Dugaan Penipuan PNS di Kediri, 21 Warga Setor Rp1,3 Miliar ke Oknum ASN RSUD Kilisuci

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Dugaan praktik penipuan dengan modus menjanjikan seseorang bisa diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) mencuat di Kota Kediri, Jawa Timur. Seorang aparatur sipil negara (ASN) yang berdinas di RSUD Kilisuci Kota Kediri, Nina Dwi Krisnawati (NDK), diduga menerima uang dari puluhan warga yang berharap dapat menjadi PNS.

Dari keterangan Aliansi Kadiri Raya (AKAR), sedikitnya 21 orang diduga menjadi korban dalam perkara tersebut. Total uang yang disebut telah dihimpun mencapai sekitar Rp1,3 miliar.

Kasus ini kembali mencuat setelah perwakilan AKAR mendatangi RSUD Kilisuci pada Rabu (9/9). Kedatangan mereka dilakukan atas kuasa sejumlah korban untuk meminta penjelasan mengenai uang yang telah diserahkan kepada NDK.

Namun, upaya bertemu langsung dengan NDK belum terlaksana. Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa yang bersangkutan sedang menjalani perawatan di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Informasi dari pihak internal pemerintah menyebut NDK sebelumnya telah memenuhi panggilan Inspektorat untuk memberikan keterangan terkait sejumlah persoalan yang dituduhkan kepadanya.

Bahkan, beredar informasi bahwa proses pemeriksaan terhadap NDK telah rampung dan hasilnya akan dimintakan persetujuan kepada Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, sebelum penjatuhan sanksi.

Meski demikian, informasi mengenai hasil pemeriksaan dan rencana sanksi tersebut masih perlu dikonfirmasi kepada pihak-pihak terkait.

21 Orang Diduga Menyetorkan Uang

Koordinator AKAR, Siti Isminah, mengatakan kedatangan pihaknya ke RSUD Kilisuci bertujuan meminta kejelasan mengenai aliran dana yang diduga berasal dari para korban.

“Ini satu kelompok ada 21 orang, total Rp1,3 miliar. Belum kalau ada warga lain yang kena tipu,” kata Isminah.

Menurut dia, dugaan praktik tersebut berlangsung sejak 2023 hingga sekarang. Para korban disebut berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, mulai dari lulusan SMA, D3, hingga S1.

Besaran uang yang diminta disebut bervariasi. Untuk calon korban dengan latar belakang pendidikan S1, nominal yang diminta bahkan disebut dapat mencapai Rp100 juta.

Dalam menawarkan peluang masuk PNS, NDK diduga membawa-bawa nama seorang anggota DPRD Kabupaten Kediri berinisial MH. Nama sekretaris pribadi anggota dewan tersebut juga disebut digunakan untuk meyakinkan calon korban.

Namun, menurut Isminah, keterangan mengenai pihak yang disebut dalam perkara tersebut belakangan berubah. Ketika para korban meminta penjelasan mengenai pencatutan nama MH, NDK disebut memberikan nama lain.

Isminah menuturkan, status NDK sebagai pegawai di rumah sakit milik pemerintah turut membuat sejumlah warga percaya terhadap tawaran tersebut. Dugaan pencatutan nama anggota legislatif juga disebut semakin meyakinkan para calon korban.

Korban Mengaku Setor Puluhan Juta

Salah satu warga Kecamatan Plosoklaten, Rosa, mengaku anaknya menjadi salah satu korban. Ia mengatakan telah menyerahkan uang sebesar Rp38 juta pada 16 Desember 2023 dengan harapan anaknya dapat masuk sebagai PNS.

Namun, menurut Rosa, setelah pembayaran pertama, dirinya kembali diminta menambah uang secara bertahap.

“Kemudian disuruh menambah lagi supaya jadi PNS secara bertahap. Keponakan saya juga kena,” ujarnya.

Rosa menyebut nominal pembayaran yang diminta berbeda-beda. Setoran disebut mulai dari Rp38 juta, Rp78 juta hingga Rp90 juta, bergantung pada latar belakang pendidikan calon korban.

Dugaan perkara tersebut kini menjadi perhatian Aliansi Kadiri Raya yang menyatakan akan terus mengawal kasus tersebut.

Pihak Rumah Sakit: NDK Sedang Dirawat

Sementara itu, pertemuan antara AKAR dan NDK di RSUD Kilisuci belum menghasilkan klarifikasi langsung dari pihak yang dituding.

Perwakilan AKAR ditemui Kepala Bagian Umum RSUD Kilisuci, Iswanto. Ia mengatakan pihak rumah sakit tidak bermaksud menutup-nutupi persoalan tersebut dan berupaya memfasilitasi pertemuan antara kedua pihak.

Namun, kondisi kesehatan NDK disebut belum memungkinkan untuk ditemui secara leluasa.

Menurut pihak rumah sakit, NDK masuk IGD RSUD Kilisuci pada Selasa (8/9) siang karena kondisi kesehatan yang berkaitan dengan diabetes dan hipertensi.

Pihak rumah sakit juga meminta agar NDK untuk sementara tidak ditemui karena dikhawatirkan kondisi kesehatannya semakin menurun.

Hingga berita ini ditulis, NDK belum memberikan keterangan secara langsung mengenai tudingan tersebut.

Aliansi Kadiri Raya menyatakan akan terus mengawal persoalan ini. Mereka meminta seluruh pihak yang namanya disebut dalam perkara tersebut memberikan klarifikasi dan mendorong agar dugaan praktik pengumpulan uang dengan iming-iming masuk PNS dapat ditelusuri secara transparan.

Kasus ini juga masih berupa dugaan. Kepastian mengenai ada atau tidaknya tindak pidana serta pihak yang bertanggung jawab perlu menunggu hasil pemeriksaan dan proses hukum dari pihak berwenang.

 

jurnalis : Sigit Cahya Setyawan – Nanang Priyo Basuki