KEDIRI – Viral di media sosial, potongan video yang menampilkan suasana hajatan keluarga pengusaha lokal, Sanjaya, memicu polemik dan persepsi negatif di tengah masyarakat. Video tersebut dinilai tidak merepresentasikan kejadian sebenarnya dan dianggap merugikan nama baik keluarga.
Menanggapi hal itu, Sanjaya menggelar konferensi pers di hadapan puluhan jurnalis untuk memberikan klarifikasi atas narasi yang berkembang. Ia menegaskan bahwa momen akad nikah hingga resepsi keluarga berlangsung khidmat dan jauh dari kesan yang beredar di media sosial.
“Yang beredar itu hanya potongan video yang tidak utuh, sehingga menimbulkan tafsir berbeda,” ujarnya.
Menurut Sanjaya, cuplikan yang viral memperlihatkan bagian pertunjukan wayang kulit bersama dalang Ki Budi Gareng. Namun, video tersebut telah melalui proses penyuntingan yang menghilangkan konteks utuh acara.
Ia juga meluruskan informasi terkait karangan bunga ucapan selamat yang sempat menjadi sorotan. Sanjaya memastikan, seluruh karangan bunga yang berjumlah sekitar 38 tersebut merupakan kiriman asli dari relasi, termasuk sejumlah tokoh nasional.
“Kami pastikan itu kiriman resmi dari relasi, bukan dibuat-buat,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kedekatannya dengan sejumlah tokoh tidak terjadi secara instan, melainkan terbangun dari keterlibatannya dalam berbagai kegiatan dan agenda resmi sebelumnya.
Terkait gaya bahasa yang sempat dipersoalkan publik dalam video, Sanjaya mengakui hal tersebut merupakan kebiasaan sehari-hari yang dipengaruhi latar belakangnya di lingkungan pekerja lapangan. Ia menegaskan tidak ada niat untuk merendahkan pihak mana pun.
“Bahasa itu sudah melekat, bukan untuk menyinggung siapa pun,” katanya.
Adapun momen pengambilan mikrofon yang turut menjadi sorotan, ia menjelaskan hal tersebut dipicu oleh ketidaksesuaian lagu yang diputar dengan permintaan anaknya. Ia menekankan bahwa penyampaian tersebut tetap dilakukan secara santun.
Pihak keluarga menambahkan, sejumlah bagian penting dalam video tidak ikut tersebar. Padahal, menurut mereka, bagian tersebut dapat memberikan gambaran utuh dan menghindarkan kesalahpahaman.
Atas kejadian ini, Sanjaya mengimbau masyarakat untuk tidak terburu-buru menyimpulkan suatu peristiwa hanya dari potongan video. Ia berharap publik dapat menyaring informasi secara lebih bijak dan menyeluruh.
Ia juga menyadari bahwa perhatian dan kritik publik merupakan hal yang tidak terpisahkan, terlebih di era digital. Namun, ia berharap klarifikasi ini dapat meluruskan persepsi yang berkembang.
“Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin,” ujarnya.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa arus informasi di media sosial kerap membutuhkan verifikasi lebih lanjut, agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran yang berujung pada kerugian pihak tertentu.









