Ketika Koperasi Lama Terancam Hilang, Dekopinda Kota Kediri Pilih Merawat daripada Mematikan

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, koperasi-koperasi yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat Kota Kediri dihadapkan pada persimpangan. Sebagian menghadapi persoalan regulasi, tekanan persaingan, hingga tantangan beradaptasi dengan teknologi digital.

Namun, bagi Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kota Kediri, jalan keluar tidak semestinya selalu berujung pada pembubaran.

Ada koperasi yang mungkin sedang melemah. Ada yang tak lagi aktif. Ada pula yang masih menyimpan potensi untuk kembali tumbuh jika persoalannya dipetakan dan dibina dengan tepat.

Semangat itulah yang mengemuka dalam Pengukuhan Pimpinan Dekopinda Kota Kediri Masa Jabatan 2025-2030 sekaligus Tasyakuran Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026 di Insumo Kediri Convention Center (IKCC), Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan berlangsung dalam suasana perayaan gerakan koperasi. Penampilan karawitan ibu-ibu gerakan koperasi Kelurahan Ngronggo dan Tari Lenggang Surabaya membuka rangkaian acara sebelum prosesi pengukuhan pimpinan Dekopinda Kota Kediri.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pengucapan sumpah dan penyerahan bendera Koperasi Indonesia.

Di balik seremoni tersebut, terselip pekerjaan rumah yang jauh lebih besar: bagaimana memastikan koperasi tetap hidup, relevan, dan mampu bersaing ketika lanskap ekonomi terus berubah.

Pengukuhan Bukan Sekadar Seremoni

Ketua Dekopinwil Jawa Timur, H. Slamet Sutanto menegaskan, pengukuhan kepengurusan baru bukan sekadar pergantian atau seremoni organisasi. Momentum tersebut merupakan awal dari tanggung jawab untuk memperkuat gerakan koperasi.

Koperasi, menurutnya, harus tetap berdiri sebagai gerakan ekonomi bersama dan tidak ditarik ke dalam kepentingan politik.

Pesan itu menjadi penting karena koperasi menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan regulasi, persaingan dengan sektor swasta, dan perkembangan teknologi digital menjadi tiga persoalan yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

“Pimpinan yang berkuasa harus mampu menjawab tantangan yang sulit ini,” ujarnya.

Ketiga tantangan tersebut juga tidak dapat diselesaikan secara terpisah. Koperasi membutuhkan strategi agar mampu menghadapi kompetisi sekaligus memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pelayanan dan tata kelola.

Dalam kondisi tersebut, keberadaan Dekopin dinilai memiliki peran penting melalui fungsi advokasi, edukasi, dan fasilitasi.

Penguatan sumber daya manusia, komunikasi, digitalisasi, serta strategi menghadapi persaingan menjadi bagian yang harus diperkuat agar koperasi tetap memiliki posisi sebagai salah satu pilar ekonomi.

Koperasi Lama Jangan Sampai Tersisih

Salah satu perhatian utama dalam momentum Hari Koperasi ke-79 adalah keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai program strategis nasional.

Kehadiran program baru tersebut dinilai perlu berjalan beriringan dengan keberadaan koperasi yang lebih dahulu tumbuh di masyarakat.

Pesannya sederhana: jangan sampai lahirnya koperasi baru justru membuat koperasi lama kehilangan tempat.

Koperasi yang selama bertahun-tahun hidup bersama masyarakat, termasuk yang pernah tumbuh melalui dukungan dan hibah pemerintah, dinilai tetap memiliki nilai dan potensi yang perlu diperhatikan.

Karena itu, penguatan gerakan koperasi tidak semestinya dilakukan dengan mengabaikan koperasi yang telah ada.

Justru, koperasi lama perlu dilihat kembali kondisinya. Mana yang masih aktif, mana yang menghadapi kendala, mana yang masih memiliki potensi, dan mana yang membutuhkan pendampingan.

Sejumlah Koperasi Terancam Dibubarkan

Persoalan tersebut menjadi semakin serius karena terdapat sejumlah koperasi di Kota Kediri yang disebut terancam dibubarkan. Dekopinda meminta persoalan itu tidak disimpulkan secara tergesa-gesa. Sebelum menentukan nasib sebuah koperasi, perlu diketahui terlebih dahulu akar persoalannya.

Sebab, setiap koperasi dapat memiliki masalah yang berbeda. Ada yang mungkin berkaitan dengan regulasi. Ada yang kesulitan menghadapi persaingan. Ada pula yang menghadapi persoalan internal. Karena itu, pendekatan yang seragam dinilai tidak selalu tepat.

Pemetaan menjadi langkah awal yang dianggap penting untuk mengetahui kondisi masing-masing koperasi. Dari sana, langkah pembinaan atau penyelesaian dapat ditentukan berdasarkan kebutuhan dan persoalan yang benar-benar dihadapi.

“Kalau kita tidak cepat tanggap menghadapi tiga hal ini, saya yakin koperasi ini tidak akan menjadi satu pilar ekonomi yang ditinggalkan dibanding yang lain,” tegasnya.

Dekopinda Pilih Merawat, Bukan Mematikan

Pesan tersebut kemudian menjadi tantangan bagi kepengurusan baru Dekopinda Kota Kediri. Ketua Dekopinda Kota Kediri, Dra. Firdaus, menegaskan bahwa koperasi yang telah tumbuh di masyarakat perlu mendapatkan perhatian. Terlebih, sebagian koperasi tersebut pada masa sebelumnya berdiri dengan dukungan dan hibah pemerintah.

