KEDIRI — Kabar itu datang seperti petir di siang bolong bagi keluarga Anang Sularso. Pria 32 tahun asal Desa Bogem, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri itu sebelumnya hanya dianggap belum pulang seperti biasa. Tak ada firasat buruk, apalagi tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang tragis.
Namun, harapan itu runtuh pada Kamis (9/4/2026). Anang ditemukan tak bernyawa di aliran Sungai Megaluh, Kabupaten Jombang, dalam kondisi mengenaskan.
Awalnya, identitas korban belum diketahui. Kepolisian setempat hanya memastikan adanya penemuan jenazah pria dengan luka serius di bagian wajah dan leher. Baru setelah koordinasi dengan perangkat desa dan keluarga, kepastian itu terungkap—jasad tersebut adalah Anang.
Kepala Dusun Bogem Utara, Aris Setyo Basuki, menjadi salah satu pihak yang pertama kali menjembatani kabar duka itu kepada keluarga.
“Saya diminta memastikan ke keluarga. Setelah dicocokkan dengan foto dan ciri-ciri, keluarga meyakini itu Anang,” ujarnya.
Kepastian itu semakin menguat saat keluarga melihat langsung jenazah di rumah sakit. Meski kondisi tubuh telah berubah, tanda-tanda fisik yang dikenali menjadi bukti yang tak terbantahkan.
Beberapa hari sebelumnya, Anang diketahui sudah tidak pulang ke rumah sejak Jumat. Tidak ada pesan, tidak ada kabar. Kepergiannya meninggalkan tanda tanya yang kini berubah menjadi duka mendalam.
Dari informasi yang dihimpun, korban mengalami luka serius di bagian kepala, terutama di pelipis, yang diduga akibat sabetan senjata tajam. Sementara bagian tubuh lain tidak menunjukkan luka mencolok.
“Lukanya cukup parah di bagian kepala,” kata Aris.
Di tengah kesedihan, keluarga juga dihadapkan pada kejanggalan lain. Barang-barang milik korban, seperti sepeda motor dan telepon genggam, tidak ditemukan di lokasi kejadian.
Bagi kakak korban, Agus Setyono, kehilangan ini terasa begitu mendadak. Ia menggambarkan sosok Anang sebagai pribadi yang tertutup dan jarang berbagi cerita, bahkan kepada keluarga sendiri.
“Kami kaget. Tidak pernah cerita punya masalah,” ujarnya lirih.
Jenazah Anang akhirnya dipulangkan ke kampung halaman dan dimakamkan pada Jumat dini hari. Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman, diiringi doa dan harapan agar kebenaran segera terungkap.
Sementara itu, pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan. Kapolsek Gurah, AKP Ardian Wahyudi, membenarkan bahwa korban merupakan warganya, namun penanganan kasus berada di wilayah hukum Polres Jombang.
Hingga kini, misteri di balik kematian Anang masih belum terpecahkan. Di antara aliran sungai yang tenang, tersimpan pertanyaan besar—apa yang sebenarnya terjadi pada pria yang pergi tanpa pamit itu.









