KEDIRI — Lahan di lingkungan SMAN 1 Kota Kediri kini tak lagi sekadar ruang terbuka. Melalui Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP), area sekolah disulap menjadi kawasan hijau produktif yang berfungsi ganda.
Sebagai media pembelajaran, penguatan kemandirian pangan, sekaligus bagian dari penilaian akademik siswa. Program ini dikonfirmasi pada Rabu (4/2).
Kepala SMAN 1 Kediri, Arif Syah Putra, M.Pd., menuturkan bahwa SIKAP dirancang sebagai pembelajaran kontekstual yang menjembatani teori di ruang kelas dengan praktik nyata di lapangan.
Siswa tidak hanya mempelajari konsep ketahanan pangan melalui buku, tetapi mengalaminya secara langsung lewat pengelolaan kebun dan perikanan sekolah.
“Program ini bukan hanya sarana edukasi, tetapi juga upaya mengoptimalkan lahan sekolah agar lebih produktif dan bernilai,” ujarnya.
Peran Strategis

Arif menjelaskan, kebun sekolah memiliki peran strategis dalam sistem evaluasi siswa. Setiap keterlibatan siswa dalam merawat tanaman dicatat dan dinilai secara berkelanjutan. Aktivitas di luar kelas pun memiliki kontribusi nyata terhadap capaian akademik.
“Hasil perawatan tanaman tersebut diakumulasi menjadi nilai pada akhir semester sebagai bagian dari penilaian akademik siswa,” imbuhnya.
Skema penilaian ini terintegrasi dalam kegiatan kokurikuler yang menghubungkan pembelajaran di dalam dan luar kelas. Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya diasah pengetahuannya, tetapi juga dibentuk karakternya—mulai dari tanggung jawab, kerja sama, hingga kepedulian terhadap lingkungan.
Sejalan dengan hal itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana sekaligus penanggung jawab Program SIKAP, Nyoto Pujiadi, menyampaikan bahwa integrasi kebun sekolah dengan sistem penilaian mendorong siswa lebih disiplin dan aktif.
“Perawatan dilakukan secara rutin melalui sistem piket kelas. Secara tidak langsung, ini melatih siswa untuk bertanggung jawab dan konsisten dalam merawat tanaman,” jelasnya.
Dalam praktiknya, perawatan kebun melibatkan satu petugas kebun bersama para siswa. Mereka secara bergiliran membersihkan gulma, menyiram, dan memupuk tanaman sesuai jadwal. Setiap kelas mengelola satu petak lahan yang jenis tanamannya disesuaikan dengan minat siswa.
Pembagian lahan diatur oleh sekolah, sementara pemilihan tanaman diserahkan kepada masing-masing kelas. Secara umum, tanaman yang dibudidayakan terbagi dalam tiga kategori utama: tanaman toga, sayuran, dan buah-buahan.
Beragam komoditas tumbuh di kebun sekolah, mulai dari jeruk, kelengkeng, alpukat, belimbing, pepaya, cabai, kenikir, kemangi, kangkung, kacang panjang, bawang prei, bayam Brasil, jahe, sereh, kunyit, hingga temulawak.
Saat ini, luas kebun mencapai sekitar 40 x 15 meter dan masih terus dikembangkan. Selain itu, sekolah juga mengelola kolam ikan lele dan nila seluas kurang lebih 60 x 30 meter yang diisi ribuan ikan. Hasil kebun dan perikanan tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan internal sekolah, termasuk kegiatan makan bersama warga sekolah.
Manfaat Program SIKAP dirasakan langsung oleh para siswa. Raisa, siswi kelas X-C SMAN 1 Kediri, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut.
Menurutnya, kebun sekolah bukan sekadar tugas tambahan, melainkan ruang belajar yang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kebanggaan.
“Lewat program ini, kami belajar mengenal berbagai jenis tanaman yang biasa ditemui di perkebunan rumahan sekaligus cara perawatannya,” tuturnya.
Bersama teman sekelasnya, Raisa menanam dan merawat lidah buaya. Setiap hari mereka memantau kondisi tanaman, mencabut rumput liar, serta memberi pupuk sesuai jadwal piket.
Melalui Program SIKAP, SMAN 1 Kediri tidak hanya menanam tanaman, tetapi juga menanam nilai. Ketahanan pangan dibangun sejak bangku sekolah, seiring dengan tumbuhnya karakter siswa yang disiplin, mandiri, dan peduli terhadap lingkungan.









