KEDIRI — Studi Kenal Alam dan Lingkungan (SKAL) kembali digelar di lingkungan pendidikan Kota Kediri setelah sempat dihentikan dalam beberapa waktu. Namun, rencana pelaksanaan kegiatan tersebut kembali menuai perhatian. Sejumlah wali murid menyampaikan keluhan kepada redaksi, mulai dari persoalan biaya hingga transparansi penyelenggaraan kegiatan.
Pulau Bali kembali menjadi tujuan utama SKAL. Selain dikenal memiliki kekayaan alam dan budaya, Bali juga menjadi salah satu destinasi wisata favorit. Persoalannya, sejauh mana rangkaian perjalanan tersebut memberikan dampak edukatif bagi siswa dan benar-benar sejalan dengan konsep Studi Kenal Alam dan Lingkungan?
Pertanyaan itu muncul setelah melihat agenda perjalanan SKAL SMPN 1 Kediri yang memuat sejumlah destinasi alam, budaya, sejarah, hingga pusat oleh-oleh.
Kepala SMPN 1 Kediri, Satriyani Widyawati Rahayu, menegaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang sebagai agenda edukasi, bukan semata perjalanan wisata.
“Meski masih memakai jasa tour yang sama, namun saya pastikan kami tidak menerima pemberian dalam bentuk apa pun, baik itu uang apalagi barang,” kata Satriyani, saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu menyikapi aduan masuk ke redaksi.
Biaya SKAL Naik, Wali Murid Bertanya
Sorotan lain datang dari persoalan biaya. Pada awalnya, wali murid mendapat informasi bahwa biaya SKAL diperkirakan sekitar Rp1,6 juta per siswa ketika penerimaan rapor semester dua. Namun, memasuki tahun ajaran baru, nominal tersebut kemudian ditetapkan menjadi Rp1,8 juta.
Perubahan nominal tersebut sempat membuat sejumlah wali murid terkejut. Persoalannya, sebagian wali murid mengaku belum memperoleh penjelasan secara terbuka mengenai komponen biaya maupun alasan perubahan nominal tersebut.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan mengenai transparansi pengelolaan biaya kegiatan, terlebih SKAL melibatkan peserta didik dalam jumlah besar dan menggunakan jasa biro perjalanan.
Di sisi lain, sejumlah pelaku jasa perjalanan yang ditemui mengungkap adanya praktik pemberian insentif atau fee dalam bisnis perjalanan rombongan. Namun, pernyataan tersebut tidak serta-merta dapat dikaitkan dengan penyelenggaraan SKAL SMPN 1 Kediri tanpa adanya bukti atau keterangan dari pihak terkait.
Salah satu pemilik jasa tour di Kediri mengatakan bahwa dalam bisnis perjalanan rombongan, keuntungan tambahan dapat berasal dari pola belanja peserta di lokasi tertentu.
“Saat siswa belanja atau beli sesuatu, semakin banyak dia mengeluarkan uang, cashback yang diterima jelas makin besar,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu hal yang patut diklarifikasi lebih jauh, terutama apabila dalam sebuah perjalanan pendidikan terdapat sejumlah destinasi yang merupakan pusat oleh-oleh.
Dari Alam hingga Pusat Oleh-oleh
Berdasarkan jadwal kegiatan yang diperoleh, rangkaian perjalanan SKAL SMPN 1 Kediri mencakup sejumlah destinasi di Bali.
Perjalanan antara lain diawali dengan kunjungan ke Tanah Lot dan Desa Penglipuran. Penglipuran dikenal sebagai desa wisata yang mempertahankan tata ruang tradisional, kebersihan, adat istiadat, serta kehidupan masyarakat lokal.
Dari sisi pendidikan lingkungan dan budaya, Penglipuran memiliki relevansi yang cukup kuat. Siswa dapat melihat secara langsung bagaimana masyarakat mempertahankan lingkungan sekaligus mengembangkan sektor pariwisata.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Krisna Blangsinga di kawasan Blahbatuh, Gianyar. Kawasan ini menggabungkan daya tarik wisata alam dengan kuliner dan pusat oleh-oleh.
Di titik ini, muncul pertanyaan mengenai substansi kunjungan. Apakah siswa diarahkan untuk mempelajari lingkungan di kawasan Blangsinga atau justru lebih banyak memiliki kesempatan untuk berbelanja?
Agenda berikutnya adalah Tanjung Benoa, salah satu kawasan wisata bahari yang dikenal dengan berbagai aktivitas olahraga air. Jika siswa ingin mengikuti aktivitas tertentu, seperti menaiki perahu, biaya tambahan harus dikeluarkan secara pribadi karena tidak termasuk dalam paket SKAL.
Selanjutnya, rombongan dijadwalkan menuju Pantai Melasti di kawasan Ungasan. Pantai tersebut dikenal dengan bentang tebing kapur, panorama laut, dan pasir pantainya. Kawasan ini juga memiliki keterkaitan dengan aktivitas budaya dan keagamaan masyarakat Bali.
