KEDIRI – Tawa, semangat, dan keberanian anak-anak memenuhi halaman Kantor Kelurahan Setono Pande, Kota Kediri, saat Festival Hari Anak digelar untuk memperingati Hari Anak Nasional sekaligus memeriahkan Hari Jadi Kota Kediri ke-1147. Di balik riuhnya perlombaan, tersimpan pesan besar tentang pentingnya menghadirkan ruang nyata bagi anak-anak agar tumbuh, berinteraksi, dan berkarya di tengah derasnya arus teknologi digital.
Festival tersebut menghadirkan lomba cerdas cermat bagi siswa sekolah dasar yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan serta berbagai perlombaan antar-Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Kegiatan ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengasah kemampuan akademik, memperkuat karakter, sekaligus menumbuhkan keberanian tampil di depan publik.
Camat Kota Agus Suharyanto mengatakan, perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat anak-anak kini semakin akrab dengan penggunaan gawai. Karena itu, mereka membutuhkan lebih banyak ruang untuk berinteraksi secara langsung dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan pengaruh penggunaan gawai, anak-anak perlu diberikan ruang untuk berinteraksi, berkreasi, dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki,” ujarnya.
Menurut Agus, kegiatan seperti Festival Hari Anak menjadi salah satu cara membangun pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus memperkuat interaksi sosial anak.
Sementara itu, Lurah Setono Pande Farida Noviati menegaskan bahwa festival ini merupakan bagian dari komitmen Kelurahan Setono Pande dalam mewujudkan Kelurahan Ramah Anak. Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan tersebut diharapkan mampu membangun rasa percaya diri sekaligus memotivasi anak-anak untuk terus berprestasi.
“Kami memberikan wadah kepada anak-anak untuk berprestasi dan menumbuhkan rasa percaya diri sehingga mereka bisa menampilkan kemampuannya. Harapannya, anak-anak Setono Pande menjadi generasi yang hebat dan memiliki potensi,” kata Novi sapaan akrabnya.
Lomba cerdas cermat diikuti perwakilan dari seluruh RW dengan dua kategori, yakni kelas bawah (kelas 1–3 SD) dan kelas atas (kelas 4–6 SD). Setiap tim terdiri atas tiga peserta yang saling beradu pengetahuan dan kekompakan.
Di sisi lain, enam TPQ di Kelurahan Setono Pande turut ambil bagian dalam perlombaan wudhu, salat, serta hafalan surat-surat pendek. Kehadiran lomba keagamaan ini menjadi bentuk perhatian terhadap pembinaan karakter dan nilai spiritual anak sejak usia dini.
Kesuksesan penyelenggaraan festival juga tidak lepas dari dukungan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Syekh Wasil Kediri. Mereka terlibat aktif mendampingi pembinaan TPQ di berbagai wilayah, memberikan bimbingan belajar, hingga membantu seluruh rangkaian persiapan dan pelaksanaan kegiatan.
Novi berharap semangat yang lahir dari Festival Hari Anak tidak berhenti setelah perlombaan usai. Ia mengajak orang tua, masyarakat, dan sekolah untuk terus bersinergi menciptakan lingkungan yang mendorong anak lebih banyak berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar daripada menghabiskan waktu bersama gadget.
“Harapan kami ada peran aktif dari orang tua, masyarakat, dan sekolah sehingga anak-anak lebih banyak berinteraksi dengan keluarga dan mampu menunjukkan potensinya,” tambahnya.
Semangat itu tercermin dari antusiasme para peserta. Salah satunya Kahyang Hapsari, peserta lomba hafalan surat pendek yang mengaku telah rutin mengaji sejak masih duduk di bangku PAUD. Selama sepekan menjelang perlombaan, ia mempersiapkan diri dengan tekun.
Menurut Kahyang, tantangan terbesar bukanlah menghafal materi, melainkan mengendalikan rasa gugup saat tampil di depan banyak orang.
“Yang paling menantang itu persiapan mental karena ini pertama kali saya ikut lomba. Sebelum lomba saya deg-degan, setelah selesai alhamdulillah lega,” ungkapnya.
Ia berharap Festival Hari Anak dapat menjadi agenda rutin setiap tahun dengan persiapan yang lebih matang sehingga semakin banyak anak dapat berpartisipasi.
Semangat serupa juga disampaikan Veni Krisnawati, siswi kelas VI yang mewakili RW 3 dalam lomba cerdas cermat bersama dua rekannya. Ia mengaku bangga dapat mengikuti kompetisi tersebut karena menjadi pengalaman berharga sekaligus kesempatan memperluas wawasan.
“Saya senang dan bangga bisa ikut lomba ini. Kami belajar bersama setiap malam, dan dari lomba ini saya jadi lebih banyak mengetahui ilmu pengetahuan yang belum kami ketahui,” ujarnya.
Festival Hari Anak di Kelurahan Setono Pande menjadi gambaran bahwa masa depan tidak hanya dibangun melalui kecanggihan teknologi, tetapi juga melalui ruang-ruang kebersamaan yang menghidupkan keberanian, kreativitas, dan rasa percaya diri anak. Dukungan orang tua, sekolah, masyarakat, serta kolaborasi berbagai pihak menjadi fondasi penting agar generasi muda Kota Kediri tumbuh sebagai pribadi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.
jurnalis : Navima Aulya Sava



