KEDIRI — Menguasai bahasa Inggris tanpa kehilangan identitas budaya lokal menjadi salah satu fokus pendidikan di Kota Kediri, Jawa Timur. Melalui program English Day dan Dinten Jawi, Pemerintah Kota Kediri mendorong siswa meningkatkan kemampuan komunikasi global sekaligus membiasakan penggunaan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari.
Program yang digagas Dinas Pendidikan Kota Kediri tersebut resmi diluncurkan Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati di SMP Negeri 6 Kota Kediri, Selasa (27/10). Kegiatan peluncuran turut dimeriahkan penampilan Tari Saman oleh siswa kelas VII.
Dalam program ini, setiap Rabu ditetapkan sebagai English Day, sedangkan Kamis menjadi Dinten Jawi. Pembiasaan tersebut menyasar satuan pendidikan jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, kemampuan berbahasa Inggris dan pelestarian bahasa Jawa merupakan dua hal yang perlu berjalan beriringan dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan.
Menurutnya, bahasa Inggris menjadi bekal untuk memperluas wawasan dan berkomunikasi dengan masyarakat dunia. Sementara itu, bahasa Jawa memiliki nilai penting sebagai warisan budaya yang perlu dijaga oleh generasi penerus.
“Yang satu mengajak kita untuk mengenal dunia lebih luas, sementara yang satu lagi mengingatkan kita bahwa bahasa ini merupakan warisan budaya yang harus kita jaga,” ujar Vinanda.
Ia menilai, anak-anak tidak cukup hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan akademik. Kemampuan berkomunikasi, kepercayaan diri, serta pemahaman terhadap nilai budaya juga perlu dibangun sejak dini.
Melalui English Day, siswa diharapkan semakin terbiasa menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sederhana. Adapun Dinten Jawi diarahkan untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap unggah-ungguh, tata krama, dan sikap menghormati orang lain, terutama orang yang lebih tua.
“Kita ingin anak-anak Kota Kediri terbiasa mengucapkan good morning, thank you, tetapi juga akrab dengan nuwun sewu, monggo, dan matur nuwun,” jelasnya.
Vinanda berharap kedua program tersebut menjadi sarana belajar yang menyenangkan, bukan sekadar kewajiban di lingkungan sekolah. Dengan suasana pembelajaran yang nyaman, siswa diharapkan berani mencoba, berlatih, dan tidak takut melakukan kesalahan ketika menggunakan bahasa Inggris.
Ia juga mendorong para guru untuk menghadirkan metode pembelajaran yang membuat siswa semakin percaya diri sekaligus mampu mengenalkan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Bahasa Asing Maju, Bahasa Daerah Tetap Terjaga
Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri Mandung Sulaksono menegaskan, peningkatan kemampuan bahasa asing harus tetap diimbangi dengan pelestarian bahasa daerah.
Menurut Mandung, pembiasaan berbahasa sejak usia dini menjadi langkah penting untuk mempersiapkan siswa menghadapi persaingan global tanpa meninggalkan identitas budaya mereka.
“Jangan sampai bahasa asingnya bagus, tetapi kita meninggalkan budaya atau bahasa Jawa,” tegas Mandung.
Ia menjelaskan, penerapan English Day dan Dinten Jawi akan disesuaikan dengan kesiapan masing-masing lembaga pendidikan. Dinas Pendidikan Kota Kediri berharap program tersebut dapat diikuti seluruh satuan pendidikan, baik negeri maupun swasta.
SMPN 6 Kediri Sudah Biasakan Siswa Menghafal Kosakata
Salah satu sekolah yang telah menerapkan pembiasaan bahasa Inggris adalah SMP Negeri 6 Kota Kediri melalui program Sepina English Habit.
Kepala SMP Negeri 6 Kota Kediri Budi Pramono menjelaskan, kemampuan berbahasa tidak cukup diperoleh melalui teori atau hafalan. Siswa perlu berlatih secara konsisten agar mampu menggunakan bahasa tersebut dalam komunikasi sehari-hari.
“Bahasa itu kan keterampilan. Jadi, keterampilan itu bisa sukses, bisa berhasil jika ada pembiasaan,” ujarnya.
Melalui Sepina English Habit, siswa menghafalkan 10 kosakata bahasa Inggris setiap Selasa dan Rabu pagi. Kosakata tersebut kemudian disetorkan kepada wali kelas pada Kamis.
Sekolah juga mengadakan English Battle setiap akhir bulan. Dalam kegiatan ini, siswa berpasangan untuk saling menguji penguasaan kosakata. Seorang siswa menyebutkan kata dalam bahasa Inggris, sementara pasangannya menebak arti kata tersebut. Sekolah turut memberikan apresiasi kepada kelas yang menunjukkan hasil terbaik.
Dengan hadirnya English Day, Budi berharap siswa semakin termotivasi untuk menggunakan bahasa Inggris secara aktif, bukan hanya menghafal kosakata untuk memenuhi tugas sekolah.
“Program English Day ini harapan kami akan lebih memotivasi anak-anak untuk lebih berani lagi ngomong menggunakan bahasa Inggris,” katanya.
Hampir 50 Persen Siswa Belum Fasih Bahasa Jawa
Di sisi lain, pembiasaan bahasa Jawa melalui Dinten Jawi dinilai penting untuk memperkuat karakter dan kesantunan siswa.
Budi mengungkapkan, hampir 50 persen siswa SMP Negeri 6 Kota Kediri belum mampu menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya membiasakan penggunaan bahasa daerah di lingkungan sekolah.
Melalui program Dinten Jawi, pihak sekolah berharap siswa semakin memahami penggunaan bahasa Jawa sesuai konteks, termasuk dalam menerapkan unggah-ungguh ketika berinteraksi dengan guru, orang tua, dan sesama teman.
“Harapan kami nanti tata krama dan budi pekertinya akan lebih santun lagi,” ungkapnya.
SMP Negeri 6 Kota Kediri saat ini memiliki 1.247 siswa. Bagi Budi, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari nilai rapor, tetapi juga dari perkembangan kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual siswa.
Karena itu, pembiasaan bahasa Inggris dan bahasa Jawa diharapkan memberikan manfaat lebih luas daripada sekadar meningkatkan kemampuan berbahasa. Program tersebut juga diharapkan menumbuhkan rasa percaya diri, kesantunan, dan kepedulian terhadap budaya lokal.
Melalui penerapan English Day setiap Rabu dan Dinten Jawi setiap Kamis, Kota Kediri berupaya menyiapkan generasi muda yang mampu beradaptasi dengan perkembangan global tanpa melupakan akar budayanya.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pembiasaan tersebut berjalan konsisten di seluruh satuan pendidikan sehingga kemampuan berbahasa asing dan pelestarian bahasa daerah dapat berkembang secara seimbang.
Jurnalis: Anisa Fadila