Pantai Melasti sebenarnya dapat menjadi ruang pembelajaran mengenai ekosistem pesisir dan pengelolaan kawasan wisata. Namun, persoalan kebersihan dan sampah di kawasan wisata menjadi isu yang juga penting untuk dilihat dalam konteks kegiatan yang mengusung nama lingkungan.
Budaya Belanja
Dari destinasi alam, perjalanan berlanjut ke Istana Kepresidenan Tampaksiring. Tempat ini memiliki nilai sejarah dan kenegaraan yang kuat sehingga dapat menjadi sarana pembelajaran sejarah Indonesia bagi siswa.
Kemudian, rombongan menuju Monumen Bajra Sandhi di Denpasar. Monumen tersebut merupakan salah satu ikon sejarah Bali yang berkaitan dengan perjuangan rakyat Bali.
Kunjungan ke lokasi ini memiliki nilai pendidikan sejarah dan nasionalisme. Namun, di kawasan wisata juga terdapat aktivitas komersial seperti jasa foto dan penjualan suvenir yang berpotensi membuat siswa kembali mengeluarkan uang pribadi.
Setelah itu, itinerary mencantumkan Krisna Kuta dan Joger Kuta, dua destinasi yang dikenal sebagai pusat oleh-oleh khas Bali.
Kedua tempat tersebut memang dapat dikaitkan dengan pembelajaran mengenai ekonomi kreatif, kewirausahaan, pemasaran, dan pengembangan produk lokal. Namun, relevansinya terhadap konsep “kenal alam dan lingkungan” menjadi layak dipertanyakan apabila sebagian besar waktu kunjungan digunakan untuk aktivitas belanja tanpa materi edukasi yang jelas.
Rangkaian perjalanan kemudian berlanjut ke Puja Mandala di Nusa Dua. Kawasan tersebut memiliki nilai edukasi yang kuat dalam memperkenalkan keberagaman kehidupan beragama di Indonesia. Dalam satu kawasan terdapat tempat ibadah dari sejumlah agama yang dapat menjadi pembelajaran langsung mengenai toleransi dan kerukunan.
Dari Puja Mandala, rombongan dijadwalkan menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK), salah satu destinasi ikonik Bali yang memadukan seni, budaya, arsitektur, dan industri pariwisata.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Seraya Budaya yang menawarkan pertunjukan seni dan budaya, sekaligus kuliner serta suvenir khas Bali. Agenda berikutnya adalah menyaksikan pertunjukan Barong, salah satu kesenian tradisional Bali yang menggambarkan pertarungan simbolis antara kebaikan dan kejahatan melalui tokoh Barong dan Rangda.
SKAL atau Study Tour?
Jika melihat keseluruhan itinerary, rangkaian kegiatan tersebut sebenarnya memiliki beragam nilai pendidikan. Ada pembelajaran tentang lingkungan, kelautan, sejarah, nasionalisme, keberagaman, budaya, seni, hingga ekonomi kreatif.
Namun, dari keseluruhan destinasi, hanya sebagian yang memiliki keterkaitan langsung dengan alam dan lingkungan, seperti Blangsinga, Tanjung Benoa, dan Pantai Melasti.
Selebihnya lebih dominan pada wisata sejarah, budaya, pertunjukan, dan pusat oleh-oleh.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan yang patut dijawab oleh penyelenggara: sejauh mana rangkaian perjalanan tersebut masih mencerminkan konsep Studi Kenal Alam dan Lingkungan, dan sejauh mana telah bergeser menjadi kegiatan yang selama ini lebih dikenal masyarakat sebagai study tour?
Pertanyaan tersebut bukan berarti menafikan nilai pendidikan dari destinasi seperti Joger, Krisna, GWK maupun objek budaya lainnya. Tempat-tempat tersebut tetap dapat menjadi ruang belajar apabila kunjungan disertai materi, observasi, penugasan, atau penjelasan yang memiliki tujuan pendidikan.
Yang menjadi persoalan adalah bagaimana memastikan bahwa siswa tidak sekadar menjadi wisatawan, tetapi benar-benar menjadi peserta didik yang mendapatkan pengalaman belajar dari setiap destinasi.
Pada akhirnya, keberhasilan SKAL semestinya tidak hanya diukur dari banyaknya lokasi yang dikunjungi. Lebih penting dari itu adalah apa yang dipelajari siswa, bagaimana kegiatan tersebut memberikan pengalaman pendidikan, serta seberapa transparan biaya dan mekanisme penyelenggaraannya kepada wali murid.
Sebab, kegiatan pendidikan yang baik bukan hanya meninggalkan kenangan perjalanan, tetapi juga meninggalkan pengetahuan, karakter, dan pengalaman yang dapat dibawa siswa pulang.