Karena itu, pembinaan dan pemetaan persoalan dinilai lebih penting dilakukan sebelum mengambil keputusan terhadap keberlangsungan sebuah koperasi. Koperasi yang masih memiliki potensi perlu dirawat. Koperasi yang menghadapi masalah perlu dicari akar persoalannya. Sementara koperasi yang tidak aktif perlu diketahui lebih dahulu apa yang membuat roda organisasinya berhenti.

Dengan cara itu, keputusan yang diambil tidak sekadar berdasarkan kondisi di atas kertas, tetapi berangkat dari persoalan nyata di lapangan.

“kita akan mapping, mungkin pendekatan terlebih dahulu kepada dinas dan setelah itu karena kita ada advokasi sehingga kita turun pasti ke masyarakat. Itu sejauh mana problem yang ada di koperasinya masing-masing,” ungkap Kak Ido sapaan akrabnya.

Hasil pemetaan tersebut nantinya akan menjadi pijakan bagi Dekopinda dalam menentukan langkah pembinaan maupun penyelesaian. Koordinasi dengan dinas terkait akan dilakukan, termasuk peninjauan langsung ke lapangan bersama DPRD Kota Kediri.

Anak Muda Jadi Kunci Regenerasi Koperasi

Menjaga koperasi tetap hidup tidak hanya berbicara tentang menyelamatkan organisasi yang sudah ada. Ada persoalan lain yang tak kalah penting: siapa yang akan meneruskan gerakan koperasi di masa depan? Dekopinda Kota Kediri melihat generasi muda sebagai bagian penting dari jawaban tersebut.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi, koperasi mahasiswa, organisasi mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakat disiapkan untuk memperkenalkan koperasi kepada kalangan anak muda.

“Kita nantinya akan berkolaborasi, memelekkan bagaimana kita ini bisa mau masuk ke dalam koperasi,” ujarnya, yang juga menjabat Ketua DPRD Kota Kediri.

Regenerasi menjadi kebutuhan agar koperasi tidak hanya bertahan dengan pola lama. Generasi muda diharapkan dapat membawa cara pandang baru, termasuk dalam memanfaatkan teknologi dan membaca perubahan pola ekonomi.

Koperasi yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman memiliki peluang lebih besar untuk tetap relevan. Sebaliknya, koperasi yang tidak beradaptasi berisiko semakin tertinggal di tengah persaingan.

Tiga Tantangan yang Harus Dijawab

Dalam penguatan koperasi di Kota Kediri, setidaknya ada tiga tantangan besar yang menjadi perhatian. Pertama, regulasi. Perubahan aturan menuntut koperasi untuk mampu mengikuti ketentuan yang berlaku sekaligus memahami dampaknya terhadap operasional organisasi.

Kedua, persaingan usaha. Koperasi harus memiliki strategi agar mampu memberikan layanan dan nilai yang tetap kompetitif di tengah perkembangan sektor swasta.

Ketiga, digitalisasi. Teknologi bukan lagi sekadar pilihan tambahan. Koperasi perlu melihat perkembangan digital sebagai bagian dari upaya meningkatkan pelayanan dan pengelolaan organisasi.

Ketiganya saling berkaitan. Koperasi yang mampu memahami regulasi, memperkuat daya saing, dan beradaptasi dengan teknologi akan memiliki modal lebih baik untuk bertahan.

Namun, kemampuan tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang memadai. Di titik inilah fungsi edukasi, advokasi, fasilitasi, dan komunikasi menjadi penting.

Menjaga yang Lama, Membuka Jalan bagi yang Baru

Peringatan Hari Koperasi ke-79 di Kota Kediri akhirnya membawa pesan yang lebih  luas daripada sekadar perayaan tahunan. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk menyambut perkembangan dan program koperasi baru. Di sisi lain, ada tanggung jawab untuk memastikan koperasi yang sudah lama tumbuh tidak hilang begitu saja.

Keduanya tidak harus dipertentangkan. Koperasi baru dapat berkembang, sementara koperasi lama tetap diberi ruang untuk berbenah dan tumbuh kembali. Kuncinya adalah pemetaan, pembinaan, penguatan sumber daya manusia, serta keberanian untuk turun langsung melihat persoalan di lapangan.

Dengan pendekatan tersebut, koperasi tidak sekadar dipertahankan sebagai nama atau lembaga, tetapi dihidupkan kembali sebagai gerakan ekonomi yang dekat dengan masyarakat. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pemotongan tumpeng.

Acara tersebut dihadiri jajaran Forkopimda, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja, Dekopinwil Jawa Timur, Dekopinda se-Kediri Raya, Blitar, Nganjuk, dan Tulungagung, perguruan tinggi, organisasi mahasiswa, kepala kelurahan, serta para penggerak koperasi di Kota Kediri.

Bagi kepengurusan baru Dekopinda Kota Kediri, perjalanan lima tahun ke depan bukan sekadar menjaga sebuah organisasi tetap berdiri. Ada koperasi yang perlu dipetakan. Ada yang harus dibina. Ada yang perlu didorong untuk kembali bergerak.

Dan di tengah perubahan zaman, ada satu pekerjaan yang tidak kalah penting: memastikan koperasi yang telah tumbuh bersama masyarakat tidak padam sebelum sempat menemukan cara baru untuk bertahan.

Jurnalis: Anisa Fadila