, malam harinya masyarakat diajak turut merasakan kebahagiaan para pengantin.
“Agar pasangan yang tadi sudah menikah bisa merasakan kemeriahan acara ini bersama seluruh masyarakat Kota Kediri,” ujar Vinanda.
Menurutnya, sebagian peserta nikah massal berasal dari keluarga kurang mampu. Karena itu, Pemerintah Kota Kediri bersama komunitas VW berupaya menghadirkan momen yang berkesan agar mereka dapat menikmati hari istimewa dengan penuh kebahagiaan.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi awal lahirnya keluarga yang sejahtera, mandiri, harmonis, serta mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, berakhlak, dan berdaya saing.
Vinanda juga menegaskan pesta rakyat merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Kediri, komunitas VW, dan masyarakat. Seluruh pembiayaan kegiatan berasal dari dukungan komunitas serta berbagai pihak yang ingin berkontribusi menyukseskan acara tersebut.
“Harapannya kegiatan seperti ini bisa kembali digelar dengan konsep yang berbeda sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaatnya,” katanya.
Kemeriahan pesta rakyat juga menarik perhatian warga dari luar daerah. Salah satunya Risa, warga Tulungagung, yang sengaja datang bersama teman-temannya setelah mengetahui informasi acara melalui media sosial.
“Makanya saya sengaja datang untuk pesta rakyat. Acara ini cukup mengesankan dan sangat keren,” ujarnya.
Risa mengaku memperoleh tiga voucher makan yang dapat ditukarkan di stan UMKM. Meski gagal menikmati nasi bakar karena antrean panjang, ia tetap menikmati suasana pesta rakyat yang dinilainya mampu menghidupkan kawasan Stasiun Kediri sekaligus menjadi daya tarik wisata yang efektif untuk memperkenalkan Kota Kediri kepada masyarakat dari berbagai daerah.
Pesta rakyat tersebut pun menjadi penutup manis rangkaian nikah massal yang bukan hanya mencatatkan rekor, tetapi juga menghadirkan ruang kebersamaan antara pemerintah, komunitas, pelaku UMKM, dan masyarakat dalam satu perayaan yang penuh kehangatan.
jurnalis : Anisa Fadila



