Siswa Sibuk TikTok hingga Main Game, Wali Kota Kediri Ingatkan Pentingnya Berkarya di Era AI

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI — Di tengah kebiasaan generasi muda menghabiskan waktu dengan gawai, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengingatkan pentingnya memanfaatkan teknologi untuk belajar, berkarya, dan mengejar cita-cita. Menurutnya, kecakapan digital tidak cukup diukur dari kemampuan menggunakan aplikasi, tetapi juga dari seberapa besar teknologi membantu seseorang mengembangkan potensi diri.

Pesan tersebut disampaikan Vinanda dalam kegiatan Teach to Inspire with Mbak Wali di SMP Negeri 3 Kota Kediri, Rabu (28/10), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, kegiatan yang menjadi bagian dari program Inspiring Friday itu berlangsung interaktif dan diikuti ratusan siswa yang mengenakan busana adat Jawa berupa surjan lurik.

Dialog dimulai dengan pertanyaan sederhana tentang aktivitas yang paling sering dilakukan siswa saat menggunakan telepon genggam. Jawaban yang muncul cukup beragam, mulai dari menonton YouTube dan TikTok, bermain game, membuka Instagram dan WhatsApp, hingga berbelanja melalui Shopee.

Namun, dari berbagai jawaban tersebut, belum ada siswa yang menyebut belajar sebagai salah satu aktivitas mereka menggunakan gawai.

Momen itu dimanfaatkan Vinanda untuk mengajak para pelajar mengevaluasi kebiasaan mereka di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Ia menilai, kemudahan akses informasi, termasuk melalui kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), seharusnya menjadi peluang bagi siswa untuk meningkatkan pengetahuan dan menghasilkan karya.

“Agar bisa menggunakan teknologi untuk menghasilkan karya. Jadi, kita jangan sampai hanya menjadi pengguna, tetapi tidak bisa menciptakan karya,” pesannya.

Gawai Bisa Jadi Sarana Belajar, Bukan Sekadar Hiburan

Vinanda mengakui perkembangan teknologi telah mengubah keseharian anak-anak dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dahulu permainan tradisional seperti dakon dan ular tangga menjadi salah satu pilihan untuk mengisi waktu luang, kini telepon genggam semakin lekat dengan kehidupan pelajar.

Meski demikian, perubahan zaman bukan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab. Ia mengingatkan siswa agar mampu mengatur waktu sehingga aktivitas hiburan tidak menggeser kewajiban belajar.

Menurut Vinanda, gawai justru dapat dimanfaatkan untuk memperdalam materi pelajaran. Ketika penjelasan guru di kelas belum sepenuhnya dipahami, siswa bisa mencari referensi tambahan melalui sumber digital. Dengan cara itu, teknologi dapat membantu memperluas wawasan sekaligus mengembangkan kemampuan sesuai minat masing-masing.

Agar pemanfaatan teknologi lebih terarah, ia mendorong siswa menyusun agenda harian dan menentukan target pencapaian setiap bulan. Cita-cita, kata dia, tidak cukup hanya menjadi keinginan, tetapi perlu diperjuangkan melalui perencanaan, disiplin, dan usaha yang konsisten.

Ia mencontohkan siswa yang ingin menjadi atlet renang. Keinginan tersebut perlu disertai tahapan latihan dan target kemampuan yang terukur. Prinsip serupa juga berlaku bagi pelajar yang ingin berprestasi di bidang akademik maupun seni.

“Jangan pernah takut bermimpi. Jangan pernah takut untuk punya cita-cita,” ujar Vinanda menyemangati para siswa.

Ia menegaskan, keberanian bermimpi harus dibarengi kemauan untuk bertindak. Waktu yang dimiliki pelajar perlu dimanfaatkan untuk kegiatan yang mendukung perkembangan diri, bukan habis tanpa arah hanya untuk bermain gawai.

Ingatkan Bahaya Perundungan di Media Sosial

Selain mendorong produktivitas, Vinanda menyoroti pentingnya menjaga perilaku saat berinteraksi di ruang digital. Ia mengingatkan siswa agar tidak menggunakan media sosial untuk merundung atau menghina teman, termasuk melalui akun kedua atau second account.

Menurutnya, tindakan yang dianggap sepele oleh pelaku dapat memberikan dampak serius terhadap kondisi psikologis orang yang menjadi sasaran. Karena itu, para pelajar perlu memahami bahwa tanggung jawab dalam menggunakan teknologi tidak berhenti pada kemampuan mengakses informasi, tetapi juga mencakup sikap menghargai orang lain.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kecakapan digital perlu berjalan beriringan dengan karakter dan empati. Sikap baik di lingkungan sekolah harus tetap dijaga ketika siswa berinteraksi melalui media sosial.

Di sisi lain, Vinanda juga mengajak para pelajar melihat teknologi sebagai sarana untuk melestarikan budaya. Ia mencontohkan seorang siswa yang mempelajari keterampilan menjadi dalang melalui YouTube.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa platform digital dapat membuka akses untuk mempelajari kesenian tradisional sekaligus mengembangkan kemampuan secara mandiri. Vinanda berharap siswa lain turut memanfaatkan teknologi untuk menekuni berbagai bidang, termasuk seni dan bahasa daerah.

Ia mengapresiasi semangat siswa yang tertarik mempelajari bahasa Jawa. Menurutnya, generasi muda perlu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan kebanggaan terhadap budaya daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Vinanda juga menyampaikan penghargaan kepada para guru yang terus mendampingi dan mendidik siswa. Ia berharap pendidikan di sekolah tidak hanya menghasilkan generasi yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dan kepedulian terhadap sesama.

Inspiring Friday Tanamkan Patriotisme dan Kegigihan

Kepala SMP Negeri 3 Kota Kediri, Arnie Suhestiningsih, S.Pd., mengatakan program Inspiring Friday rutin diselenggarakan satu kali setiap bulan. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus wadah bagi warga sekolah untuk berbagi pengalaman dan saling memberikan inspirasi.

Menurut Arnie, kehadiran Vinanda melalui kegiatan Teach to Inspire memberikan motivasi tambahan bagi siswa. Namun, ia menegaskan bahwa inspirasi tidak harus selalu datang dari tokoh terkenal atau orang yang memiliki prestasi menonjol.

Setiap warga sekolah, termasuk tenaga kependidikan dan petugas yang membantu menjaga kebersihan maupun mengatur lalu lintas di lingkungan sekolah, memiliki pengalaman dan kontribusi yang dapat menjadi pelajaran bagi orang lain.

“Di sini, potensi-potensi yang ada bisa saling menginspirasi. Mereka yang masih memiliki kelemahan bisa saling menguatkan,” ungkap Arnie.

Ia menjelaskan, semangat saling menguatkan merupakan bagian dari upaya sekolah menanamkan nilai patriotisme, kegigihan, dan empati. Dalam momentum Hari Sumpah Pemuda, nilai kebangsaan diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diwujudkan melalui perilaku sehari-hari.

Bentuknya dapat dimulai dari menjaga loyalitas terhadap sekolah, meningkatkan kepedulian terhadap kondisi orang lain, hingga memberikan dukungan kepada teman yang membutuhkan bantuan.

Untuk menanamkan sikap pantang menyerah, Arnie mengajak siswa memegang teguh semboyan ARPAGA sebagai pengingat agar tidak mudah berhenti ketika menghadapi kesulitan.

“Gagal satu kali, bangkit seribu kali. Tidak ada kata menyerah,” tegasnya.

Melalui Teach to Inspire dan Inspiring Friday, SMP Negeri 3 Kota Kediri berharap peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk memperkuat karakter generasi muda. Siswa diharapkan berani menetapkan cita-cita, gigih memperjuangkannya, bijak memanfaatkan teknologi, serta memiliki empati dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, kemajuan digital tidak hanya membuat pelajar semakin akrab dengan teknologi, tetapi juga mendorong mereka menjadi generasi yang produktif, berkarakter, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan.

Jurnalis: Anisa Fadila